Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah Sunan Gunung Jati Lengkap

Sunan Gunung Jati [Sumber Gambar]
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Pada artikel kali ini kita akan membahas sejarah tentang sunan gunung jati yang merupakan sunan yang menyebarkan Agama Islam di wilayah Jawa Barat yaitu lebih tepatnya di daerah Cirebon. Pada saat itu Daerah cirebon sebenarnya sudah ada seorang ulama Islam yang datang ke Cirebon sebelum kedatangan Sunan Gunung Jati.

Ulama besar itu bernama Syekh kahfi atau sering disebut dengan syekh datuk kahfi beliau berasal dari Baghdad, dari negara Irak. Syekh kahfi datang ke Cirebon ditemani oleh muridnya yang berjumlah 20 orang.

Sebenarnya sebelum memutuskan menyiarkan agama Islam di pulau Jawa, Syaikh Syarif Hidayatullah yang kita kenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati ini telah ditunjuk sebagai penerus ayahnya sebagai raja yang berkuasa di Mesir.

Namun jiwa pembelajar dan keinginan yang kuat untuk menyampaikan dakwah dan ajaran agama Islam sejauh yang bisa dijangkau, membuat Sunan Gunung Jati menyerahkan jabatan itu kepada adiknya yang bernama Syarif Nurullah. Sedangkan Sunan Gunung Jati sendiri memulai perjalanan untuk menuju pulang menuju tempat kelahiran ibundanya yaitu di pulau Jawa sekaligus untuk berdakwah menyebarkan ajaran Agama Islam.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang Sejarah Sunan Gunung Jati mari kita bahas bersama Lets Go......

Biografi Sunan Gunung Jati

  • Nama Asli Sunan Gunung jati: Syarif Hidayatullah.
  • Ayah Sunan Gunung Jati: Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar.
  • Ibu Sunan Gunung Jati: Nyai Rara Santang (Syarifah Muda’im).
  • Istri Sunan Gunung Jati: Nyai Kawunganten.
  • Anak Sunan Gunung Jati: Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I.
  • Wilayah Dakwah Sunan Gunung Jati: Cirebon, Banten dan Demak.
  • Peninggalan Sunan Gunung Jati: Masjid merah Panjunan, Kumangang Pintu, dan Kereta untuk berdakwah.
  • Tahun Wafatnya: 1568 M.
  • Makam Sunan Gunung Jati: Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Cirebon Jawa Barat.

Sunan Gunung Jati memiliki nama asli Syarif Hidayatullah adalah putra dari Syarif Abdullah Umdatuddin putra Ali Nurul Alam putra Syekh Husain Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu, Sunan Gunung Jati masih termasuk dalam keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja.

Sunan Gunung Jati mengembangkan kota Cirebon sebagai pusat dakwah dan pemerintahan beliau, yang sesudahnya kemudian menjadi sebuah Kesultanan Cirebon. Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan menyebarkan agama Islam di wilayah Banten, sehingga kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.

Asal Usul Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati memiliki nama kelahiran bernama Syarief Hidayatulloh yang dilahirkan Tahun 1448 Masehi. Ayah dari Sunan Gunung Jati atau Syech Syarief Hidayatulloh adalah Syarief Abdullah, beliau adalah seorang dari Mesir yang merupakan keturunan ke 17 dari Nabi Muhammad SAW, bergelar Sultan Maulana Muhamad, Ibu dari Sunan Gunung Jati adalah Nyai Rara Santang dan setelah masuk dan memeluk agama Islam nama Rara Santang berganti nama menjadi Syarifah Muda’im beliau adalah Putri dari Prabu Siliwangi dari kerajaan Padjajaran.

Sunan Gunung Jati berkelana untuk belajar Agama Islam di tanah kelahiran Ibundanya yaitu di tanah Jawa dan sampai di wilayah Cirebon pada tahun 1470 Masehi. Sunan Gunung Jati dengan didukung uwanya, Tumenggung Cirebon Sri Manggana Cakrabuana alias Pangeran Walangsungsang dan didukung Kerajaan Demak, Sunan Gunung Jati Syech Syarief Hidayatulloh kemudian dinobatkan menjadi Raja Cirebon dengan gelar Maulana Jati pada tahun 1479.

Sejak setelah Sunan Gunung Jati diangkat menjadi Raja Cirebon beliau membuat pembangunan insfrastruktur Kerajaan Cirebon yang pembangan tersebut kemudian dibangun dengan dibantu oleh Sunan Kalijaga, Arsitek Demak Raden Sepat, yaitu Pembangunan Keraton Pakungwati, Masjid Agung Sang Cipta Rasa, jalan pinggir laut antara Keraajaan Pakungwati dan Amparan Jati serta Pelabuhan Muara Jati.

Dakwah Sunan Gunung Jati

Sejak kecil Sunan Gunung Jati sudah menguasai ilmu yang begitu menonjol dalam pengetahuan agama Islam, kecerdasan dan luasnya wawasan. Dan Sunan Gunung Jati juga memiliki akhlak yang baik dari cara bertindak dan bicaranya. Sunan Gunung Jati belajar ilmu agama di kota Makkah, Baghdad, Gujarat dan Palestina dari para ulama-ulama dan ahli agama.

Selain itu Sunan Gunung Jati juga belajar pada ulama yang sudah berada di tanah jawa yaitu kepada Sunan Ampel di Pesantren Ampel Denta dan di Pesantren Amparanjati Sunan Gunung Jati berguru kepada Syaikh Datuk Kahfi atau yang lebih dikenal dengan sebuta Syaikh Nurjati.

Sebenarnya pada saat Sunan Gunung Jati sebelum memutuskan untuk berdakwah untuk menyiarkan agama Islam di pulau Jawa, Syaikh Syarif Hidayatullah ini telah ditunjuk oleh Ayahnya sebagai penerusnya untuk menjadi seorang Raja di Mesir.

Namun jiwa pembelajar dan keinginan yang begitu kuat Sunan Gunung Jati untuk berkelana dan berdakwah menyampaikan ajaran agama sejauh yang bisa dijangkau, membuat Sunan Gunung Jati harus menyerahkan jabatan itu kepada adiknya Yaitu Syarif Nurullah. Sedangkan Sunan Gunung Jati sendiri akan memulai perjalanan untuk menuju pulau Jawa sekaligus tempat kelahiran ibundanya.

Maka pada tahun 1470 Sunan Gunung Jati memulai perjalanan dakwahnya untuk menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Jawa. Dalam perjuangan dakwah yang dilakukan oleh Sunan Gunung Jati ini mendapat tantangan terbesar yang harus Sunan Gunung Jati tanggung adalah kenyataan bahwa eyangnya sendiri masih belum memeluk agama Islam. Sebagaimana diketahui, munculnya agama Islam di daerah Cirebon pada waktu itu masih belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat.

Khususnya bagi orang-orang yang hidup di daerah pedalaman dan kerajaan-kerjaan yang masih memegang teguh menganut ajaran budaya agama Hindu-Budha. Oleh karena itu pada saat Sunan Gunung Jati akan memulai dakwahnya di daerah Cirebon Jawa Barat dengan kerendahan hati, Sunan Gunung Jati menemui eyangnya yaitu Prabu Siliwangi untuk meminta izin.

Pada saat Sunan Gunung Jati meminta izin kepada Prabu Siliwangi, kemudian Prabu Siliwangi menjawab “Kau boleh menyebarkan ajaran baru di sini, tetapi jangan dengan paksaan. Jangan sampai karena beda bahasa dalam sesembahan, darah tumpah ke bumi. Bumi dan langit tak akan merestui kepada siapa saja yang datang untuk saling menghinakan”

Pesan dari Prabu Siliwangi itulah yang Sunan Gunung Jati pegang dengan erat dengan kesungguhan hati. Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Gunung Jati memilih untuk menggunakan metode lemah lembut dan kekeluargaan. Kearifan budi dan akhlak itulah yang pada akhirnya membuat banyak masyarakat Cirebon mulai mengikuti ajaran Sunan Gunung Jati. Apalagi sejak Sunan Gunung Jati diangakat menjadi Raja Cirebon dan diamanahi untuk melanjutkan kepemimpinan di Pesantren Amparanjati, setelah Syaikh Nurjati meninggal dunia.

Hanya saja dengan berjalannya hari, Sunan Gunung Jati menyadari bahwa dalam memperjuangkan dakwah agama Islam, ternyata tidak hanya bisa memakai cara lemah lembut. Karena banyak orang-orang dari kerajaan Hindu-Budha yang mulai merasa terganggu dengan kedatangan agama Islam yang mulai berkembang pesat di wilayah Cirebon.

Baik itu dari pihak kerajaan Majapahit juga kerajan di Pajajaran. Apalagi sejak Sunan Gunung Jati membangun hubungan baik dengan kesultanan Demak. Mereka berusaha menjatuhkan pengaruh Islam dengan berbagai cara.

Ajaran Sunan Gunung Jati

 1. Yang berkaitan dengan ketaqwaan dan keyakinan adalah

  • Titip fakir miskin
  • Jika shalat harus khusu’ dan tawadhu seperti anak panah yang menancap kuat
  • Jika puasa harus kuat seperti tali gondewa
  • Ibadah itu harus terus menerus, harus istiqomah
  • Hati harus bersyukur kepada Allah
  • Banyak-banyaklah bertobat

2. Yang berkaitan dengan kedisiplinan

  • Jangan mengingkari janji
  • Yang salah tidak usah ditolong
  • Jangan belajar untuk kepentingan yang tidak benar atau disalahgunakan

3. Yang berkaitan dengan kearifan dan kebijakan adalah

  • Jauhi sifat yang tidak baik
  • Miliki sifat yang baik
  • Jangan serakah atau berangasan dalam hidup
  • Jauhi pertengkaran
  • Jangan suka mencela sesuatu yang belum terbukti kebenarannya
  • Jangan suka berbohong
  • Kabulkan keinginan orang
  • Jangan makan sebelum lapar
  • Jangan minum sebelum haus
  • Jangan tidur sebelum ngantuk
  • Jika kaya harus dermawan
  • Jangan suka menghina orang
  • Harus dapat menahan hawa nafsu
  • Harus mawas diri
  • Tampilkan perilaku yang baik
  • Carilah rejeki yang halal
  • Jangan banyak mengharap pamrih
  • Jika bersedih jangan diperlihatkan agar cepat hilang
  • Miliki sifat terpuji
  • Jangan suka menyakiti hati orang
  • Jika sering disakiti orang hadapilah dengan kecintaan tidak dengan aniaya
  • Jangan mengagungkan diri sendiri
  • Jangan sombong dan takabur
  • Jangan dendam

4. Yang berkaitan dengan kesopanan dan tatakrama

  • Harus hormat kepada orang tua
  • Harus hormat pada leluhur
  • Hormat, sayangi, dan mulyakan pusaka
  • Hendaklah menyanyangi sesama manusia
  • Hormati tamu

5. Yang berkaitan dengan kehidupan sosial

  • Jangan berangkat haji ke Mekkah, jika belum mampu secara ekonomis dan kesehatan
  • Jangan mendaki gunung tinggi atau menyelam ke dalam kawah, jika tidak mempunyai persiapan atau keterampilan
  • Jangan menjadi imam dan berkhotbah di Mesjid Agung, jika belum dewasa dan mempunyai ilmu keIslaman yang cukup
  • Jangan berdagang, jika hanya dijadikan tempat bergerombol orang
  • Jangan berlayar ke lautan, jika tidak mempunyai persiapan yang matang.

Wafat Sunan Gunung Jati

Sunan Gunug Jati atau Syech Maulana Jati berpulang ke Rahmatullah pada tanggal 26 Rayagung tahun 891 Hijriah atau bertepatan dengan tahun 1568 Masehi. Tanggal Jawanya adalah 11 Krisnapaksa bulan Badramasa tahun 1491 Saka. Sunan Gunung Jati meninggal dalam usia 120 tahun, sehingga Putra dan Cucunya tidak sempat memimpin Cirebon karena Sunan Gunung Jati meninggal terlebih dahulu. Sehingga cicitnya yang memimpin setelah Syech Maulana Jati. Syech Syarief Hidayatullah kemudian dikenal dengan Sunan Gunung Jati karena dimakamkan di Bukit Gunung Jati.

 Sumber:
  • https://informazone.com
  • https://www.biografiku.com

Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah Sunan Gunung Jati Semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

0 Response to "Sejarah Sunan Gunung Jati Lengkap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel