Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah Sunan Kalijaga Lengkap

Sunan Kalijaga [Sumber Gambar]

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang Sejarah Sunan kalijaga yang terkenal dengan dakwah menyebarkan agama Islam dengan menggunakan budaya daerah. Salah satu budaya yang digunakan oleh Sunan Kalijaga untuk mengenalkan ajaran agama Islam ke masyarakat adalah menggunakan wayang kulit.

Sunan Kalijaga merupakan salah satu wali yang masuk dalam Walisongo yaitu sembilan orang wali yang sangat berjasa atas jasa dan usahanya dalam berdakwah untuk menyebar luaskan ajaran agama Islam ke seluruh tanah Jawa. Sunan Kalijaga adalah sunan yang paling mencintai budaya daerah atau adat, beliau selalu menggenakan pakaian adat masyarakat Jawa untuk berdakwah dan melakukan kegiatan sosial lainnya.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang Sejarah Sunan Kalijaga mari kita bahas bersama Lets Go......

Biografi Sunan Kalijaga

  • Nama Asli Sunan Kalijaga: Raden Said.
  • Wilayah Dakwah Sunan Kalijaga: Demak dan daerah sekitarnya.
  • Peninggalan Sunan Kalijaga: Seni ukir, wayang, gamelan dan suluk.
  • Tahun Wafatnya Sunan: 1513 M.
  • Makam Sunan Kalijaga: Desa Kadilangu, Demak Bintara, Jawa Tengah.

Sunan Kalijaga adalah putra dari adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur atau Sayyid Ahmad bin Mansur (Syekh Subakir). Sunan Kali Jaga adalah murid dari Sunan Bonang. Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan daerah yang digunakan sebagai sarana untuk berdakwah beliau. Kesenian yang digunakan sebagai sarana berdakwah Sunan Kali Jaga antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk lir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul umumnya dianggap sebagai hasil karya dari Sunan Kali Jaga.

Asal Usul Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga memiliki nama asli Raden Said, nama lain dari sunan kalijaga adalah Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 Masehi. Sunan Kalijaga merupakan putra dari adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Ayah Sunan Kalijaga yaitu Tumenggung Arya Wilatikta merupakan keturuan dari pemberontak legendaris Majapahit, Ronggolawe.

Berdasarkan riwayar masyhur, dapat diketahui bahwa Adipati Arya Wilatikta sudah memeluk Islam sejak sebelum lahirnya Raden Said atau sunan kalijaga. Meskipun Adipati Arya Wilatikta adalah seorang muslim, ia dikenal memiliki sifat yang sangat kejam dan sangat taklid kepada pemerintah pusat Majapahit yang menganut Agama Hindu.

Adipati Arya Wilatikta menetapkan pajak tinggi yang dijatuhkan kepada rakyatnya. Sedangkan Raden Said muda yang mengetahuinya dan tidak setuju dengan segala kebijakan yang dilakukan Ayahnya terhadap rakyat. Sebagai seorang Adipati, Raden Said sering membangkang pada kebijakan-kebijakan Ayahnya.

Hingga sampai puncak kemarahan Adipati Arya Wilatikta, pembangkangan itu terjadi ketika Raden Saikdmembongkar lumbung gudang makanan di kadipaten dan kemudian Raden Said membagi-bagikan bahan makanan seperti beras, dan jagung dari dalam lumbung ke pada rakyat Tuban yang pada saat itu sedang dalam keadaan kelaparan akibat kemarau panjang yang sedang terjadi.

Karena tindakan dari Reden Said tersebut, ayah Raden Said Adipati Arya Wilatikta  kemudian menggelar sidang yang dilakukan untuk mengadili perbuatan yng dilakukan oleh Raden Said dan menanyakan alasan dari perbuatannya. Kesempatan itu tidak di sia-siakan oleh Raden Saik untuk mengatakan alasan pada ayahnya.

Raden Said kemudian menjelaskan bahwa alasannya melakukan tindakan tersebut adalah karena ajaran agama Islam. Raden Said menentang ayahnya yang menumpuk makanan di lumbung kadipaten sementara  seluruh rakyatnya hidup dalam kemiskinan dan kelaparan .yang dikarenakan tingginya upeti yang harus dibayar dan sedang mengalami musim kemarau yang panjang.

Adipati Arya Wilatikta sebagai ayah Raden Said tidak terima dengan alasan yang diberikan oleh Raden Said karena mengganggap Raden Said mengguruinya dalam masalah Agama. Karena alasan tersebut, akhirnya Adipati Arya Wilatikta mengusir Raden Said dari istana kadipaten seraya mengatakan bahwa Raden Said baru boleh pulang kembali ke kadipaten jika ia sudah mampu menggetarkan seisi Tuban dengan bacaan ayat-ayat suci Al-quran.

Raden Said Menjadi Perampok


Setelah Raden Said keluar dari kadipaten Tuban. Raden Said berubah menjadi perampok yang terkenal dan ditakuti dikawasan Jawa Timur yang dikenal dengan kelompok Brandal Lokajaya. Namun, sebelum melakukan perampokan Raden Said terlebih dahulu untuk memilih korban dengan seksama. Raden Said hanya merampok harta dari kalangan orang kaya yang tidak mau mengeluarkan zakat dan sedekah. Sedangkan sebagian besar hasil dari rampasannya, ia bagi-bagikan kepada orang-orang miskin yang lebih membutuhkan. Dari sinilah Raden Said sering diberi gelar “Lokajaya” yang memiliki arti perampok budiman.

Namun semuanya berubah, ketika Raden Said bertemu dengan seorang ulama yang sedang berada di suatu hutan. Raden Said melihat ada seorang kakek tua yang berjalan dengan menggunakan tongkat. Orang tua itu adalah Sunan Bonang. Raden Said melihat tongkat yang sedang dibawa orang tua itu seperti tongkat yang terbuat dari emas, sehingga Raden Said kemudian merampas tongkat itu dari tangan Sunan Bonang.

Kemudian Raden Said mengatakan hasil dari rampokannya akan dibagilan kepada orang yang miskin dan lebih membutuhkan. Tetapi, Sunan Bonang tidak membenarkan cara itu, kemudian Sunan Bonang menasehati Raden Said bahwa Allah SWT tidak akan menerima amal dari perbuatan yang buruk. Lalu sunan Bonang menunjuk sebuah  pohon aren dengan tongkat emasnya dengan seketika pohon aren tersebut menjadi pohon aren berbuah emas dan mengatakan bila Raden Said ingin mendapatkan harta tanpa berusaha, maka ambillah buah aren emas yang di tunjukkan oleh Sunan Bonang.

Raden Said bertemu dengan Sunan Bonang

Karena pertemuan itulah, Raden Said berubah dan ingin menjadi murid dari Sunan Bonang. Raden Said lalu menyusul Sunan Boang yang telah pergi dan menuju ke sungai, Raden Said mengatakan bahwa ia ingin menjadi murid Sunan Bonang. Sunan Bonang tidak seketika menerima Raden Said menjadi muridnya.

Namun setelah sunan bonang melihat kusungguhan dari usaha Raden Said yang terus mengikutinya dan meminta untuk dijadikan murid, kemudian Sunan Bonang menyuruh Raden Said untuk bertapa di pinggiran sungai sambil menjaga tongkat yang ditancapkan oleh sunan bonang di tepi sungai. Raden Said tidak di izinkan untuk beranjak dari tempat dimana tongkat dari sunan Bonang tersebut ditancapkan sebelum Sunan Bonang kembali datang kepadanya.

Raden Said kemudian melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Sunan Bonang untuk bertapa menjaga tongkatnya. Karena itu, Raden Said menjadi tertidur dalam waktu lama. Hingga tanpa disadari akar dan rerumputan telah tumbuh menutupi hampir seluruh tubuh dari Raden Said. Tiga tahun kemudian, Sunan Bonang datang dan membangunkan Raden Said yang sedang bertapa.

Karena Raden Said telah menjaga tongkatnya yang ditancapkan di sungai dan melalukan pertapaan di pinggir sungai, maka Raden Said diganti namanya menjadi Kalijaga yang diartikan dalam bahasa Indonesia adalah penjaga sungai. Kalijaga lalu diberi pakaian baru dan diberi pelajaran Agama oleh Sunan Bonang. Kalijaga lalu melanjutkan dakwah Agama islam dari sunan bonang dan dikenal menjadi sunan Kalijaga.

Namun cerita cerita pemberian gelar Kalijaga oleh Sunan Bonang banyak diragukan oleh para sejarwan dan ulama berpaham salaf karena tidak masuk akal dan bertentangan dengan ilmu syariat.

Sejarah Nama Sunan Kali Jaga

Menurut pendapat dari masyarakat Cirebon, bahwa nama Kalijaga berasal dari nama sebuah dusun yang bernama dusun Kalijaga di Cirebon. Dengan alasan Sunan Kalijaga pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Namun fakta menunjukkan bahwa di dusun kalijaga tidak terdapat ada “Kali” sebagai ciri khas dari dusun tersebut. Sedangkan, menurut logika, munculnya nama dusun Kalijaga setelah Sunan Kalijaga tinggal di dusun itu.

Menurut riwayat dari kalangan Jawa Mistik (Kejawen) mengaitkan nama Kalijaga dengan kesukaan Sunan Kalijaga berendam di Sungai (Kali) sehingga seperti orang yang sedang menjaga kali. Riwayat ini menyebutkan bahwa nama Kalijaga muncul setelah Raden Said disuruh bertapa di tepi sungai oleh Sunan Bonang selama bertahun-tahun.

Banyak yang bependapat bahwa riwayat ini tidak masuk akal, apakah mungkin seorang da’i menghabiskan waktu lama untuk berendam di sungai sepanjang hari tanpa melakukan shalat, puasa bahkan tanpa makan dan minum.

Sedangkan menurut pendapat lain mengatakan bahwa nama Kalijaga berasal dari bahasa Arab yaitu “Qadli” dan namanya sendiri “Joko Said”. Frase ini asalnya dari “Qadli Joko Said” yang artinya ” Hakim Joko Said”. Karena menurut sejarah mencatat bahwa saat Wilayah Demak didirikan pada tahun 1478, Sunan Kalijaga diserahi tugas sebagai Qadli (hakim) di Demak oleh Wali Demak saat itu, yaitu Sunan Giri.

Masyarakat Jawa dikenal kuat dalam hal penyimpangan pelafalan kata-kata dari bahasa Arab, seperti istilah Sekaten (dari ‘Syahadatain’), Kalimosodo (dari ‘Kalimah Syahadah’), Mulud (dari Maulid), Suro (dari Syura’), Dulkangidah (dari Dzulqaidah), dan masih banyak istilah lainnya. Maka tak aneh bila frase “Qadli Joko” kemudian tersimpangkan menjadi ‘Kalijogo’ atau ‘Kalijaga’.

Dakwah Sunan Kalijaga

Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Kalijaga membawa paham keagamaan yaitu salafi –bukan sufi-panteistik ala Kejawen yang ber-motto-kan ‘Manunggaling Kawula Gusti’. Ini terbukti dari sikap tegas beliau yang ikut berada dalam barisan Sunan Giri saat terjadi sengketa dalam masalah ‘kekafiran’ Syekh Siti Jenar dengan ajarannya bahwa manusia dan Tuhan bersatu dalam dzat yang sama.

Sunan Kalijaga sangat toleran terhadap budaya lokal dari masyarakat yang beliau kunjungi untuk berdakwah. Sunan Kalijaga berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap, dengan mengikuti budaya dan adat sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga memiliki keyakinan jika Islam sudah dipahami, maka dengan sendirinya kebiasaan lama akan hilang tahap demi tahap. Tidak heran, jika ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam.

Sunan Kalijaga melakukan dakwah nya menggunakan budaya daerah seperti seni ukir, wayang, gamelan serta seni suara sebagai sarana dakwah. Beberapa lagu suluk ciptaan dari Sunan Kalijaga yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Sunan Kalijaga adalah menggagas baju takwa, perayaan sekatenan, garebeg maulud, serta lakon carangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu (“Petruk Jadi Raja”). Lanskap pusat kota berupa kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga.

Ajaran Sunan Kalijaga

ajaran-ajaran sunan kalijaga ialah sebagai berikut ini :

  • Marsudi ajining sarira yang bertujuan mengajak para orang islam menghargai diri sendiri,kemudian baru menghargai orang lain.
  • Manembah (menyembah). Hal ini bahwa sunan kalijaga mengajarkan menyembah kepada allah.Dalam arti menyembah mematuhi segala perintahnya dan menjauhi semua larangannya allah swt.
  • Mangabdi (mengabdi) bentuk dari ajakan sunan kalijaga agar berbakti kepada kedua orang tua kita. Menurut saya sendiri itu yang dimaksud mengabdi sunan kalijaga bukan hanya itu tetapi guru sekolah juga termasuk orang tua kita.
  • Maguru (berguru) bahwa sunan kalijaga memberikan contoh ajakan untuk mencari ilmu yang telah dijelaskan dalam hadist untuk mencari ilmu.
  • Martapa (bertapa). Sunan kalijaga mengajarkan untuk selalu prihatin dan hidup dengan sederhana tidak berlebihan harta benda.

Peninggalan dan Pusaka Sunan Kalijaga


Rompi Onto Kusumo

Rompi Onto Kusumo ini didapatkan oleh Sunan Kalijaga setelah beliau menghatamkan Al-quran. Tepatnya pada hari kamis pada waktu malam jum’at legi,dan dengan disaksikan oleh para wali lainnya yang sedang berkumpul di masjid agung Demak. Setelah solat subuh secarah berjamaah bersama-sama mereka menemukan kulit kambing.

Dan kemudian dibuat rompi dan di rajah oleh sunan bonang dan inilah yang dimaksud sebagai rompi onto kusumo. Rompi Onto Kusumo ini digunakan oleh sunan kalijaga sebagai tameng untuk menaklukan nyai roro kidul yang menguasai pantai selatan.

Ketika Sunan Kalijaga melawan nyai roro kidul rompi ini mengeluarkan cahaya yang berkilau sehingga sang penguasa pantai selatan tidak dapat melawan kanjeng sunan kalijaga.

Keris Kiai Carubuk

Keris kiai carubuk, dibuat oleh empu supa yang tidak salah merupakan sahabat dari sunan kalijaga. Waktu kanjeng sunan minta bantuan agar dibuatkan keris tetapi empu supa terheran-heran karena bahan baku untuk yang dibawakan sunan tidak biasa.

Yaitu bijih besi yang ukurannya hanya sebuah biji namun dengan berat yang luar biasa,atau tidak sesuai ukuran semestinya. Setelah keris kiai carubuk jadi empu supa langsung menyerahkan keris tersebut kepada sunan kalijaga. Keris kiai Carubuk ini memiliki 17 lekuk dan sunan kalijaga memberi nama keris kiai carubuk.

Keris kiai carubuk ini sangat sakti karena kiris ini mampu mengalahkan keris milik arya penangsang saat terjadi pemberontakan di Mataram,yaitu keris setan kober. Karena keris setan kober telah merengut banyak nyawa orang yang benar. Sehingga membuat sunan kalijaga geram dan akhirnya beliau dapat mengalahkannya.

Sendang atau Sumur

Sendang yang terletak tidak jauh dari makam Sunan Kalijaga, yakni berjarak sekitar 200 meter. Banyak masyarakat yang meyakini bahwa air di sumur ini sangat bertuah,tidak hanya sedikit orang yang datang dengan berbondong-bondong.

Masyarakat sekitar memberikan saran bila mengambil air sumur tersebut harus membaca bismillah dan dilanjutkan dengan amin. Berbagai fakta bahwa perantara menggunakan air ini bisa menyembuhkan penyakit yang diderita juga cepat sembuh.

Batu Bobot

batu bobot merupakan batu yang memang sengaja sunan kalijaga tinggalkan. Beliau tinggalkan dalam perjalanan dakwah di mrapen. Karena batu ini memiliki berat yang sangat luar biasa jadi sengaja ditinggalkan dan tidak mungkin untuk dibawa pulang. Menurut sejarah batu ini pernah sebagai landasan untuk menempa keris kiai carubuk oleh empu supa.

Makam Sunan Kalijaga

Sunan kalijaga Wafat pada 1513 M dan makam Sunan Kalijaga terletak di desa kadilangu,kecamatan Demak,kabuapaten Demak,jawa tengah. Ditempat itulah kanjeng sunan Kalijaga dimakamkan dan menurut cerita beliau hidup lebih dari 100 tahun. Beliau juga ikut mendirikan masjid agung Demak dan masjid agung Cirebon.

Sunan kalijaga juga membuat beberapa si’ir jawa seperti ilir-ilir,gundul-gundul pacul,sekaten,serat cerita wayang layang kalimasada. Ternyata semua si’ir beliau itu merujuk ke agama islam yang memiliki arti sendiri-sendiri. Sedangkan wayang layang sebagai media untuk mengislamkan orang jawa zaman dahulu. Seperti berwudhu dan syahadat. Dan alhamdulillah banyak masyarakat yang memeluk agama islam yang sampai sekarang semakin banyak.

Sehingga banyak orang yang berziarah ke makam beliau hanya mendoakan beliau dan sebagai media mengingat kematian. Karena setiap yang bernyawa akan mati jadi kita semua harus mengingat kematian dan memperbanyak amal baik semata-mata karena allah swt.

Sumber: https://www.infobiografi.com
                https://udfauzi.com/

Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah Sunan Kalijaga Lengkap Semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sejarah Sunan Kalijaga Lengkap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel