Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah Sunan Drajat Lengkap

Sunan Drajat [Sumber Gambar]
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang sejarah dari Sunan Drajat. Sunan drajat merupakan salah satu wali yang sangat terkenal pada masa perkembangan agama Islam di pulau Jawa. Sunan drajat merupakan salah satu wali yang termasuk dalam anggota Wali Songo, yaitu sembilan orang wali yang sangat berjasa dalam melakukan dakwah penyebaran agama Islam di Tanah jawa.

Nama Sunan Drajat tentu sudah tidak asing lagi di kalangan umat muslim di tanah jawa terutama di daerah lamongan yang merupakan tempat dakwah beliau. Sunan Drajat menyebarkan agama Islam di Lamongan cengan cara mengajarkan kepada masyarakat tentang cara hidup bersama sebagai makhluk sosial yaitu dengan saling menghargai dan membantu sesama.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang Sejarah Sunan Drajat mari kita bahas bersama Lets Go......

Biografi Sunan Drajat


  • Nama Asli Sunan Drajat: Raden Qosim.
  • Kakek: Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
  • Ayah: Raden Rahmat (Sunan Ampel)
  • Ibu: Dewi Chandrawati (Nyi Ageng Manila)
  • Wilayah Dakwah Sunan Drajat: Desa Jelog, Pesisir Banjarwati, Lamongan.
  • Peninggalan Sunan Drajat: Gamelan singa mangkok.
  • Tahun Wafatnya: 1522 M.
  • Makam Sunan Drajat: Paciran, Lamongan.

Sunan Drajat adalah seorang putra dari Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad SAW. Nama asli dari sunan drajat adalah masih munat. Masih munat nantinya terkenal dengan nama sunan drajat. Nama sewaktu masih kecil dari sunan drajat adalah Raden Qasim. Sunan drajat terkenal di masyarakat dengan kegiatan sosialnya.

Sunan Drajat adalah wali yang memelopori penyatuan anak-anak yatim dan orang sakit. Sunan Drajat banyak berdakwah kepada masyarakat dengan lebih menekankan ajaran kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam.

Asal Usul Sunan Drajat

Sunan Drajat memiliki nama kecil bernama Raden Qasim, Qosim, atau Kasim. Sunan Drajat juga memiliki nama-nama lain yang beliau sandang yang disebutkan dalam berbagai naskah kuno. Misalnya Sunan Mahmud, Sunan Mayang Madu, Sunan Muryapada, Raden Imam, Maulana Hasyim, Syekh Masakeh, Pangeran Syarifuddin, Pangeran Kadrajat, dan Masaikh Munat.

Sunan Drajat adalah salah satu putra dari Raden Rahmat atau Sunan Ampel dari perkawinan dengan Nyi Ageng Manila, alias Dewi Condrowati. Empat putra Sunan Ampel lainnya dari Nyi Ageng Manila adalah Sunan Bonang, Siti Muntosiyah, yang dinikahi Sunan Giri, Nyi Ageng Maloka, yang diperistri Raden Patah, dan seorang putri yang disunting oleh Sunan Kalijaga.

Ada sebuah kisah, Raden Qasim menghabiskan masa anak-anak dan remajanya di kampung halamannya di Ampeldenta, Surabaya yang merupakan tempat dakwah ayah nya yaitu Sunan Ampel . Setelah Raden Qasim telah dewasa, beliau diperintahkan oleh ayahnya yaitu Sunan Ampel, untuk melakukan dakwah agam Islam di wilayah pesisir barat Gresik.
Perjalanan ke Gresik ini merangkumkan sebuah cerita, yang kelak  akan berkembang menjadi sebuah legenda. Setelah di perintahkan oleh ayah nya maka, berlayarlah Raden Qasim dari Surabaya menuju Gresik, dengan menumpang biduk nelayan. Di tengah perjalanan, perahu yang ditumpangi oleh Raden Qasim tersebut terseret badai, dan pecah dihantam ombak di daerah Lamongan, yang merupakan sebuah wilayah sebelah barat Gresik.
Raden Qasim selamat dengan berpegangan pada dayung perahu. Kemudian, beliau ditolong oleh ikan cucut dan ikan talang –masyarakat ada juga yang menyebut ikan tersebut ikan cakalang. Dengan menunggang kedua ikan itu, dan berpegangan pada gayung perahu Raden Qasim akhirnya berhasil mendarat di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Kampung Jelak, Banjarwati.
Menurut tarikh, persitiwa yang dialami Raden Qasim ini terjadi pada sekitar tahun 1485 Masehi. Di sana, Raden Qasim dengan disambut baik oleh tetua kampung bernama Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar. Konon, Mbah Mayang Madu dan Mbah Banjar sudah diislamkan oleh pendakwah asal Surabaya, yang juga terdampar di daerah itu beberapa tahun sebelumnya.
Raden Qasim kemudian menetap di Jelak, dan kemudian beliau menikah dengan Kemuning,  yang merupakan putri dari Mbah Mayang Madu. Di Jelak, Raden Qasim mendirikan sebuah surau yang merupakan sebuah tempat ibadah untuk umat muslim sama seperti Mushola atau Langgar, dan akhirnya surau tersbut menjadi pondok pesantren tempat mengaji ratusan penduduk.

Desa Jelak, yang semula cuma sebuah dusun kecil dan terpencil, lambat laun  desa tersebut berkembang menjadi kampung yang besar dan ramai. Nama desa Jelak kemudian berubah menjadi Banjaranyar. Selang tiga tahun, Raden Qasim pindah ke selatan, yang berjarak sekitar satu kilometer dari Jelak pesantren tersebut, untuk pindah ke tempat yang lebih tinggi dan terbebas dari banjir pada musim hujan.

Tempat itu dinamai Desa Drajat. Namun, Raden Qasim, yang mulai dipanggil Sunan Drajat oleh para pengikutnya, masih menganggap desa Drajat masih belum strategis sebagai pusat dakwah penyebaran agama Islam. Sunan Drajat lantas kemudian diberi izin oleh Sultan Demak, yang merupakan seorang yang menjadi penguasa Lamongan kala itu, untuk membuka lahan baru di daerah perbukitan yang berada di selatan. Lahan tersebut berupa hutan belantara, hutan itu dikenal penduduk sebagai daerah yang angker.

Menurut beberapa kisah, banyak makhluk halus yang marah akibat pembukaan  hutan belantara yang akan dijadikan lahan itu. para makhluk halus penunggu hutan tersebut meneror penduduk pada malam hari, dan menyebarkan penyakit.

Namun, berkat kesaktian yang telah dimiliki oleh Sunan Drajat, beliau mampu mengatasi teror dari makhluk halus tersebut. Setelah pembukaan lahan rampung, Sunan Drajat bersama para pengikutnya membangun sebuah permukiman baru, seluas sekitar sembilan hektare.
Atas petunjuk Sunan Giri, lewat mimpi, Sunan Drajat menempati sisi perbukitan selatan, yang kini menjadi kompleks pemakaman, dan kemudian komleks tersebut dinamai Ndalem Duwur. Sunan Drajat kemudian mendirikan masjid terletak agak jauh di sebelah barat tempat tinggalnya. Masjid itulah yang menjadi tempat berdakwah Sunan Drajat untuk menyampaikan ajaran Islam kepada penduduk.

Dakwah Sunan Drajat

Empat pokok ajaran Sunan Drajat adalah: Paring teken marang kang kalunyon lan wuta; paring pangan marang kang kaliren; paring sandang marang kang kawudan; paring payung kang kodanan.

Artinya: berikan tongkat kepada orang buta; berikan makan kepada yang kelaparan; berikan pakaian kepada yang telanjang; dan berikan payung kepada yang kehujanan.

Sunan Drajat sangatlah memperhatikan masyarakat-masyarakatnya. Sunan Drajat kerap berjalan mengitari perkampungan di sekitar pondok pesantren pada waktu malam hari. Sehingga penduduk setempat merasa aman dan terlindungi dari gangguan makhluk halus yang, konon, makhluk halus tersebut telah merajalela selama dan setelah dilakukannya pembukaan hutan.

Setelah melakukan salat asar, Sunan Drajat juga berkeliling kampung sambil membaca zikir, dan beliau juga mengingatkan para penduduk untuk melaksanakan kewajiban untuk melakukan salat magrib yang sebentar lagi akan waktunya. ”Berhentilah bekerja, jangan lupa salat,” kata dari Sunan Drajat dengan nada membujuk.

Sunan Drajat selalu menelateni warga yang sedang mengalami sakit, dengan mengobatinya menggunakan berbagai ramuan tradisional, dan doa. Sebagaimana para wali yang lain, Sunan Drajat terkenal dengan kesaktian yang dimilikinya. Sumur Lengsanga yang terletak di kawasan Sumenggah, misalnya, diciptakan oleh Sunan Drajat ketika beliau sedang merasa kelelahan dalam suatu perjalanan.

Ketika itu, Sunan Drajat meminta pengikutnya untuk mencabut wilus, yang merupakan sejenis umbi hutan. Ketika Sunan Drajat sendang merasakan kehausan, beliau berdoa. Maka, dari sembilan lubang bekas umbi itu memancar aliran air bening yang kemudian lubang dari bekas umbi wilus tersebut menjadi sebuah sumur abadi. Dalam beberapa naskah menjelaskan, Sunan Drajat disebut-sebut menikahi tiga perempuan. Setelah menikah dengan Kemuning, ketika menetap di Desa Drajat, Sunan mengawini Retnayu Condrosekar, putri Adipati Kediri, Raden Suryadilaga.

Strategi Dakwah Sunan Drajat

Sunan Drajat memperkenalkan ajaran agama Islam melalui konsep dakwah bil-hikmah, dengan cara-cara yang bijak, dan tanpa memaksa. Dalam menyampaikan ajarannya, Sunan Drajat menempuh lima cara. Pertama, beliau berdakwah lewat pengajian secara langsung di masjid, surau, mushola atau langgar. Kedua, melalui penyelenggaraan pendidikan di podok pesantren. Selanjutnya, memberi fatwa atau petuah dalam menyelesaikan suatu masalah yang dialami oleh masyarakat dan muridnya. Cara keempat, melalui kesenian tradisional. Sunan Drajat kerap berdakwah lewat tembang pangkur dengan iringan gending. Terakhir, ia juga menyampaikan ajaran agama melalui ritual adat tradisional, sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Filosofi Sunan Drajat

Filosofi Sunan Drajat dalam pengentasan kemiskinan kini terabadikan dalam sap tangga ke tujuh dari tataran komplek Makam Sunan Drajat. Secara lengkap makna filosofis ke tujuh sap tangga tersebut sebagai berikut :

  • Memangun resep tyasing Sasoma (kita selalu membuat senang hati orang lain)
  • Jroning suka kudu éling lan waspada (di dalam suasana riang kita harus tetap ingat dan waspada)
  • Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita - cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)
  • Mèpèr Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan gelora nafsu-nafsu)
  • Heneng - Hening - Henung (dalam keadaan diam kita akan mem­peroleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita - cita luhur).
  • Mulya guna Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan salat lima waktu)
  • Mènèhana teken marang wong kang wuta, Mènèhana mangan marang wong kang luwé, Mènèhana busana marang wong kang wuda, Mènèhana ngiyup marang wong kang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masya­rakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)
Sumber Referensi: wikipedia.org
                               biografiku.com

Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah Sunan Drajat Semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sejarah Sunan Drajat Lengkap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel