Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah Sunan Muria Lengkap

Gambar Sunan Muria [Sumber Gambar]
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang sejarah, asal-usul, dan perjuangan dakwah dari Sunan Muria dalam menyebarluaskan ajaran agama Islam di tanah jawa. Sebagai salah satu anggota dari Wali Songo, Sunan Muria merupakan seorang wali yang eksentrik dalam dakwah nya menyebarkan ajaran agama Islam di dataran tinggi gunung Muria di derah Kudus.

Beliau bertempat tinggal di wilayah Muria, yang kemudian didirikan sebuah bangunan masjid yang begitu mewah di gunung Muria, meskipun begitu pada saat itu tidak mungkin ada orang atau penduduk setempat yang menggunakan masjid tersebut yang dikarenakan masjid tersebut berada di puncak gunung.

Namun dengan ketakwaan dan kegigihan dari Sunan Muria dalam dakwahnya menyebarkan agama islam, membuat Sunan Muria mampu untuk membuat masjid yang berada di puncak gunung tersebut menjadi ramai di kunjungi oleh penduduk untuk melakukan ibadah. Perjuangan Sunan Muria sangatlah berat, bilau setiap hari harus turun dan naik gunung untuk melakukan dakwahnya. Sunan Muria berdakwah melalui kesenian tradisional yaitu menggunakan Gamelan dan Wayang, Sunan Muria juga menciptakan tembang sinom dan kinanti yang dikenal dalam tembang macapat.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang Sejarah Sunan Muria mari kita bahas bersama Lets Go......

Biografi Sunan Muria

  • Nama Asli Sunan Muria: Raden Umar Said.
  • Ayah: Raden Said (Sunan Kalijaga)
  • Ibu: Dewi Saroh
  • Istri: Dewi Sujinah
  • Wilayah Dakwah Sunan Muria: Kudus dan Pati.
  • Peninggalan Sunan Muria: Masjid Muria.
  • Tahun Wafatnya: 1551 M.
  • Makam Sunan Muria: Kudus, Jawa Tengah.

Sunan Muria memiliki nama asli Raden Umar Said adalah salah satu dari 9 wali dalam Walo Songo, Sunam Muria merupakan putra dari Sunan Kalijaga dari isterinya yang bernama Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Sunan Muria menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung. Jadi Sunan Muria adalah adik ipar dari Sunan Kudus.

Selain itu Sunan Muria adalah sunan yang mewariskan sebuah budaya bernama kenduri. Budaya Kenduri ini merupakan sebuah budaya yang dilakukan untuk mendoakan orang yang sudah meninggal dan sesudah dimakamkan. Di dalam budaya kenduri ini terdapat istilah nelung dinani artinya 3 hari setelah dimakamkan, mitung dinani artinya 7 hari setelah dimakamkan, matang puluhi artinya 40 hari setelah dimakamkan, nyatus artinya 100 hari setelah dimakamkan, nyewu artinya 1000 hari setelah dimakamkan.

Asal-usul Sunan Muria

Sunan Muria memiliki nama asli yaitu Raden umar said, beliau merupakan putra dari Sunan kalijaga dan Dewi Saroh. Nama muria diambil dari tempat tinggal terakhir Raden umar said yaitu di lereng gunung Muria, yang berjarak sekitar 18 KM ke arah utara kota kudus. Dalam berdakwah Sunan Muria menggunakan cara yang sama seperti ayahnya yaitu Sunan Kalijaga dengan menggunakan cara yang halus, yang di ibaratkan dengan mengambil ikan tanpa mengeruhkan airnya.

Berbeda dengan Sunan Kalijaga, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah yang sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam. Tempat tinggal Sunan Muria terletak di salah satu puncak gunung Muria yang bernama Colo. Di tempat itu Sunan Muria banyak bergaul dengan penduduk rakyat jelata sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang, serta melaut.

Sunan Muria merupakan satu-satunya sunan yang tetap melestarikan kesenian wayang dan gamelan sebagai alat dakwah untuk menyampaikan ajaran agama Islam kepada penduduk di sekitarnya. Salah satu bentuk hasil dari dakwah berliau melalui karya seni adalah tembang sinom dan kinanti.

Sunan Muria sering berperan sebagai penengah dalam konflik internal yang terjadi di kesultanan Demak pada tahun 1518 sampai pada tahun 1530. Sunan Muria dikenal sebagai sosok pribadi yang dapat memecahkan berbagai masalah dan konflik meskipun betapa rumitnya masalah itu. Sunan Muria melakukan dakwah menyebarkan agama islam dari wilayah Jepara, Tayu, Juwana, hingga ke wilayah sekitar Kudus dan Pati.

Dakwah Sunan Muria

Semasa Sunan Muria melakukan dakwahnya untuk menyebarluaskan ajaran agama Islam, Sunan Muria lebih memilih tinggal di daerah yang sangat terpencil dan jauh dari pusat kota Kudus. Tempat tinggal yang dipilih oleh Sunan Muria sebagai tempat dakwah beliau terletak di salah satu puncak Gunung Muria yang bernama Colo. Di tempat itu, Sunan Muria banyak berinteraksi dengan rakyat jelata sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan tentang bercocok tanam, berdagang dan melaut.

Sunan muria menyebarkan agama islam kepada masyarakat setempat yaitu kepada para pedagang, nelayan, pelaut dan rakyat jelata. Metode dakwah yang digunakan oleh Sunan Muria dalam menyebarkan agama islam yakni dengan tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah. Suna Muria juga yang telah menciptakan berbagai  karya yang berupa tembang jawa, yang mana salah satu hasil dakwah beliau melalui media seni adalah tembang Sinom dan Kinanti. Tempat dakwah yang mulanya berada di sekitar gunung muria, kemudian  diperluas meliputi Tayu, Juwana, kudus, dan lereng gunung muria.

Lewat tembang-tembang yang Sunan Muria ciptakan beliau mengajak masyarakat untuk mengamalkan ajaran Islam. Cara dakwah inilah yang menyebabkan Sunan Muria dikenal sebagai sunan yang suka berdakwah topo ngeli. Yakni dengan ''menghanyutkan diri'' dalam masyarakat.

Sunan Muria sering berperan sebagai penengah dalam konflik internal yang terjadi di kesultanan Demak pada tahun 1518 sampai pada tahun 1530. Sunan Muria dikenal sebagai sosok pribadi yang dapat dengan mudah memecahkan berbagai masalah dan konflik meskipun betapa rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru.

Tak ada yang meragukan reputasi Sunan Muria dalam melakukan dakwahnya dalam menyebarkan agama Islam. Dengan gayanya yang moderat, yang mengikuti gaya berdakwah seperti ayahnya yaitu Sunan Kalijaga, yaitu dengan menyelusupkan dakwah islam lewat berbagai tradisi kebudayaan Jawa.

Misalnya adat kenduri pada hari-hari tertentu setelah kematian anggota keluarga, seperti nelung dino sampai nyewu, yang tak diharamkannya dalam agama islam.  Hanya, tradisi berbau klenik seperti membakar kemenyan atau menyuguhkan sesaji diganti dengan doa atau salawat. Sunan muria adalah wali yang terkenal memiliki kesaktian yang luar biasa.

Sunan Muria juga dipastikan memiliki fisik yang kuat karena beliau sering naik turun gunung Muria yang tingginya sekitar 750 meter. Kekuatan fisik dari Sunan Muria dapat dibayangkan bahwa Sunan Muria harus naik turun gunung setiap hari untuk menyebarkan agama islam kepada penduduk setempat, atau berdakwah kepada para nelayan dan pelaut serta para pedagang. Hal itu tidak dapat dilakukannya tanpa fisik yang kuat

Makam Sunan Muria

Sunan Muria dimakamkan di atas puncak bukit bernama bukit Muria. Dari pintu gerbang masih naik lewat beratus tangga atau disebut dengan undhagan menuju ke komplek makam Sunan Muria, yang terletak persis di belakang Masjid Sunan Muria. Mulai naik dari pintu gerbang pertama paling bawah hingga sampai pelataran Masjid jaraknya kurang lebih 750 meter jauhnya.

Setelah memasuki pintu gerbang makam, mulai dapat dilihat pelataran makam yang dipenuhi oleh 17 batu nisan. Menurut Juru Kunci makam, itu adalah makamnya para prajurit dan para punggawa yaitu orang-orang terdekat, ajudan dan semacam Patih dalam Keraton.

Di batas utara pelataran ini berdiri bangunan cungkup makam beratapkan sirap dua tingkat. Di dalamnya terdapat makamnya Sunan Muria. Di sampingnya sebelah timur, ada nisan yang konon makamnya puterinya perempuan bernama Raden Ayu Nasiki.Dan tepat di sebelah barat dinding belakang masjid Muria, sebelah selatan mihrab terdapat makamnya Panembahan Pengulu Jogodipo, yang menurut keterangannya Juru Kunci adalah putera sulungnya Sunan Muria.

Keteladanan Sunan Muria

Keteladanan yang dapat kita ambil dari kisah perjalan hidup dan dakwah dari Sunan Muria adalah sikap dari Sunan Muriah yang mudah berbaur dengan masyarakat dan keinginannya yang kuat dalam menyebarkan ajaran agama Islam di tempat-tempat yang terpencil sudah selayaknya dijadikan contoh di dalam kehidupan kita. Dalam menyebarkan Islam ataupun memsosialisasikan kabijakan-kebijakan yang sifatnya umum sepatutnya harus menjangkau semua elemen dari masyarakat, tidak  hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahuinya.

Kita ketahui saat ini faktanya, ketika dibuat suatu kebijakan baru bagi masyarakat nyatanya hanya orang-orang di kalangan tertentu saja yang mengetahui perihal kebijakan tersebut, sementara sebagian lainnya mengaku tidak tau menau bahkan belum sama sekali tersentuh sosialisasinya. Seharusnya hal ini tidak terjadi, karena seharusnya kebijakan yang semestinya dibuat untuk masyarakat harus diketahui oleh semua lapisan masyarakat tidak hanya masyarakat tertentu saja.

Peninggalan Sunan Muria

  1. Pohon jati keramat masin.
  2. Bulusan dan Kayu adem ati.
  3. Pati Joto.
  4. Pakis Haji.
  5. Situs Air gentong keramat.

Sumber:
  • www.sunanmuria.com
  • www.gomuslim.co.id

Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah Sunan Muria Semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

0 Response to "Sejarah Sunan Muria Lengkap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel