Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah Sunan Kudus Lengkap

Sunan Kudus [Sumber Gambar]
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Pada artikel kali ini akan membahas sejarah asal-usul sunan kudus. Sunan kudus adalah seorang wali allah yang menyebar luaskan ajaran agama islam di tanah jawa. Beliau merupakan salah satu dari sembilan sunan yang masuk dalam jajaran wali songo.

Sunan Kudus pernah menjabat sebagai panglima perang dalam Kesultanan Demak, pada saat masa pemerintahan Sunan Prawoto, Sunan Kudus juga menjadi penasihat bagi Arya Penangsang. Selain sebagai panglima perang Kesultanan Demak, Sunan Kudus juga menjabat sebagai hakim pengadilan di Kesultanan Demak.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang Sejarah Sunan Kudus mari kita bahas bersama Lets Go......

Biografi Sunan Kudus

  • Nama Asli Sunan Kudus: Ja’far Shadiq
  • Ayah: Usman haji (Sunan Ngudung)
  • Ibu: Syarifah Dewi Rahil (adik Sunan Bonang)
  • Wilayah Dakwah Sunan Kudus: Kudus, Jawa Tengah
  • Peninggalan Sunan Kudus: Masjid Menara Kudus
  • Tahun Wafatnya: 1550 M
  • Makam Sunan Kudus: Kudus, Jawa Tengah

Sunan Kudus adalah putra dari Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad SAW.

Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima perang, penasihat Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim peradilan negara. Selain itu Sunan Kudus juga mewariskan budaya toleransi antar umat beragama di Nusantara. Sebagai salah satu contoh toleransi ajaran beilau adalah umat Islam diajarkan untuk menyembelih kerbau pada saat hari raya Idul Adha untuk menghormati masyarakat Hindu di daerah Kudus.

Asal Usul Sunan Kudus

Ja’far Sodiq, atau yang lebih akrab dengan sebutan Sunan Kudus, merupakan seorang putera dari Raden Usman Haji yang bergelar dengan sebutan Sunan Ngudung di Jipang Panolan (ada yang mengatakan letaknya disebelah utara kota Blora, Jawa Tengah). Dalam hubungan ini di dalam sejarah, kita mengenal pula seorang wali yang tekenal di Iran, yang hidup dalam abad ke VIII, yang namanya juga Ja’far Sodiq seorang Imam Syi’ah yang keenam.

Dalam melakukan dakwah penyebaran Islam di wilayah Kudus, Sunan Kudus menggunakan sapi yang beliau gunakan sebagai sarana penarik perhatian masyarakat untuk datang mendengarkan dakwahnya. Sunan Kudus juga membangun sebuah Menara Kudus yang merupakan gabungan kebudayaan dari agama Islam dan agama Hindu dan agama budha yang juga terdapat Masjid yang disebut Masjid Menara Kudus.

Semasa hidupnya Sunan Kudus mengajarkan agama Islam disekitar daerah Kudus. Sunan Kudus terhitung salah seorang ulama, guru besar agama yang telah mengajar serta menyiarkan agama Islam di daerah Kudus dan sekitarnya. Sunan Kudus terkenal dengan keahliannya dalam ilmu agama. terutama dalam Ilmu Tauhid, Usul , Hadits, Sastra Mantiq dan lebih-lebih di dalam Ilmu Fiqih.

Oleh sebab itu Sunan Kudus digelari dengan sebutan sebagai Waliyyul ‘Ilmi yang dikarenakan Sunan Kudus terkenal ahli dalam ilmu filsafat, tatanegara, keperwiraan bahkan puisi. Selain itu Sunan kudus juga dikenal dengan ilmu kecendikiaannya dalam Tauhid, Ushuluddin, Mantiq dan fiqh.

Gelar itu juga merujuk pada kecerdikannya dalam berdakwah. Menurut riwayat Sunan Kudus juga termasuk salah seorang pujangga yang berinisiatif mengarang cerita-cerita pendek yang berisi filsafat serta berjiwa agama. Diantara ciptaan dari karya-karya Sunan Kudus yang terkenal, ialah Gending Maskumambang dan Mijil.

Di dalam babad tanah jawa atau disingkat dengan BTJ, disebutkan bahwa Sunan Ngudung pernah memimpin pasukan Demak pada saat berperang melawan kerajaan Majapahit. Sunan ngudung selaku senopati Demak berhadapan dengan Raden Husain atau Adipati Terung dari kerajaan Majapahit sebagai lawannya.

Dalam pertempuran yang sengit dan saling mengeluarkan aji kesaktian itu Sunan Ngudung gugur sebagai pahlawan sahid pada peperangan tersebut. Kedudukannya sebagai senopati Demak kemudian digantikan oleh putranya sendiri yaitu sunan Kudus yang bernama asli Ja’far Sodiq.

Pasukan dari kerajaan Demak hampir saja menderita kekalahan, namun berkat siasat dari Sunan Kalijaga, dan bantuan dari pusaka Raden Patah yang dibawa dari Palembang kedudukan kerajaan Demak dan kerajaan Majapahit akhinya dapat bertahan dengan keadaan berimbang.

Selanjutnya melalui jalan diplomasi yang dilakukan oleh Patih Wanasalam dan Sunan Kalijaga, peperangan antara kerajaan Demak dengan Kerajaaan Majapahit dapat dihentikan. Adipati Terung yang memimpin pasukan laskar Majapahit diajak damai dan bergabung dengan Raden Patah yang ternyata adalah kakaknya sendiri. Kini keadaan berbalik. Adipati Terung dan pengikutnya bergabung dengan tentara Demak dan menggempur tentara Majapahit hingga ke belahan timur. Pada akhirnya perang itu dimenangkan oleh pasukan Demak.

Guru Sunan Kudus

Disamping belajar dan mendalami ajaran agama kepada ayahnya sendiri yaitu Sunan Ngudung, Ja’far Sodiq atau Sunan Kudus juga belajar kepada beberapa ulama tersohor di nusantara. Diantaranya Sunan Kudus berguru kepada Kiai Telingsing, Ki Ageng Ngerang dan Sunan Ampel.

Nama asli dari Kiai Telingsing ini adalah Ling Sing, beliau adalah seorang ulama dari negeri cina yang datang ke pulau jawa untuk berdakwah menyebarkan agama islam bersama laksamana jenderal Cheng Hoo. Sebagaimana disebutkan dalam sejarah, jenderal Cheng Hoo yang beragama Islam itu datang ke pulau jawa untuk mengadakan tali persahabatan dan menyebarkan agama Islam melalui jalur perdagangan.

Di jawa, the Ling Sing merupakan nama yang sulit untuk diucapkan oleh masyarakat jawa jadi beliau cukup dipanggil dengan sebutan Telingsing, beliau tinggal di sebuah daerah yang subur dan terletak diantara sungai Tanggulangin dan sungai Juwana sebelah Timur. Disana beliau bukan hanya mengajarkan Islam, melainkan juga mengajarkan kepada penduduk seni ukir yang indah.

Banyak dari penduduk pulau jawa yang datang untuk berguru seni kepada Kiai Telingsing, termasuk juga Sunan Kudus itu sendiri. Dengan belajar kepada ulama yang berasal dari cina itu, Sunan Kudus mewarisi bagian dari sifat positif masyarakat cina yaitu ketekunan dan kedisiplinan dalam mengejar atau mencapai cita-cita.

Hal ini berpengaruh besar bagi kehidupan dakwah Sunan Kudus dimasa yang akan datang yaitu tatkala ketika sunan kudus menghadapi masyarakat yang Mayoritas masih beragama Hindu dan Budha. Selanjutnya, Sunan Kudus juga berguru kepada Sunan Ampel di Surabaya selama beberapa tahun.

Dakwah Sunan Kudus

Sunan Kudus termasuk pendukung gagasan dari Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang yang menerapkan strategi dakwah menggunakan seni daerah kepada masyarakat. Sunan kudus membiarkan terlebih dahulu adat istiadat dan kepercayaan lama yang dianut oleh masyarakat yang bersifat sukar untuk dirubah. Sunan kudus dan Wali Songo sepakat untuk tidak mempergunakan jalan kekerasan atau radikal menghadapi masyarakat yang demikian.

Bagian dari kebudayaan adat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi mudah untuk dirubah maka budaya tersebut harus segera dihilangkan. Tut Wuri Handayani, artinya mengikuti dari belakang terhadap kelakuan dan adat rakyat tetapi diusahakan untuk dapat mempengaruhi sedikit demi sedikit dan menerapkan prinsip Tut Wuri Hangiseni, artinya mengikuti dari belakang sambil mengisi ajaran agama Islam.

Menghindarkan konfrontasi secara langsung atau secara keras didalam cara menyiarkan agama Islam. Dengan prinsip mengambil ikan tetapi tidak mengeruhkan airnya sehingga tidak menimbulkan kekacauan di masyarakat. Pada akhirnya boleh saja merubah adat dan kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tetapi dengan prinsip tidak menghalau masyarakat dari umat Islam.

Kalangan umat Islam yang sudah tebal imannya harus berusaha menarik simpati masyarakat non muslim agar mau mendekat dan tertarik dengan ajaran Islam. Hal itu tak bisa mereka lakukan kecuali dengan konsekuen yaitu dengan ketekunan dan kedisiplinan. Sebab dengan melaksanakan ajaran Islam secara lengkap otomatis tingkah laku dan gerak-gerik mereka sudah merupakan dakwah nyata yang dapat memikat masyarakat non-muslim.

Strategi dakwah ini juga diterapkan oleh Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Karena siasat mereka dalam berdakwah tak sama dengan garis yang ditetapkan oleh Sunan Ampel maka mereka disebut kaum Abangan atau Aliran Tuban. Sedang pendapat Sunan Ampel yang didukung Sunan Giri dan Sunan Drajad disebut Kaum Putihan atau Aliran Giri.

Strategi Dakwah Sunan Kudus

Dalam menyampaikan dakwah untuk menyebarkan ajaran agama Islam, Sunan Kudus juga menerapkan strategi dakwah yang diterapkan oleh Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati.

Selain mempunyai strategi yang sama, Sunan Kudus juga mempunyai strategi tersendiri dalam berdakwah, yaitu sebagai berikut:

Mendekati Masyarakat Hindu

Cara ini sangat sulit dilakukan karena masyarakat Hindu pada waktu itu mereka masih memegang teguh kepercayaan mereka. Tapi cara ini tetap dilakukan oleh sunan kudus agar Masyarakat Hindu masuk ke agama Islam. Sunan Kudus mengajarkan kepada masyarakat tentang rasa toleransi yang tinggi dalam agama Islam kepada masyarakat Hindu. Sehingga sunan kudus berhasil membuat umat Hindu tertarik untuk masuk ke agama Islam. Ajaran toleransi yang diamalkan oleh sunan kudus tersebut adalah menghormati sapi yang dikramatkan oleh umat Hindu. Selain itu, Sunan Kudus juga membangun menara masjid yang hampir sama dengan bangunan candi Hindu.

Mendekati Masyarakat Budha

Setelah Masjid selesai dibangun, Sunan Kudus membuat padasan atau sebuah tempat wudhu yang berbentuk pancuran sebanyak delapan buah. Setiap pancuran diberi arca Kebo Gumarang yang dihormati umat Budha. Setelah umat Budha melihat arca tersebut, mereka penasaran dan masuk ke area masjid. Setelah masuk ke masjid, mereka terpengaruh dengan penjelasan Sunan Kudus. Akhirnya mereka masuk ke agama Islam.

Mengubah Inti Ritual Mitoni (Selametan)

Acara Selametan Mitoni merupakan acara yang sejak dulu dilakukan dan disakralkan oleh masyarakat pemeluk agama Hindu-Budha. Inti dari acara Mitoni adalah sebuah bentuk rasa bersyukur atas dikaruniai seorang anak. Namun, masyarakat Hindu-Budha dahulu sebelum masuknya agama Islam mereka tidak bersyukur kepada Allah SWT, melainkan kepada patung-patung dan arca.

Disinilah tugas Sunan Kudus untuk meluruskan inti dari acara tersebut. Sunan Kudus tidak menghapus acara tradisi Selametan dalam kebiasaan masyarakat Hindu-Budha. Tapi, Sunan kudus meluruskan acara mitoni menuju ke arah Islami, yaitu dengan bersyukur kepada Allah SWT.

Peninggalan Sunan Kudus

Pada tahun 1530, Sunan Kudus mendirikan sebuah mesjid di desa Kerjasan, yang berada di wilayah Kudus Kulon, yang daerah tersebut kini terkenal dengan nama Masjid Agung Kudus yang masih bertahan hingga pada saat ini. Sekarang Masjid Agung Kudus berada di alun-alun kota Kudus, Jawa Tengah. Peninggalan lain dari Sunan Kudus adalah permintaannya kepada masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dalam perayaan Idul Adha yang beliau ajarkan untuk menghormati masyarakat penganut agama Hindu dengan mengganti kurban sapi dengan memotong kurban kerbau, pesan untuk memotong kurban kerbau ini masih banyak ditaati oleh masyarakat Kudus hingga saat ini.

Peninggalan yang lain dari sunan kudus iyalah:

  1. Masjid dan Menara Kudus
  2. Keris Cintoko
  3. Dua tombak Sunan Kudus
  4. Tembang Asmarandana

Sumber: https://takwilsantri.blogspot.com
               https://www.walisembilan.com

Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah Sunan Kudus Semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

0 Response to "Sejarah Sunan Kudus Lengkap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel