Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah Sunan Ampel Lengkap

Sunan Ampel [Sumber Gambar]
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Pada artikel kali ini kita akan membahas tentang sejarah sunan Ampel. Sunan Ampel merupakan salah satu Walisongo yang sangat berjasa dalam menyebarkan Agama Islam di Nusantara khususnya di wilayah Surabaya, Jawa timur.

Pada artikel ini kita akan membahas tentang biografi sunan Ampel, keluarga dan keturunan dari sunan Ampel, cara berdakwah dan ajaran dari sunan Ampel, dan dimana sunan Ampel dimakamkan, beserta peninggalan sejarah dan kisah dari murit sunan Ampel yang terkenal.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang Sejarah Sejarah Sunan Ampel mari kita bahas bersama Lets Go......

Biografi Sunan Ampel

  • Nama Asli Sunan Ampel: Raden Rahmat.
  • Ayah: Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik).
  • Ibu: Dewi Chandrawulan.
  • Istri: Dewi Karimah, dan Dewi Chandrawati.
  • Anak Dari Dewi Karimah: Dewi Murtasih, Dewi Murtasimah
  • Anak Dari Dewi Chandrawati: Siti Syare’at, Siti Mutmainah, Siti Sofiah, Raden Maulana Makdum Ibrahim atau (Sunan Bonang), serta Syarifuddin atau Raden Kosim yang disebut dengan (Sunan Drajat).
  • Wilayah Dakwah Sunan Ampel: Surabaya, Jawa Timur
  • Peninggalan Sunan Ampel: Masjid Ampel di Ampel Denta, Surabaya.
  • Tahun Wafatnya: 1481 M.
  • Makam Sunan Ampel: Sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.

Menurut dalam sejarah Walisongo, inti sari dari ajaran yang di amalkan oleh Sunan Ampel yang terkenal pada saat itu yaitu dikenal dengan istilah “Moh Limo“ adalah istilah dari bahasa jawa. Moh Limo merupakan bahasa jawa yang terdiri dari dua kata yaitu kata Moh yang artinya tidak atau menolak, dan lima Limo memiliki arti lima.

Maksudnya adalah pada inti ajaran Sunan Ampel terdapat makna “Untuk menolak dan tidak mengerjakan lima perkara yang dilarang. Kelima perkara itu  adalah Moh Main (Tidak Berjudi), Moh Ngombe (Tidak Minum Alkohol), Moh Maling (Tidak Mencuri), Moh Madat (Tidak Menghisap Narkoba), Moh Madon (Tidak Berzina).

Asal Usul Sunan Ampel

Sunan Ampel pada masa kecilnya memiliki nama Sayyid Muhammad ‘Ali Rahmatullah dan setelah beliau pindah ke jawa timur masyarakat memanggilnya dengan nama Raden Rahmat. Sunan Ampel diperkirakan lahir pada tahun 1401 di wilayah Champa, dan merupakan anak dari Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik).

Lokasi kelahiran Sunan Ampel di wilayah Champa terdapat dua pendapat dari para ahli yaitu menurut Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa wilayah bernama Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja.Sedangkan menurut Raffles menyatakan bahwa wilayah bernama Champa terletak di Aceh yang sekarang ini bernama Jeumpa.

Menurut beberapa riwayat menjelaskan bahwa, orang tua dari Sunan Ampel adalah Ibrahim Asmarakandi yang berasal dari wilayah Champa dan Ibrahim Asmarakandi menjadi raja di sana. Dalam catatan Kronik Cina, Ibrahim Asmarakandi dikenal sebagai Bong Swi Hoo.

Ibrahim Asmarakandi memiliki nama lain yang disebut sebagai Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Maulana Malik Ibrahim dan adiknya, Maulana Ishaq adalah anak dari Syekh Jumadil Qubro. Ketiganya berasal dari Samarkand, Uzbekistan, Asia Tengah.

Menurut Hikayat Banjar dan Kotawaringin, nama asli Sunan Ampel adalah Raja Bungsu, yang merupakan seorang anak dari Sultan Pasai. Sunan Ampel datang ke Majapahit untuk mengunjungi atau menengok kakaknya yang diambil sebagai istri oleh Raja Mapajahit. Raja Majapahit pada waktu itu bernama Dipati Hangrok dengan mangkubuminya bernama Patih Maudara. Dipati Hangrok telah memerintahkan menterinya Gagak Baning untuk melamar Putri Pasai dengan membawa sepuluh buah perahu menuju ke kerajaan Samudra Pasai.

Kerajaan Samudra Pasai sebagai kerajaan penganut agama Islam, awal mulanya Sultan Pasai sangat keberatan jika Putrinya akan dijadikan isteri oleh Raja Majapahit, tetapi karena takut akan binasa kerajaannya akhirnya Putri dari Sultan Pasai tersebut dilepaskan juga untuk menjadi istri dari Raja Majapahit. Putri Pasai dengan Raja Majapahit memperoleh anak laki-laki, anak tersebut diduga adalah Raden Patah.

Karena rasa sayangnya Putri Pasai kemudian melarang Raja Bungsu untuk pulang kembali ke kerajaan Samudra Pasai. Sebagai seorang ipar dari Raja Majapahit, Raja Bungsu kemudian meminta sebuah lahan atau tanah yang kemudian ia gunakan untuk menetap di wilayah pesisir yang dinamakan Ampelgading.

Saat raja bungsu atau Raden Rahmat berada di Ampel yang merupakan daerah yang  berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan oleh raja Majapahit ini, kemudian di daerah inilah beliau membangun sebuah pondok pesantren. Mula-mula Sunan Ampel merangkul masyarakat disekitarnya. Pada waktu pertengahan abad ke-15, pondok pesantren tersebut menjadi pusat pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan tersohor hingga Mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri dari pondok pesantren tersebut lalu disebarnya untuk berdakwah ke berbagai penjuru dan pelosok tanah Jawa dan Madura.

Sunan Ampel menganut fikih mazhab Hanafi. Namun, pada para santrinya, Sunan Ampel hanya memberikan pengajaran sedehana, beliau menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Sunan Ampel lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon), yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum-minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotika, dan tidak berzina”.

Dakwah Sunan Ampel

Pada tahun 1443 M Sunan Ampel bersama dengan ayah dan saudaranya, datang untuk berkunjung dan berdakwah ke pulau Jawa. kemudian beliau menjadi bupati Surabaya untuk menggantikan Arya Lembu Sura yang merupakan seorang putra dari mertuanya yaitu Arya Teja. Raden Rahmat atau Sunan Ampel kemudian membangun keakraban dengan penguasa yang bertujuan untuk mempermudah proses penyebaran dakwah agama Islam dengan cara menikahkan para penyebar agama Islam dengan para penguasa di wilayah setempat.

Selanjutnya, Sunan Ampel mengganti nilai-nilai dari keagungan dan penaklukan yang dianut oleh kalangan masyarakat atau penduduk Majapahit yang jika diurai meliputi : adhigana, adhigung, adhiguna, rajas, niratisaya, jaya dan nirbhaya, Sunan Ampel menggantikannya dengan mengenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat yang meliputi : kesabaran, keikhlasan, kerendah-hatian, keadilan, guyup rukun, rilo, kesederhanaan, nrimo, ngalah, pasrah, ojo dumeh, dan sebagainya.

Sunan Ampel juga mengubah kebiasaan dan tradisi keagamaan, Sunan Ampel melakukan perubahan tradisi antara lain dapat kita lihat dengan adanya sebuah bedug maupun kentongan yang digunakan pada sebagian masjid atau mushola. Bedug adalah alat bunyi-bunyian yang pada masa itu disukai oleh orang-orang pemeluk ajaran agama Budha dan kentongan adalah alat bunyi-bunyian yang disukai oleh orang-orang pemeluk ajaran agama Hindu.

Usaha Sunan Ampel untuk mengembangkan agama Islam tidak dilakukan sendiri oleh Sunan Ampel namun beliau menugaskan para putera-putera beliau dan kerabatnya untuk membantu Sunan Ampel untuk menyebarkan dakwah agama Islam di Pulau Jawa.

Usaha dakwah lainnya yang dilakukan oleh Sunan Ampel yakni dengan membumikan Islam sesuai budaya penduduk setempat seperti peribadatan Islam pun diambil dari bahasa setempat, sebagai contoh istilah sembahyang yang beliau gunakan untuk mengganti istilah sholat, langgar untuk mengganti nama mushola, pasa (upawasa) untuk mengganti shaum, neraka untuk mengganti naar, swarga untuk mengganti jannah, bahkan nama Allah SWT diganti dengan menyebut pangeran, serta menambahkan kata kanjeng di depan nama Nabi Muhammad Saw yang bermakna Junjungan.

Strategi atau Cara Dakwah Sunan Ampel

Metode atau strategi dakwah yang dilakukan oleh Sunan Ampel dalam mendakwahkan ajaran agama Islam yakni salah satunya cara yang beliau gunakan adalah dengan mengislamkan Anasir Hindu seperti pemanfaatan pengaruh budaya agama Hindu berupa pertunjukan wayang purwa yang berpedoman pada cerita Mahabharata dan Ramayana yang cerita tersebut sudah diislamkan, untuk mengganti pertunjukan wayang beber yang berpedoman pada cerita panji-panji (krebet) yang digemari masyarakat jawa pada masa itu.

Selain itu, metode lain yang dilakukan oleh sunan Ampel yakni dengan membangun sumber-sumber air baru yang nantinya sumur tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat, dengan menguasai sumber air membuat masyarakat sekitar menjadi sangat bergantung.

Dan Sunan Ampel juga mengislamkan ajaran Syiwa-Buddha, karena ajaran Syiwa-Buddha yang dianut di Kerajaan Majapahit secara esensial memiliki sejumlah kesamaan dengan ajaran agama Islam, meski nama-nama dan istilah yang digunakan berbeda dengan istilah pada agama islam, karena Islam menggunakan bahasa Arab sementara Syiwa-Buddha menggunakan bahasa Sansekerta.

Wafat dan Makam Sunan Ampel

Sunan Ampel Wafat di Surabaya, Pada tahun 1425 Masehi. Makam Sunan Ampel terletak di daerah Ampel Denta, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Murid-murid Sunan Ampel yang terkenal

Seperti yang telah disebutkan diatas tadi bahwa murid-murid dari Sunan Ampel itu sangatlah banyak sekali, baik dari kalangan bangsawan dan para pangeran Majapahit maupun dari kalangan rakyat jelata. Bahkan beberapa anggota Wali Songo adalah murid-murid dari Sunan Ampel sendiri. Berikut adalah kisah dari 2 orang murid Sunan Ampel yang terkenal di masyarakat yang memiliki karomah luar biasa.

Mbah Soleh

Mbah Soleh adalah salah satu dari sekian banyak murid yang berguru kepada Sunan Ampel yang mempunyai karomah atau suatu keistimewaan yang luar biasa. Karoma mbah soleh adalah sebuah keajaiban yang tak ada duanya, dimana seorang manusia dikubur hingga sembilan kali. Ini bukan cerita buatan melainkan ada buktinya dan masih dapat kita lihat hingga saat ini. Disebelah timur masjid Agung Sunan Ampel disana terdapat makam yang berjumlah sembilan . Makam itu bukanlah makam dari sembilan orang tetapi hanya makam dari satu orang yaitu murid Sunan Ampel yang bernama Mbah Soleh.

Kisahnya demikian, Mbah Soleh adalah seorang murid yang biasa menjadi tukang sapu di masjid Ampel dimasa hidupnya Sunan Ampel. Apabila Mbah soleh menyapu lantai masjid tersebut sangatlah bersih sehingga orang-orang yang sedang melakukan sholat dan sedang melakukan sujud di masjid ampel meskipun tanpa menggunakan sajadah sekalipun tidak merasakan adanya debu di lantai masjid tersebut. Ketika Mbah Soleh wafat beliau dikubur didepan masjid ampel yang biasa ia bersihkan. Ternyata setelah kepergian Mbah Shole tidak ada santri yang sanggup mengerjakan pekerjaan Mbah Soleh yaitu menyapu lantai masjid Ampel dengan bersih sekali.

Maka sejak ditinggal Mbah Soleh masjid Ampel lantainya menjadi kotor. Kemudian terucaplah kata-kata yang keluar dari mulut Sunan Ampel, "bila Mbah Soleh masih hidup tentulah masjid ini menjadi bersih". Mendadak Mbah Soleh ada bagian dipengimaman masjid sedang menyapu membersihkan lantai lantai masjid dari debu. Seluruh lantai masjid sekarang menjadi bersih lagi. Orang-orang pada terheran kebingungan melihat sosok Mbah Soleh hidup lagi.

Beberapa bulan kemudian Mbah Soleh wafat lagi dan dimakamkan di samping makamnya yang dulu. Keadaan lantai di masjid ampel kini menjadi kotor kembali, lalu terucaplah kata-kata dari Sunan Ampel seperti dulu. Mbah Soleh pun hidup lagi. Hal ini berlangsung dan berulang beberapa kali sehingga makam Mbah Sholeh ada delapan. Pada saat makam Mbah Soleh ada delapan Sunan Ampel meninggalkan dunia. Beberapa bulan kemudian Mbah Soleh meninggal dunia sehingga kuburan Mbah Soleh ada sembilan. Kuburan yang terakhir berada di ujung sebelah timur.

Mbah Sonhaji

Mbah Sonhaji sering disebut sebagai Mbah Bolong oleh masyarakat sekitar. Mbah Bolong bukanlah gelar kosong atau sekedar olok-olokan buat seseorang. Mbah Bolong adalah salah seorang murid Sunan Ampel yang mempunyai karomah luar biasa.

Kisahnya demikian, pada waktu pembangunan Masjid Agung Ampel Mbah Sonhaji lah yang diberi tugas oleh Sunan Ampel untuk mengatur tata letak pengimaman Masjid Agung Ampel. Mbah Sonhaji bekerja dengan tekun dan penuh perhitungan untuk mengatur letak pengimaman, jangan sampai letak pengimaman masjid tidak menghadap ke arah kiblat. Tapi setelah pembangunan pengimaman itu selesai banyak masyarakat sekitar yang meragukan keakuratan letak pengimaman masjid Agung Ampel.

Apa betul letak pengimaman masjid ini sudah menghadap ke kiblat? Demikian tanya orang yang sedang meragukan pekerjaan Mbah Sonhaji kala itu.

Mbah Sonhaji tidak menjawab pertanyaan tersebut, melainkan beliau melubangi bagian dinding pengimaman sebelah barat lalu beliau berkata kepada orang-orang itu, lihatlah kedalam lubang ini, kalian akan tahu apakah pengimaman ini sudah menghadap kiblat atau belum?.

Orang-orang itu segera melihat kedalam lubang yang dibuat oleh Mbah Sonhaji. Ternyata didalam lubang yang dibuat oleh Mbah Sonhaji itu mereka dapat melihat Ka’bah yang berada di Mekah. Orang-orang ada melongo, terkejut, kagum dan akhirnya tak berani meremehkan keakuratan Mbah Sonhaji lagi. Dan sejak kejadianitu mereka bersikap hormat kepada Mbah Sonhaji dan mereka memberinya julukan Mbah Bolong.

Keteladanan Sunan Ampel Sebagai Pelajaran Masa Sekarang

Hal yang dapat diteladani dari cara berdakwah yang telah dilakukan Sunan Ampel, maupun kepribadian dari Sunan Ampel yakni bahwa kita harus pandai mengambil hati masyarakat atau teman pergaulan bila ingin diterima di dalam masyarakat, bukan dengan cara-cara yang bersifat koersif atau memaksa namun dengan cara-cara yang sifatnya tersirat melalui kombinasi antara kebudayaan yang dianut masyarakat setempat dalam hal ini Buddha dan Hindu dengan mengkombinasikannya dengan ajaran Islam.

Jadi ketika kita ingin mengajak masyarakat tidak dengan mengganti secara keseluruhan budaya dari masyarakat sehingga nantinya akan menimbulkan konflik, permusuhan atau peperangan dan tentunya menimbulkan ‘rasa enggan’ dari masyarakat untuk menerima ajaran Islam.

Sumber Referensi: id.wikipedia.org
                               gomuslim.co.id.


Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah Sejarah Sunan Ampel Semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

0 Response to "Sejarah Sunan Ampel Lengkap"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel