Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Mohammad Hatta Wakil Presiden Pertama Indonesia Yang Luar Biasa

Mohammad Hatta [Sumber Gambar]
Mohammad Hatta atau yang kerap disapa dengan panggilan "Bung Hatta" yang dikenal sebagai salah satu pahlawan nasional dan tokoh proklamator yang bersama presiden soekarno membawa indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaan negara kerakyatan republik Indonesia.

Dr. Drs. H. Mohammad Hatta bersama Dr. Ir. H. Soekarno memainkan peranan yang sangat penting untuk kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda sekaligus memproklamasikannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Moh Hatta juga perna menjabat sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Hatta 1, Hatta 2, dan RIS singkatan dari Kabinet Republik Indonesia Serikat. Mohammad Hatta adalah seorang tokoh yang dikenal memiliki sifat yang sangat bersahaja dan menyukai kehidupan yang sederhana.

Peran dari Mohammad Hatta dalam usahanya untuk merintis dan membawa Indonesia merdeka sangat besar. Oleh karena itu tak heran banyak yang menjadikan sosok Bung Hatta sebagai idolanya

baik di Indonesia maupun mancanegara. Bung Hatta juga dikenal sebagai bapak koperasi Indonesia.

Biodata Mohammad Hatta


  • Nama : Dr. Drs. H. Mohammad Hatta
  • Lahir : Bukittinggi, 12 Agustus 1902
  • Wafat : Jakarta, 14 Maret 1980
  • Agama : Islam
  • Orang Tua : Muhammad Djamil (ayah), Siti Saleha (ibu)
  • Istri : Rahmi Rachim
  • Anak : Meutia Hatta, Halida Hatta, Des Alwi, Gemala Hatta
  • Pendidikan : Universitas Erasmus Rotterdam Belanda

Latar Belakang Mohammad Hatta

Mohammad Hatta lahir dari pasangan Muhammad Djamil dan Siti Saleha yang berasal dari Minangkabau. Ayahnya merupakan seorang keturunan ulama tarekat di Batuhampar, dekat Payakumbuh, Sumatera Barat. Sedangkan Siti Saleha ibunya berasal dari keluarga pedagang di Bukittinggi.

Bung Hatta dilahirkan dengan nama Muhammad Athar pada tanggal 12 Agustus tahun 1902. Nama Mohammad Athar berasal dari Bahasa Arab, yang memiliki arti "harum".Ia merupakan anak kedua, setelah kakak nya yang bernama Rafiah yang lahir pada tahun 1900. Sejak kecil, Mohammad Athar telah dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat melaksanakan ajaran agama Islam.

Kakeknya dari pihak ayah, bernama Abdurahman Batuhampar yang dikenal sebagai ulama pendiri Surau Batuhampar, sedikit dari surau di batuhampar yang dapat bertahan pasca terjadinya Perang Padri. Sementara itu, ibunya berasal dari keturunan pedagang.

Ayahnya meninggal pada saat Mohammad Athar atau Bung Hatta masih berumur tujuh bulan. Setelah kematian Muhammad Djamil ayahnya, ibunya kemudian menikah dengan Agus Haji Ning, yang merupakan seorang pedagang dari Palembang.

Haji Ning sering berhubungan dagang dengan Ilyas Bagindo Marah, kakeknya dari pihak ibu. Dari perkawinan Siti Saleha dengan Haji Ning, mereka dikaruniai empat orang anak, yang semuanya adalah perempuan.

Pendidikan Dan Pergaulan Moh Hatta

Mohammad Hatta pertama kali mengenyam pendidikan formal di sekolah swasta. Setelah enam bulan, Bung Hatta pindah ke sekolah rakyat dan sekelas dengan Rafiah, kakaknya. Namun, pelajarannya berhenti pada pertengahan semester kelas tiga, lalu kemudian pindah ke ELS yaitu (Europeesche Lagere School) adalah Sekolah Dasar pada zaman kolonial Hindia Belanda di Padang (kini SMA Negeri 1 Padang) sampai tahun 1913, kemudian melanjutkan ke MULO sampai tahun 1917.

Selain pengetahuan umum, Moh Hatta telah ditempa dengan ilmu-ilmu agama sejak kecil. Ia pernah belajar agama kepada Muhammad Jamil Jambek, Abdullah Ahmad, dan beberapa ulama lainnya. Selain keluarga, perdagangan memengaruhi perhatian Hatta terhadap perekonomian.

Di Padang, Mohammad Hatta mengenal berbagai pedagang-pedagang yang masuk dalam anggota Serikat Usaha dan juga aktif dalam Jong Sumatranen Bond sebagai bendahara. Kegiatannya ini tetap dilanjutkannya ketika ia bersekolah di Prins Hendrik School. Mohammad Hatta tetap menjadi bendahara di Jakarta.

Keluarga Moh Hatta

Mohammad Hatta menikah dengan Rahmi Hatta pada 18 November 1945, dan tiga hari setelah menikah, mereka bertempat tinggal di Yogyakarta. Kemudian, dikarunai 3 anak perempuan yang bernama Meutia Farida Hatta, Gemala Rabi'ah Hatta, dan Halida Nuriah Hatta.

Anak Pertamanya Meutia Farida Hatta adalah seorang ahli antropologi dan politikus Indonesia yang menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 2010 hingga 2014.

Gemala Rabi'ah Hatta adalah putri kedua dari mantan Wakil Presiden RI yang pertama, Mohammad Hatta dan Rachmi Hatta. Sejak 1976 sampai sekarang bekerja sebagai PNS di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pangkat dan golongan ruang Pembina Utama Muda/IV C-Lektor, eselon II A. Kini Gemala Hatta menjabat sebagai Presiden Alumni APEC Women Information Community untuk 16 negara.

Halida Nuriah Hatta adalah bungsu dari tiga putri Proklamator Kemerdekaan RI dan Wakil Presiden Indonesia pertama, Dr. Mohammad Hatta dan iSiti Rahmiati Hatta. karirnya dimulai sebagai asisten dosen Studi Ilmu Politik pimpinan Prof.Miriam Budiardjo di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Melangkah sebagai profesional di perusahaan swasta, Halida bekerja di PT Caltex Pacific Indonesia (1984-1986; 1991-1995) sebagai analyst sosial-politik dan sosial-ekonomi di bawah Government and Public Relations Dept,; yang kemudian disebut Government Affairs.

Moh Hatta Menjadi Wakil Presiden Pertama Di Indonesia

Pada 17 Agustus 1945, hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh rakyat Indonesia dari Sabang  sampai Merauke, Bung Hatta bersama dengan Ir. Soekarno resmi memproklamasikan kemerdekaan di Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pukul 10.00 WIB. Dan pada keesokan harinya pada tanggal 18 Agustus 1945, dia resmi dipilih sebagai Wakil Presiden RI yang pertama mendampingi Presiden Soekarno.

Selama menjadi Wakil Presiden Indonesia, Bung Hatta amat gigih bahkan dengan nada sangat marah, beliau menyelamatkan Republik Indonesia dengan mempertahankan naskah hasil perjanjian Linggarjati di Sidang Pleno KNIP di Malang yang diselenggarakan pada tanggal 25 Februari sampai 6 Maret 1947 dan hasilnya Persetujuan Linggajati diterima oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Kemudian, Bung Hatta dengan kewibawaannya sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia hendak memperjuangkan sampai berhasil Perjanjian Renville dengan berakibat jatuhnya Kabinet Amir dan digantikan oleh Kabinet Hatta. Pada era Kabinet Hatta yang dibentuk pada tanggal 29 Januari tahun 1948, Bung Hatta menjadi Perdana Menteri dan merangkap jabatan sebagai Menteri Pertahanan.

Perjanjian Renville adalah sebuah perjanjian yang dilakukan antara Indonesia dengan Belanda yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral USS Renville, yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Perundingan dimulai pada tanggal 8 Desember 1947 dan ditengahi oleh Komisi Tiga Negara (KTN), Committee of Good Offices for Indonesia, yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia.

Indonesia harus mempertahankan kemerdekaannya dari usaha Pemerintah Belanda yang ingin menjajah kembali. Pemerintah Republik Indonesia pindah dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua kali perundingan dengan Belanda menghasilkan Perjanjian Linggarjati dan Perjanjian Reville, tetapi selalu berakhir dengan kegagalan akibat kecurangan pihak Belanda.

Suasana panas waktu timbul Pemberontakan PKI Madiun dalam bulan September 1948, memuncak pada penyerbuan tentara Belanda ke Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Bung Hatta bersama Bung Karno diangkut oleh tentara Belanda pada hari itu juga. Pada tahun yang sama, Bung Hatta bersama Bung Karno diasingkan ke Menumbing, Bangka.

Beberapa waktu setelah pengasingan karena mengalami adanya sebuah perundingan Komisi Tiga Negara (KTN) di Kaliurang, di mana Critchley datang mewakili Australia dan Cochran mewakili Amerika. Pada Juli 1949, terjadi kemenangan Cochran dalam menyelesaikan perundingan Indonesia.

Pada tahun itu juga, terjadilah sebuah perundingan penting, yang disebut Konferensi Meja Bundar atau (KMB) yang diadakan di Den Haag, sesudah berunding selama 3 bulan, pada tanggal 27 Desember 1949 yang menyatakan kedaulatan NKRI telah mutlak untuk selamanya.

Ratu Juliana memberi tanda pengakuan Belanda atas kedaulatan negara Indonesia tanpa syarat kecuali Irian Barat yang akan dirundingkan lagi dalam waktu setahun setelah Pengakuan Kedaulatan kepada Bung Hatta yang bertindak sebagai Ketua Delegasi Republik Indonesia di Amsterdam dan di Jakarta.

Bung Hatta juga aktif dalam kegiatan membimbing gerakan koperasi untuk melaksanakan cita-cita dalam konsepsi ekonominya. Pada tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta mengucapkan pidato radio untuk menyambut Hari Koperasi di Indonesia.

Karena berkat jasa dan besarya aktivitas yang diberikan oleh Bung Hatta dalam gerakan koperasi di indonesia, maka pada tanggal 17 Juli 1953 Mohammad Hatta diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada Kongres Koperasi Indonesia yang dilaksanakan di Bandung. Pikiran-pikiran dari Bung Hatta mengenai koperasi antara lain dituangkan dalam buku karyanya yang berjudul Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971).

Pada tahun 1955, Mohammad Hatta membuat pernyataan bahwa bila parlemen dan konstituante pilihan rakyat sudah terbentuk, Bung Hatta akan mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Menurutnya, dalam negara yang mempunyai kabinet parlementer, Kepala Negara adalah sekadar simbol saja, sehingga Wakil Presiden tidak diperlukan lagi.

Pada tanggal 20 Juli 1956, Mohammad Hatta menulis sepucuk surat kepada Ketua DPR pada saat itu, yang di jabat oleh Sartono yang isinya antara lain, "Merdeka, Bersama ini saya beritahukan dengan hormat, bahwa sekarang, setelah Dewan Perwakilan Rakyat yang dipilih rakyat mulai bekerja, dan Konstituante menurut pilihan rakyat sudah tersusun, sudah tiba waktunya bagi saya untuk mengundurkan diri sebagai wakil presiden. Segera, setelah Konstituante dilantik, saya akan meletakkan jabatan itu secara resmi.".

DPR kemudian menolak secara halus permintaan dari Mohammad Hatta tersebut, dengan cara mendiamkan surat tersebut. Kemudian, pada tanggal 23 November 1956, Bung Hatta menulis surat susulan yang isinya sama, bahwa tanggal 1 Desember 1956, dia akan berhenti sebagai Wakil Presiden RI.

Akhirnya, pada sidang DPR pada 30 November 1956, DPR menyetujui permintaan Mohammad Hatta untuk mengundurkan diri dari jabatan sebagai Wakil Presiden, jabatan yang telah dipegangnya selama 11 tahun.

Sesudah Bung Hatta meletakkan jabatannya sebagai Wakil Presiden RI, beberapa gelar akademis juga diperolehnya dari berbagai perguruan tinggi. Universitas Padjadjaran di Bandung mengukuhkan Bung Hatta sebagai guru besar dalam ilmu politik perekonomian.

Pada tahun 1960 Bung Hatta menulis “Demokrasi Kita” dalam majalah Pandji Masyarakat. Sebuah tulisan yang terkenal karena menonjolkan pandangan dan pikiran Bung Hatta mengenai perkembangan demokrasi di Indonesia waktu itu. Dalam masa pemerintahan Orde Baru, Bung Hatta lebih merupakan negarawan sesepuh bagi bangsanya daripada seorang politikus.

0 Response to "Mohammad Hatta Wakil Presiden Pertama Indonesia Yang Luar Biasa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel