Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah Sunan Giri Lengkap

Gambar Sunan Giri [Sumber Gambar]
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang sejarah Sunan Giri, yang merupakan seorang ulama besar dan merupakan bagian dari anggota dari Wali Songo, yaitu sembilan orang Sunan yang berdakwah untuk menyebarluaskan ajaran agama Islam di seluruh tanah Jawa.

Sunan Giri merupakan seorang pendiri dari kerajaan Giri Kedaton yang terletak diwilayah Gresik, Jawa Timur. Kerajaan Giri Kedaton dimanfaatkan oleh Sunan Giri sebagai tempat yang digunakan untuk pusat penyebaran agama Islam di Jawa Timur, yang pada kemudian hari dakwah Sunan Giri pengaruhnya merambah hingga sampai ke wilayah Madura, Lombok, Kalimantan, dan Sulawesi.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang Sejarah Sunan Giri mari kita bahas bersama Lets Go......

Biografi Sunan Giri

  • Nama Asli Sunan Giri: Muhammad Ainul Yakin.
  • Nama Lain dari Sunan Giri: Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, Raden ‘Ainul Yaqin dan Joko Samudra.
  • Ayah Sunan Giri: Maulana Ishaq
  • Ibu Sunan Giri: Dewi Sekardadu
  • Tempat kelahiran Sunan Giri: Blambangan (Banyuwangi), Jawa Timur.
  • Daerah Dakwah Penyebaran Islam Sunan Giri: Gresik, Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.
  • Peninggalan Sunan Giri: Tembang Pucung, Tembang Asmarandana, Masjid Giri, Giri Kedaton dan Telogo Pegat.
  • Tahun Wafat Sunan Giri: 1506 M
  • Makam Sunan Giri: Kebomas, Gresik, Jawa Timur.

Sunan Giri adalah putra dari Syekh Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad SAW, dan beliau merupakan seorang murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang. Sunan Giri mendirikan pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik, yang selanjutnya berperan sebagai pusat dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia timur, bahkan sampai ke kepulauan Maluku.

Asal Usul Sunan Giri

Pada awal ke abad 14 M, kerajaan Blambangan pada waktu itu pada masa pemerintahan Prabu Menak Sembuyu, yang merupakan salah seorang keturunan dari Prabu Hayam Wuruk yang berasal dari kerajaan Majapahit. Raja Menak Sembuyu dan rakyat di kerajaan Blambangan pada saat itu memeluk agama Hindu dan sebagian yang lainnya memeluk agama Budha.

Pada suatu hari Prabu Menak Sembuyu sedang mengalami rasa gelisah yang sangat dalam, demikian pula permaisurinya pasalnya puteri mereka satu-satunya sedang mengalami jatuh sakit selama beberapa bulan dan tak kunjung sembuh. Raja Menak Sembuyu sudah berusaha untuk menyembuhkan putrinya dengan mendatangkan tabib dan dukun untuk mengobati tapi sang puteri belum sembuh juga.

Memang pada waktu itu kerajaan Blambangan sedang kacau yang diakibatkan oleh serangan wabah penyakit. Banyak rakyat yang menjadi korban, satu demi satu penduduk berjatuhan. Menurut gambaran babad tanah jawa keadaan di kerajaan Blambangan tersebut sangatlah mengerikan, yaitu esok sakit sorenya mati. Seluruh penduduk kerajaan Blambangan sangat prihatin, mereka berduka dan hampir semua kegiatan dan aktifitas sehari-hari di kerajaan Blambangan menjadi macet total.

Atas saran dari permaisuri Prabu Menak Sembuyu untuk mengadakan sebuah sayembara di kerajaan Blambangan. Sayembara tersebut adalah barang siapa yang dapat menyembuhkan penyakit yang di derita oleh puterinya akan diambil sebagai menantu dari Prabu Menak Sembuyu dan barang siapa yang dapat mengusir wabah penyakit yang sedang melanda kerajaan Blambangan akan diangkat sebagai Bupati atau Raja Muda di kerajaan tersebut. Sayembara tersebut akhirnya terus disebar hampir keseluruh pelosok  negeri. Tapi sudah berbulan-bulan dari sayembara tersebut diadakan namun tidak juga ada orang yang dapat memenangkan sayembara tersebut.

Permaisuri makin sedih hatinya melihat putri satu-satu nya sedang terbaring menderita penyakit yang tak kunjung sembuh, prabu Menak Sembuyu tak tega melihat istrinya bersedih maka Prabu Menak Sembuyu berusaha untuk menghibur isterinya dengan menugaskan Patih Bajul Sengara untuk mencari seorang pertapa sakti mandra guna untuk mengobati penyakit yang diderita sang tuan puteri.

Patih Bajul Sengara yang diiringi oleh beberapa prajurit pilihan kerajaan Blambangan, untuk segerah berangkat melaksanakan tugasnya untuk mencari seorang pertapa sakti untuk menyembuhkan penyakit puteri Prabu Menak Sembuyu. Seorang pertapa biasanya tinggal dipuncak  dan di lereng-lereng gunung untuk melakukan pertapaan, maka  kesanalah tujuan Patih Bajul Sengara.

Patih Bajul Sengara akhirnya bertemu dengan seorang pertapa bernama Resi Kandabaya yang mengetahui adanya seorang tokoh sakti dari negeri seberang. Orang yang dimaksud adalah Syekh Maulana Ishak yang sedang berdakwah untuk menyebarkan agama Islam secara sembunyi-sembunyi dinegeri Blambangan.

Lantas Patih Bajul Sengara pergi untuk mencari tokoh sakti bernama Syekh Maulana Ishak dan akhirnya Patih Bajul Sengara dapat bertemu dengan Syekh Maulana Ishak yang sedang bertafakkur di dalam sebuah goa. Syekh Maulana Ishak mau mengobati puteri Prabu Menak Sembuyu namun dengan persyaratan Prabu mau masuk untuk memeluk agama Islam. Syekh Maulana Ishak memang ahli dan memiliki ilmu pengetahuan yang luas dibidang ilmu kedokteran, puteri Dewi Sekar Dadu akhirnya dapat di sembuhkan oleh Syekh Maulana Ishak hanya dengan sekali diobati.

Wabah penyakit yang telah melanda kerajaan Blambangan juga akhirnya berhasil dilenyapkan dari wilayah Blambangan. Sesuai sayembara dan janji yang diberikan oleh Raja maka Syekh Maulana Ishak dinikahkan dengan Dewi Sekardadu. Kemudian  Syekh Maulana Ishak diberi kedudukan sebagai Adipati untuk menguasai sebagian wilayah kerajaan Blambangan.

Hasutan Patih Bajul Sengara

Setelah tujuh bulan lamanya Syekh Maulana Ishak menjadi adipati baru di kerajaan Blambangan, dan Syekh Maulana Ishak terus berdakawah untuk menyebarkan agama islam hingga makin hari semakin bertambah banyak penduduk di kerajaan Blambangan yang memeluk agama Islam. Sementara itu Patih Bajul Sengara tidak terima akan hal itu, patih tersebut tak henti-hentinya  untuk mempengaruhi sang prabu dengan hasutan-hasutan jahatnya. Hati Prabu Menak Sembuyu jadi panas setelah mendengar hasutan dari Patih Bajul Sengara.

Patih Bajul Sengara sendiri sepengetahuan dengan sang Prabu sudah sering mengadakan teror kepada pengikut Syekh Maulana Ishak yang memeluk agama Islam. Tidak sedikit penduduk Kadipaten yang dipimpin Syekh Maulana Ishak diculik, disiksa dan dipaksa oleh Patih Bajul Sengara untuk kembali pada agama lama mereka.

Pada saat kejadian itu istri dari Syekh Maulana Ishak, Dewi Sekardadu sedang hamil tujuh bulan, Syekh Maulana Ishak sadar bila dakwah beliau diteruskan maka akan terjadi pertumpahan darah di kerajaan Blambangan yang seharusnya tidak perlu. Syekh Maulana Ishak merasa kasihan terhadap rakyat jelata yang harus menanggung akibatnya. Maka Syekh Maulana Ishak segera pamit kepada isterinya yaitu Dewi Sekardadu untuk pergi meninggalkan kerajaan Blambangan.

Dua bulan kemudian setelah kepergian dari Syekh Maulana Ishak, pada saat itu juga kehamilan Sekardadu sudah mencapai 9 bulan, dan dari rahim Sekardadu lahirlah sosok bayi laki-laki yang elok rupanya. Sesungguhnya Prabu Menak Sembuyu dan permaisurinya merasa sangat senang dan bahagia melihat kehadiran cucunya yang montok dan rupawan dari rahim puterinya itu. Bayi yang dilahirkan oleh Sekardadu itu lain dari pada yang lain, bayi itu wajahnya mengeluarkan cahaya terang.

Lain halnya dengan Patih Bajul Sengara dia terus menghasut Prabu Menak Sembuyu untuk membunuh bayi yang dilahirkan tersebut. Kebetulan pada saat itu wabah penyakit berjangkit kembali melanda kerajaan Blambangan, maka Patih Bajul Sengara berulah lagi untuk terus menghasut Prabu Menak Sembuyu untuk membunuh bayi tersebut.

Patih Bajul Sengara menghasut Prabu Menak Sembuyu dengan hasutan "Cepat atau lambat bayi itu akan menjadi bencana dikemudian hari. Wabah penyakit inipun menurut dukun-dukun terkenal di kerajaan Blambangan ini disebabkan karena adanya hawa panas yang memancar dari jiwa bayi yang dilahirkan sekardadu itu" Hasutan Patih Bajul Sengara dengan alasan yang dibuat-buat.

Sang Prabu Menak Sembuyu tidak cepat mengambil keputusan, dikarenakan dalam hatinya dia terlanjur untuk menyukai kehadiran cucunya itu. Namun Patih Bajul Sengara tiada bosan-bosannya meneror Prabu Menak Sembuyu dengan hasutan dan tuduhan keji yang akhirnya sang Prabu terpengaruh juga oleh Patih Bajul Sengara untuk membunuh bayi tersebut.

Walau demikian tiada tega juga Prabu Menak Sembuyu untuk memerintahkan pembunuhan atas cucunya itu secara langsung. Maka Prabu Menak Sembuyu merencanakan bayi yang masih berusia empat puluh hari tersebut kemudian dimasukkan kedalam peti dan diperintahkan untuk membuang peti tersebut ke samudera.

Di Kenal Dengan Nama Joko Samudro

Pada suatu malam ada sebuah perahu dagang yang berlayar di samudra dari Gresik melintasi selat Bali. Ketika perahu itu berada ditengah-tengah selat Bali tiba-tiba terjadi keanehan, perahu dagang itu macet dan terhenti tidak dapat bergerak, maju tidak bisa mundurpun juga tidak bisa.

Nahkoda pemimpin kapal dagang tersebut kemudian memerintahkan awak kapalnya untuk memeriksa sebab terjadinya berhentinya kapal tersebut, yang memungkinkan perahunya membentur sebuah batu karang. Setelah awak kapal itu memeriksa kapal, ternyata perahu itu hanya menabrak sebuah peti yang memiliku ukiran yang indah, seperti peti yang dimilik  oleh kaum bangsawan pada umumnya  digunakan untuk menyimpan barang berharga.

Kemudian nahkoda memerintahkan Awak kapal tersebut untuk mengambil peti itu. Setelah peti tersebut berhasil di angkat keatas kapal dan membuka peti tersebut, semua orang dalam kapal tersebut terkejut, karena didalamnya terdapat seorang bayi mungil yang bertubuh montok dan rupawan. Nahkoda  kapal tersebut merasa sangat gembira karena telah menyelamatkan jiwa si bayi mungil itu, tapi juga mengutuk orang yang tidak berperikemanusiaan yang telah membuang bayi tersebut.

Nahkoda kemudian memerintahkan awak kapal untuk segera melanjutkan pelayaran untuk menuju ke pulau Bali. Tapi perahu tersebut tidak dapat bergerak maju, namun ketika kemudi perahu tersebut diputar dan digerakkan ke arah wilayah Gresik ternyata perahu itu dapat melaju dengan cepatnya.

Setelah sampai di daerah Gresik Nahkoda dan para awak kapal pergi menghadap Nyai Ageng Pinatih, yang merupakan seorang janda yang kaya raya dan merupakan pemilik kapal dagang yang digunakan oleh Nahkoda tersebut. Bayi tersebut kemudian mereka serahkan kepada Nyai Ageng Pinatih untuk diambil sebagai anak angkat agar dapat dirawat dan dibesarkan. Memang sudah lama Nyai Ageng Pinatih menginginkan kehadiran seorang anak. Karena bayi ini ditemukan oleh Nahkoda di tengah samudera yang luas maka Nyai Ageng Pinatih kemudian memberinya nama Joko Samudro.

Ketika Joko Samudro telah berusia 11 tahun, Nyai Ageng Pinatih mengantarkan Joko Samudro untuk berguru menimba ilmu agama Islam kepada Raden Rahmat atau Sunan Ampel di Surabaya. Menurut beberapa sumber menceritakan mula pertama  Joko Samudro setiap hari ia pergi ke Surabaya dan pada sore hari ia kembali ke Gresik. Sunan Ampel kemudian menyarankan agar anak itu mondok saja di pondok pesantren Ampeldenta supaya lebih konsentrasi dalam mempelajari agama Islam.

Pada saat Joko Samudro berada di pondok pesantren Ampeldenta, terjadi sebuah kejadian yang luar biasa, ketika itu pada saat malam seperti biasa Sunan Ampel hendak mengambil air wudhu dan kemudian beliau melaksanakan sholat Tahajjud, dan dilanjutkan dengan mendoakan muridnya dan mendoakan umat agar selamat di dunia dan di akhirat. Sebelum berwudhu Sunan Ampel menyempatkan diri untuk melihat-lihat para santrinya yang tidur di asrama.

Tiba-tiba Sunan Ampel terkejut pada saat beliau melihat santrinya yang sedang tidur ada sinar terang yang memancar dari salah seorang santrinya. Selama beberapa saat setelah melihat pancaran sinar tersebut beliau tertegun, sinar terang itu menyilaukan kedua mata mata sunan ampel. Untuk mengetahui siapakah murid yang wajahnya bersinar itu maka Sunan ampel memiliki suatu cara yaitu dengan memberi ikatan pada sarung murid itu.

Kemudian pada waktu setelah melakukan sholat subuh Sunan Ampel memanggil murid-muridnya. Kemudian beliau bertanya kepada murid yang sudah berkumpul di depannya. Sunan Ampel bertanya " Siapakah diantara kalian yang waktu bangun tidur kain sarungnya ada ikatan?". Kemudian Joko Samudro pun mengangkat tangan dan berkata kepada Sunan Ampel" Saya kanjeng sunan".

Setelah Sunan Ampel melihat muridnya yang mengacungkan tangan adalah Joko Samudra, membuat Sunan Ampel semakin yakin bahwa Joko Samudro pastilah bukan anak sembarangan. Kebetulan pada saat itu Nyai Ageng Pinatih datang untuk menengok Joko Samudra ke Pondok Pesantren Ampeldenta, kesempatan itu digunakan oleh Sunan Ampel untuk bertanya lebih jauh tentang asal-usul dari muridnya yaitu Joko Samudra.

Nyai Ageng Pinatih kemudian menjawab pertanyaan dari Sunan Ampel dengan sejujur-jujurnya. Bahwa Joko Samudra ditemukan ditengah selat Bali ketika masih bayi, yang pada saat itu bayi Joko Samudro ditemukan didalam sebuah peti. Peti yang digunakan untuk membuang bayi itu hingga sekarang masih tersimpan rapi dirumah Nyai Ageng Pinatih.

Teringat pada pesan yang disampaikan oleh Syekh Maulana Ishak sebelum berangkat ke negeri Pasai maka Sunan Ampel kemudian mengusulkan kepada Nyai Ageng Pinatih agar nama anak itu Joko Samudro diganti menjadi Raden Paku. Nyai Ageng Pinatih menurut saja kepada apa yang dikatakan oleh Sunan Ampel, Nyai Ageng Pinatih sangat percaya penuh  kepada Sunan Ampel yang merupakan seorang wali besar yang dihormati masyarakat bahkan juga masih terhitung seorang Pangeran Majapahit itu.

Perjalanan Raden Paku Bertemu Dengan Sang Ayah

Sewaktu mondok di pondok pesantren Ampeldenta, Raden Paku sangat akrab bersahabat dengan putera dari Sunan Ampel yang bernama Raden Makdum Ibrahim yang kelak akan melakukan dakwah agama Islam yang dikenal dengan Sunan Bonang. Keakraban dari Raden Paku dengan Raden Makdum Ibrahim sangatlah dekat bagai saudara kandung saja, mereka saling menyayangi dan saling mengingatkan dalam hal kebaikan.

Setelah Raden Paku berusia 16 tahun, kedua pemuda tersebut yaitu Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim dianjurkan oleh Sunan Ampel untuk menimba ilmu pengetahuan yang lebih tinggi di negeri seberang sambil meluaskan  ilmu pengetahuan dan pengalaman mereka.

Di negeri Pasai terdapat begitu banyak orang pandai dari berbagai negeri. Disana juga ada ulama besar yang bergelar Syekh Awwallul Islam. Dialah yang merupakan ayah kandung dari Raden Paku yang nama aslinya adalah Syekh Maulana Ishak. Pergilah kesana tuntutlah ilmunya yang tinggi dan teladanilah kesabarannya dalam mengasuh para santri dan berjuang dalam dakwahnya untuk menyebarkan agama Islam. Hal itu akan berguna kelak bagi kehidupanmu di masa yang akan datang ujar Sunan Ampel sebagai salam perpisahan untuk kedua santrinya.

Pesan yang telah disampaikan oleh Sunan Ampel tersebut kemudian dilaksanakan oleh Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim. Dan begitu mereka berdua telah sampai di negeri Pasai keduanya disambut gembira, penuh rasa haru dan bahagia oleh Syekh Maulana Ishak yang merupakan ayah kandung dari Raden Paku yang tak pernah melihat anaknya sejak bayi.

Setelah sampai di negeri Pasai dan telah bertemu dengan Ayahnya kemudian Raden Paku menceritakan tentang riwayat hidupnya sejak masih kecil ditemukan ditengah samudera dan kemudian diambil anak angkat oleh Nyai Ageng Pinatih dan hingga berguru pada Sunan Ampel di pondok pesantren Ampeldenta di Surabaya.

Sebaliknya setelah Raden Paku telah selesai bercerita kemudian Syekh Maulana Ishak menceritakan tentang pengalamannya di saat beliau berdakwah di wilayah Kerajaan Blambangan sehingga akhirnya beliau dipaksa untuk harus meninggalkan isteri yang sangat dicintainya pada saat isterinya sedang hamil tujuh bulan.

Setelah mendengar cerita dari Syekh Maulana Ishak yang merupakan ayah kandungnya, Raden Paku menangis sesegukan mendengar kisah itu. Raden Paku bukan menangis karena kemalangan dirinya yang disia-siakan oleh kakeknya yaitu Prabu Menak Sembuyu tetapi, Raden Paku memikirkan nasib ibu kandungnya yang tak diketahui lagi dimana tempatnya berada. Apakah ibu kandungnya masih hidup atau sudah meninggal dunia.

Di negeri Pasai Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim menjumpai banyak ulama besar dari negeri asing yang menetap dan membuka pelajaran agama Islam kepada penduduk setempat, hal ini tidak disia-siakan oleh kedua pemuda tersebut. Kedua pemuda itu belajar agama dengan tekun, baik, dan sungguh-sungguh kepada Syekh Maulana Ishak sendiri maupun kepada guru-guru agama lainnya yang ia jumpai di negeri Pasai.

Ada yang beranggapan bahwa Raden Paku dikaruniai Ilmu Laduni yaitu ilmu yang langsung berasal dari Tuhan, sehingga kecerdasan otak yang dimiliki oleh Raden Paku seolah tiada bandinganya. Disamping belajar ilmu Tauhid Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim juga mempelajari ilmu Tasawuf dari ulama Iran, Bagdad dan Gujarat yang banyak menetap di negeri Pasai.

Setelah tiga tahun berada di pusat negeri Pasai. Dan masa belajar Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim itu sudah dianggap cukup oleh Syekh Maulana Ishak, kedua pemuda itu diperintahkan untuk kembali ke tanah jawa. Oleh ayahnya, Raden Paku diberikan sebuah bungkusan kain putih yang didalam bungkusan kain tersebut berisi tanah.

Saat Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim hendak pergi Syekh Maulana Ishak berpesan kepada Raden Paku "Kelak, bila tiba masanya dirikanlah pesantren di Gresik, carilah tanah yang sama betul dengan tanah dalam bungkusan ini disitulah kau membangun pesantren", demikianlah pesan ayahnya.

Raden Paku dan Raden Makdum Ibrahim kemudian kembali ke Surabaya. Melaporkan segala pengalamannya selama berada di negeri Pasai kepada Sunan Ampel. Sunan Ampel memerintahkan Makdum Ibrahim berdakwah di Tuban, sedangkan Raden Paku diperintah pulang ke Gresik untuk kembali ke ibu angkatnya yaitu Nyai Ageng Pinatih.

Pada saat usia Raden Paku mencapai 23 tahun, Raden Paku diperintah oleh ibunya untuk mengawal barang dagangan yang akan dikirimkan ke pulau Banjar atau Kalimantan. Tugas ini kemudian langsung diterima dan dikerjakan oleh Raden Paku dengan senang hati. Nahkoda kapal diserahkan  kepada pelaut kawakan yaitu Abu Hurairah yang memimpin perjalanan kapal tersebut. Walau yang menjadi pimpinan berada di tangan Abu Hurairah tapi Nyai Ageng Pinatih juga memberi kuasa pula kepada Raden Paku untuk ikut memasarkan dagangan di Pulau Banjar.

Kapal dagang yang berjumlah tiga buah berangkat untuk meninggalkan pelabuhan Gresik dengan penuh muatan yang akan diperdagangkan. Biasanya, sesudah dagangan dalam muatan kapal itu telah habis terjual di Pulau Banjar maka Abu Hurairah diperintah oleh Nyai Ageng Pinatih untuk membawa barang dagangan dari pulau Banjar yang sekiranya laku di pulau Jawa, seperti rotan, damar, emas dan lain-lain. Dengan strategi perdagangan yang demikian memiliki keuntungan yang diperoleh menjadi berlipat ganda, tapi kali ini tidak sesuai dengan yang diharapkan, karena pada saat sesudah kapal merapat di pelabuhan Banjar, Raden paku bertindak untuk membagi-bagikan barang dagangannya dari Gresik itu secara gratis kepada penduduk setempat.

Tentu saja tindakan dari Raden Paku yang membagi-bagikan barang dagangan tersebut membuat Abu Hurairah selaku Nahkoda kapal menjadi cemas. Dia segera memprotes tindakan yang dilakukan oleh Raden Paku, "Raden….kita pasti akan mendapat murka Nyai Ageng Pinatih. Mengapa barang dagangan kita diberikan secara cuma-cuma?".

Raden Paku pun kemudian menjawab "Jangan kuatir paman, kata Raden Paku. Tindakan saya ini sudah tepat. Penduduk Banjar saat ini sedang dilanda musibah. Mereka dilanda kekeringan dan kurang pangan. Sedangkan ibu sudah terlalu banyak mengambil keuntungan dari mereka, sudahkah ibu memberikan hartanya dengan membayar zakat kepada mereka?, Saya kira belum, nah sekaranglah saatnya ibu mengeluarkan zakat untuk membersihkan diri.".

Kemudian Abu Huraira menjawab "Itu diluar wewenang saya Raden, kata Abu Hurairah. Jika kita tidak memperoleh uang lalu dengan apa kita mengisi perahu supaya tidak oleng dihantam gelombang dan badai?".

Raden Paku terdiam beberapa saat setelah mendengar ucapan dari Abu Huraira. Abu Huraira sudah maklum bila barang dagangan yang ia bawa telah habis  terjual biasanya Abu Hurairah akan mengisi kapal atau perahu dengan barang dagangan dari Kalimantan untuk dibawah pulang dan dijual di Pulau Jawa. Tapi sekarang tak ada uang yang didapat dari barang dagangan tersebut dan kondisi kapal sendang dalam keadaan kosong maka dengan apa dagangan pulau Banjar akan dibeli.

Setelah itu Raden Paku memiliki ide untuk mengisi kapal tersebut dengan karung yang di isi dengan pasir dan batu. Kemudian Raden Paku berbicara kepada Abu Huraira "Paman tak usah risau, kata Raden Paku dengan tenangnya. Supaya kapal tidak oleng isilah karung-karung kita dengan batu dan pasir".

Memang benar dengan mengisi karung dengan pasir dan batu membuat kapal menjadi tenang kuat diterjang ombak samudra, mereka dapat berlayar hingga dipantai Gresik dalam keadaan selamat. Tapi hati Abu Hurairah masih mengalami ketakutan atas tindakan yang telah dilakukan Raden Paku membuat hati Abu Huraira menjadi kebat-kebit sewaktu berjalan meninggalkan kapal untuk bertemu dengan Nyai Ageng Pinatih untuk melaporkan hasil perdagangan tersebut.

Dugaan Abu Hurairah memang benar. Ketika Abu Huraira sampai dan melapor kepada Nyai Ageng Pinatih langsung terbakar amarahnya setelah mendengar perbuatan yang telah dilakukan oleh Raden Paku yang dianggap tidak normal. Kemudian Raden Paku berbicara kepada Nyai Ageng Pinatih " Sebaiknya ibu lihat dulu" ujar Raden Paku kepada Nyai Ageng Pinatih.

Nyai Ageng Pinatih yang pada saat itu sedang marah menjawab dengan kerah "Sudah, jangan banyak bicara. Buang saja pasir dan batu itu. Hanya mengotori karung-karung kita saja!",

Kemudian Awak kapal pun melakukan perintah dari Nyai Ageng Pinatih untuk membuka karung-karung tersebut dan kemudian membuangnya. Namun pada saat Awak kapal membuka karung tersebut, alangkah terkejutnya mereka melihat isi dari karung-karung tersebut berubah menjadi barang-barang dagangan yang biasa mereka bawa dari banjar, seperti rotan, damar, kain dan emas serta intan.

Pernikahan Raden Paku Sehari Menikahi Dua Orang Wanita Sekaligus

Ada suatu kisah yang menceritakan tentang seorang bangsawan dari kerajaan Majapahit yang bernama Ki Ageng Supa Bungkul beliau mempunyai sebuah pohon delima yang aneh, pohon delima itu terletak didepan rumahnya. Keanehan yang terjadi ialah bahwa setiap kali ada orang yang hendak akan mengambil buah delima yang berbuah satu itu pasti mengalami nasib celaka, seperti kalau tidak ditimpa penyakit berat tentulah orang tersebut meninggal dunia. Suatu ketika pada saat itu Raden Paku tanpa sengaja lewat didepan pekarangan  Ki Ageng Supa Bungkul. Begitu Raden Paku berjalan dibawah pohon delima aneh tersebut tiba-tiba buah dari pohon delima itu jatuh mengenai kepala Raden Paku.

Ki Ageng Bungkul pun tiba-tiba muncul dan keluar dari rumah untuk mencegat Raden Paku yang sedang berjalan didepan rumahnya, Ki Ageng Bungkul kemudian berkata, "kau harus kawin dengan puteriku Dewi Wardah".

Memang pada saat itu, Ki Ageng Bungkul sedang mengadakan sayembara, siapa saja yang dapat memetik buah delima itu dengan selamat maka pria tesebut akan dijodohkan dengan puterinya yang bernama Dewi Wardah. Raden Paku saat itu langsung merasa bingung untuk menghadapi hal itu. Maka peristiwa yang sedang terjadi pada Raden Paku itu disampaikan kepada Sunan Ampel untuk meminta saran.

Setelah Raden Paku menyampaikan kepada Sunan Ampel tentang kejadian tersebut, maka Sunan Ampel menenangkan perasaan Raden Paku yang sedang bingung. Saat itu demikian lah perkataan Sunan Ampel kepada Raden Paku "tidak usah bingung, Ki Ageng Bungkul adalah serang muslim yang baik. Aku yakin Dewi Wardah juga seorang muslimah yang baik. Karena hal itu menjadi niat Ki Ageng Bungkul kuharap kau tidak mengecewakan niat baiknya itu".

Bukannya tenang, Raden Paku malah menjadi semakin bingung dengan perkataan Sunan Ampel lalu Raden Paku bertanya kembali ke Sunan Ampel "Tapi…….bukankah saya hendak menikah dengan puteri Kanjeng Sunan Yaitu dengan Dewi Murtasiah". Seketika Sunan Ampel pun menjawab pertanyaan Raden Paku "Tidak mengapa? Kata Sunan Ampel. Sesudah melangsungkan akad nikah dengan Dewi Murtasiha selanjutnya kau akan melangsungkan pernikahan dengan Dewi Wardah".

Itulah liku-liku perjalan hidup yang dilaui oleh Raden Paku. Dalam sehari Raden Paku menikah sebanyak dua kali. Raden Paku menjadi menantu Sunan Ampel, yang kemudian menjadi menantu daro Ki Ageng Bungkul yang merupakan seorang bangsawan dari kerajaan Majapahit. Makam Ki Agen Bungkul yang hingga sekarang masih terawat baik dan dapat dikunjungi di Surabaya.

Raden Paku Mendirikan Pondok Pesantren Di Pegunungan

Sesudah menjalani kehidupan dengan berumah tangga, Raden Paku semakin giat dalam melakukan perdagangan dan berlayar antar pulau. Sambil melakukan kegiatan berdagang dan berlayarnya itu Raden Paku menyiarkan agama Islam pada penduduk setempat sehingga nama Raden Paku cukup terkenal di kepulauan nusantara.

Lama kelamaan kegiatan dagang yang selama ini dilakukan oleh Raden Paku tidak memuaskan hatinya, Raden Paku sebenarnya ingin berkonsentrasi untuk berdakwah dalam menyiarkan agama Islam dengan mendirikan sebuah pondok pesantren. Raden Paku kemudian akhirnya mematangkan kepusannya dan meminta izin kepada ibunya yaitu Nyai Ageng Pinatih untuk meninggalkan dunia perdagangan.

Nyai Ageng Pinatih yang kaya raya itu tidak keberatan dengan permintaan Raden Paku, andaikata hartanya yang banyak itu dimakan setiap hari dengan anak dan menantunya rasanya tiada akan habis, terlebih juragan Abu Hurairah yang merupakan orang kepercayaan Nyai Ageng Pinatih juga telah menyatakan kesanggupannya untuk mengurus seluruh kegiatan perdagangan milik Nyai Ageng Pinatih, maka wanita itu ikhlas untuk melepaskan kepergian Raden Paku yang hendak mendirikan sebuah pondok pesantren.

Setelah berpamitan mulailah Raden Paku pergi untuk bertafakkur digoa yang sunyi, selama 40 hari 40 malam Raden Paku tidak keluar dari dalam goa. Raden Paku hanya bermunajat kepada Allah untuk meminta petunjuk. Goa yang digunakan sebagai tempat Raden Paku bertafakkur itu hingga saat ini masih ada yaitu desa Kembangan dan Kebomas.

Setelah selesai bertafakkur selama 40 hari 40 malam didalam goa, teringatlah Raden Paku pada pesan ayahnya sewaktu Raden Paku belajar di negeri Pasai. Raden Paku pun berjalan untuk berkeliling daerah yang tanahnya mirip dengan tanah yang diberikan oleh Ayahnya yang dibawa dari negeri Pasai.

Melalui desa Margonoto, sampailah Raden Paku didaerah tempat perbukitan yang memiliki hawa yang sangat sejuk, hati Raden Paku terasa damai, Raden Paku pun kemudian mencocokkan tanah yang dibawanya dengan tanah ditempat pegunungan itu. Dan ternyata tanah di tempat tersebut cocok sekali dengan tanah yang dibawa Raden Paku. Maka di desa Sidomukti itulah Raden Paku kemudian memutuskan untuk mendirikan pondok pesantren. Karena ditempat itu merupakan tempat dataran tinggi atau gunung maka dinamakanlah Pesantren Giri. Giri dalam bahasa sansekerta memiliki arti sebagai gunung.

Atas dukungan yang diberikan oleh isteri-isterinya dan ibunya juga dukungan spiritual dari  guru dan ayahnya yaitu Sunan ampel dan Syekh Maulana Ishak, tidak begitu lama hanya dalam waktu tiga tahun setelah pondok pesantren Giri dibangun, pondok pesantren tersebut sudah terkenal ke seluruh nusantara.

Menurut babad tanah jawa murid-murid dari pondok pesantren Sunan Giri itu justru bertebaran hampir diseluruh penjuru benua besar di dunia, seperti benua Eropa (Rum), Arab, Mesir, Cina dan lain-lain. Semua keberhasilan itu adalah sebuah bentuk penggambaran nama Sunan Giri sebagai ulama besar yang sangat dihormati orang pada jamannya. Disamping pesantrennya yang besar Sunan Giri juga membangun sebuah mesjid sebagai pusat ibadah dan pembentukan iman umatnya. Untuk para santri yang datang dari jauh Sunan Giri juga membangun asrama yang luas untuk ditempati oleh santrinya.

Jasa-Jasa dan Dakwah Sunan Giri

Sunan Giri yang merupakan seorang penggerak dakwah ajaran agama Islam yang berpusat di Kedaton Giri, tidak luput dari peranannya dengan metode dakwah seperti yang dilakukan oleh para penyebar Islam lainnya, yaitu dengan mendirikan pondok pesantren yang akan digunakan untuk mendidik anak-anak negeri yang datang dari penjuru nusantara dengan pengetahuan agama islam. Selain itu, upaya yang dilakukan Sunan Giri dalam mendekatkan Islam kepada anak-anak yakni dengan menciptakan lagu serta permainan dengan memasukkan unsur-unsur jiwa agamis.

Di antara permainan anak-anak yang diciptakan oleh Sunan Giri yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa Timur adalah “Jelungan” atau “Jitungan”. Dalam permainan ini disimbolkan dengan satu tonggak kayu atau pohon yang kuat. Adapun filosofi dari permainan ini adalah mengajarkan manusia tentang keselamatan hidup yakni dengan cara berpegang teguh pada agama. Selain itu Sunan Giri juga menciptakan lagu atau tembang yakni “Dolanan Bocah” dan “Ilir-ilir”.

Sunan Giri pernah menjadi hakim dalam perkara pengadilan Syekh Siti Jenar, yang merupakan seorang wali yang dianggap murtad karena menyebarkan faham Pantheisme yang menganggap dirinya sebagai tuhan itu sendiri dan meremehkan syariat Islam yang disebarkan oleh para wali lainnya. Dengan demikian sunan Giri ikut turun serta untuk menghambat tersebarnya aliran yang bertentangan dengan faham Ahlussunnah wal jama’ah.

Keteguhan yang dilakukan oleh Sunan Giri dalam berdakwah untuk menyiarkan agama Islam secara murni dan konsekuen membawa begitu banyak dampak positif bagi generasi Islam pada masa berikutnya. Islam yang disiarkan dalam dakwah Sunan Giri adalah Islam sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW tanpa dicampuri dengan adat istiadat lama.

Selaintu dalam dunia kesenian karya Sunan Giri juga berjasa besar, karena Sunan Girilah yang pertama kali menciptakan tembang Asmaradana dan tembang Pucung, Sunan Giri pula yang menciptakan tembang dan dolanan atau permainan anak-anak yang bernafas Islam antara lain: jamuran, Cublak-ublak Suweng, Jithungan dan Delikan.

Anak-anak biasanya pada saat melakukan permainan yang disebut jelungan tersebut, mereka sambil menyanyikan tembang padang bulan:

Padhang-padhang bulan,
Ayo gage dha dolananan,
Dolanane na ing latar,
Ngalap padhang gilar-gilar,
Nundhung begog hangetikar.

Berikut adalah arti tembang tersebut dalam bahasa Indonesia.

Malam terang bulan,
Marilah lekas bermain,
Bermain dihalaman,
Mengambil manfaat benderangnya rembulan,
Mengusir gelap yang lari terbirit-birit.

Maksud dari tembang atau lagu dolanan padhang bulan  karya dari Sunan Giri tersebut adalah. Agama Islam telah datang, maka marilah kita segera menuntut penghidupan, dimuka bumi ini, untuk mengambil manfaat dari agama Islam, agar hilang lenyaplah kebodohan dan kesesatan.

Keturunan Penerus Sunan Giri

Pengaruh Sunan Giri sangatlah besar terhadap perkembangan kerajaan Islam di jawa maupun di luar jawa. Sebagi buktinya adalah adanya kebiasaan bahwa apabila seorang hendak dinobatkan menjadi raja haruslah mendapat pengesahan dari Sunan Giri.

Giri Kedaton atau Kerajaan Giri berlangsung selama 200 tahun. Sesudah Sunan Giri meninggal dunia beliau digantikan anak keturunannya yaitu:

  1. Sunan Dalem
  2. Sunan Sedomargi
  3. Sunan Giri Prapen
  4. Sunan Kawis Guwa
  5. Panembahan Ageng Giri
  6. Panembahan Mas Witana Sideng Rana
  7. Pangeran Singonegoro (bukan keturunan Sunan Giri
  8. Pengeran Singosari

Pangeran Singosari merupakan penerus Giri Kedaton yang terakhir, Pangeran Singosari ini berjuang dengan gigih mempertahankan diri dari serbuan Sunan Amangkurat II yang dibantu oleh VOC dan Kapten Jonker. Sesudah pangeran Singosari wafat pada tahun 1679, habislah kekuasaan Giri Kedaton. Meski demikian kharisma Sunan Giri sebagai ulama besar wali terkemuka tetap abadi sepanjang masa.

Sumber:
  • kisah-kisahwalisongo.blogspot.com

Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah Sunan Giri Semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

0 Response to "Sejarah Sunan Giri Lengkap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel