Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah Tanam Paksa

Johannes graaf van den Bosch [Sumber Gambar]

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang sejarah pada saat masa penjajahan kolonial Belanda di Indonesia yaitu pada tepatnya membahas tentang Sejarah Tanam Paksa. Sistem tanam paksa dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes graaf van den Bosch pada tahun 1830.

Johannes graaf van den Bosch dilahirkan pada tanggal 1 Februari 1780 di Herwijnen, Lingewaal. Johannes graaf van den Bosch menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke 43. Van den Bosch berkuasa pada tahun 1830 - 1834, pada saat masa ia berkuasa Sistem Tanam Paksa mulai di realisasi di tanah jawa.

Sistem Tanam Paksa atau dalam bahasa inggris "Cultuurstelsel" bertujuan untuk menambah kas pemerintahan Negara Induknya yaitu negara Belanda yang sedang mengalami krisis kehabisan dana yang dikarenakan sedang menghadapi peperangan di Eropa.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang Sejarah Tanam Paksa mari kita bahas bersama Lets Go......

Sejarah Tanam Paksa

Tanam Paksa [Sumber Gambar]

Pada tahun 1830 Negara Belanda sedang mengalami krisis keuangan yang hampir membuat pemerintah Belanda mengalami kebangkrutan setelah terlibat dalam peperangan diponegoro pada tahun 1825-1830. Kemudian Gubernur Jenderal Judo mendapatkan izin untuk melaksanakan sistem tanam paksa atau "Culturstelsel" yang bertujuan untuk menutup defisit anggaran pemerintah belanda dan juga untuk mengisi kas pemerintah Belanda yang pada saat itu kas pemerintahan Belanda dalam keadaan Kosong atau Habis.

Awal adanya sistem Tanam Paksa adalah dikarenakan pemerintahan kolonial Belanda membutuhkan anggara dana yang digunakan untuk menutupi kekosongan kas kerajaan atau pemerintah Belanda yang habis karena digunakan untuk membiayai Perang Diponegoro dan Paderi dalam upaya Politik Pax Netherlandica.

Kemudian Van den Bosch pada tahun 1829 mengeluarkan gagasannya, “ Untuk mengisi kas negara yang kosong dapat dilakukan dengan pemberlakuan kebijakan tanam paksa dengan menanam tanaman eskpor secara besar-besaran yang laku di pasar Eropa.”

Untuk menyelamatkan negara Belanda dari sebuah kebangkrutan, maka pada saat itu Johannes graaf van den Bosch diangkat menjadi Gubernur Jenderal di negara Indonesia. Tugas pokok Johannes graaf van den Bosch sebagai Gubernur Jendral yang berkuasa di Indonesia adalah untuk mencari dana keuangan semaksimal mungkin untuk menyelamatkan kas pemerintah Belanda yang sedang dalam keadaan kosong.

Selain itu Johannes graaf van den Bosch juga memiliki tugas untuk membiayai perang prajurit Belanda dan juga membayar hutang perintah Belanda. Untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang Gubernur Jenderal, Van den Bosch memfokuskan kebijaksanaannya pada sektor peningkatan tanaman ekspor yang pada saat itu memiliki banyak peminat.

Adapun berbagai tanaman komoditi ekspor yang ditanam pada sistem Tanam Paksa dan laku keras di pasaran antara lain sebagai berikut.

Jenis Komoditi Tanam Paksa:


  • Tembakau
  • Tebuh
  • Teh
  • Kopi
  • Kayu Manis
  • Kelapa Sawit
  • Coklat
  • Kina
  • Nila atau Indigo

Sistem Tanam Paksa diterapkan secara perlahan dan bertahap di indonesia, yang dimulai pada tahun 1830, pada saat menjelang awal tahun 1840 sistem Tanam Paksa ini sudah dapat berjalan sepenuhnya di tanah Jawa.

Dengan menjalankan sistem Tanam Paksa, Pemerintah Kolonial Belanda beranggapan bahwa setiap desa akan mampu melunasi hutang dan pajak tanahnya. Seandainya pendapatan desa yang didapat dari proses penjualan komoditas ekspor itu lebih besar dari pajak tanah yang harus dibayar, maka desa tersebut akan mendapat kelebihannya. namun jika pendapatan yang didapat dari penjualan tersebut masih kurang, maka desa tersebut harus membayar kekurangannya.

Oleh karena itu, Gubernur Jendral Van den Bosch mengerahkan seluruh rakyat jajahannya untuk melakukan penanaman tanaman yang hasilnya dapat laku di pasaran ekspor. Dengan aturan sistem Tanam Paksa sebagai berikut.

Peraturan Tanam Paksa :

  1. 1/5 tanah milik petani ditanami tanaman eskpor, 1/5 lainnya untuk tanaman petani sendiri.
  2. Tanah yang ditanami tanaman eskpor bebas pajak
  3. Jam kerja petani untuk mengurusi tanaman eskpor tidak melebih waktu kerja petani untuk mengurus tanahnya sendiri
  4. Apabila hasil tanam paksa melebihi kuota yang ditargetkan, maka kelebihannya untuk petani
  5. Rusak atau gagal panen tanaman eskpor ditanggung oleh pemerintah
  6. Penduduk yang bukan petani wajib kerja di perkebunan pemerintah selama 1/5 tahun
  7. Penduduk bekerja dibawah pimpinan lurah dan pengawas dari pemerintah kolonial

Namun peraturan yang telah ditetapkan tersebut sangatlah bertentangan dengan realita yang sebenarnya terjadi di lingkungan penduduk yang menjalankan sistem tanam paksa. Kenyataan yang terjadi pada penduduk jajahan yang menjalankan tanam paksa adalah sebagai berikut.

 Realita Kenyataan pada Sistem Tanam Paksa :

  1. Bukan 1/5 melainkan seluruh tanah petani untuk ditanami tanaman ekspor
  2. Seluruh tanah dibebankan pajak
  3. Jam kerja petani lebih banyak dihabiskan untuk tanaman dan kebun pemetintah
  4. Kelebihan panen tidak dikembalikan dan ditambahkan pajak juga
  5. Gagal panen dan kerusakan ditanggung oleh petani
  6. Waktu wajib kerja diperkebunan melebihi 1/5 tahun
  7. Bagi pejabat lurah atau bupati akan mendapatkan Cultuur Procenten (bonus) jika daerahnya bisa melebihi kuota ekspor, sehingga menimbulkan kesewenang-wenangan bupati kepada petani karena ingin mendapatkan Cultuur Procenten.

Akibat yang di timbulkan dari sistem tanam paksa

Pelaksanaan tanam paksa banyak menyimpang dari aturan sebenarnya dan memiliki kecenderungan untuk melakukan eskploitasi agraris semaksimal mungkin. Oleh sebab itu, Tanam Paksa menimbulkan akibat yang bertolak belakang bagi Bangsa Indonesia dan Belanda, diantaranya adalah sebagai berikut.

Bagi Negara Indonesia

  1. Beban rakyat menjadi sangat berat karena harus menyerahkan sebagian tanah dan hasil panennya, mengikuti kerja rodi serta membayar pajak .
  2. Sawah ladang menjadi terbengkelai karena diwajibkan kerja rodi yang berkepanjangan sehingga penghasilan menurun drastis.
  3. Timbulnya wabah penyakit dan terjadi banyak kelaparan di mana-mana.
  4. Timbulnya bahaya kemiskinan yang makin berat.
  5. Rakyat Indonesia mengenal tanaman dengan kualitas ekspor.
  6. Rakyat Indonesia mengenal teknik menanam berbagai jenis tanaman baru.

Bagi Pemerintah Kolonial Belanda


  1. Kas Negeri Belanda yang semula kosong menjadi dapat terpenuhi.
  2. Penerimaan pendapatan melebihi anggaran belanja (Surplus).
  3. Hutang-hutang Belanda terlunasi.
  4. Perdagangan berkembang pesat.
  5. Amsterdam sukses dibangun menjadi kota pusat perdagangan dunia.

Akhir Dari Sistem Tanam Paksa

Pada akhirnya sistem Tanam Paksa yang mengakibatkan banyak hal negatif bagi bangsa Indonesia dan merupakan sebuah pelanggaran hak asasi manusia, menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan, baik di negeri Belanda sendiri maupun dari negara Indonesia. Berikut ini adalah tokoh-tokoh yang berperan dalam menentang sistem Tanam Paksa:

Eduard Douwes Dekker

Merupakan seorang pejabat yang berasal dari negara Belanda yang pernah menjabat sebagai Asisten Residen Lebak, Banten. Douwes Dekker sangat cinta kepada penduduk pribumi Indonesia, khususnya kepada mereka yang sengsara karena menjalankan sistem tanam paksa.

Eduard Douwes Dekker yang menggunakan nama samaran sebagai Multatuli yang memiliki arti "aku telah banyak menderita", Eduard Douwes Dekker kemudian menulis sebuah buku yang berjudul Max Havelaar atau Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda pada tahun 1859, dalam buku tersebut menceritakan tentang kesengsaraan rakyat indonesia akibat Sistem Tanam Paksa.

Baron Van Hoevel

Merupakan seorang missionaris yang pernah tinggal di Indonesia pada tahun 1847. Dalam perjalanannya di pulau Bali, Madura dan pulau Jawa, Baron Van Hoevel banyak menyaksikan kesengsaraan rakyat Indonesia yang diakibatkan dengan adanya Sistem Tanam Paksa atau Cultuurstelsel.

Setelah Baron Van Hoevel pulang kembali ke negara Belanda dan terpilih menjadi anggota parlemen, Ia sering melakukan aksi protes terhadap pelaksanaan sistem Tanam Paksa. Baron Van Hoevel sangat gigih dalam berjuang menuntut  agar dihapusnya sistem Tanam Paksa yang menyengsarakan rakyat Indonesia.

Akibat dari adanya protes tersebut, pemerintah kolonial Belanda secara bertahap menghapuskan sistem Tanam Paksa di Indonesia. Pada tahun 1865 Kayu Manis, Teh dan Nila dihapuskan, dan dilanjutkan pada tahun 1866 tanaman tembakau, kemudian tebu pada tahun 1884. Sedangkan Kopi merupakan Tanaman yang paling akhir dihapus, yaitu pada tahun 1917 karena Kopi paling banyak memberi keuntungan.

Sumber Referensi: Markijar.com

Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah Tanam Paksa Semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sejarah Tanam Paksa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel