Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah Memperingati Maulid Nabi

Desert Tour [Sumber Gambar]
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Kali ini kita akan membahas tentang sejarah Maulid Nabi yang merupakan sebuah perayaan yang dilakukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi termasuk salah satu perayaan besar di Indonesia yang dikarenakan hari tersebut merupakan hari besar bagi umat islam, ditambah lagi mayoritas penduduk bangsa indonesia adalah beragama Islam.

Tradisi memperingati Maulid Nabi selalu di lakukan oleh warga di Indonesia setiap tanggal 12 Rabiul Awal. Bentuk peringatan ini dilakukan sebagai bentuk kegembiraan dan penghormatan kepada nabi Muhammad SAW. Setiap daerah mempunyai cara tersendiri untuk memperingati hari Maulid Nabi seperti grebek maulud di Aceh, dulangan di Lombok, membuat prahu hias di Tanggerang dan masih banyak lagi.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang Sejarah Memperingati Maulid Nabi mari kita bahas bersama Lets Go......

Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW

Secara bahasa kata maulid dapat diartikan sebagai waktu kelahiran yang merupakan hari dimana  Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Istilah Maulid Nabi sangat identik dengan perayaan untuk memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad yang dilakukan setiap tanggal 12 Rabiul Awal.

Tradisi perayaan Maulid Nabi sudah sangat lama ada dan terus berkembang di kalangan masyarakat islam di indonesia, jauh setelah wafatnya nabi Muhammad SAW. Masyarakat Indonesia melakukan perayaan maulid nabi sebagai suatu bentuk penghormatan dan sebagai ekspresi kegembiraan dari umat islam terhadap hari lahirnya Nabi Besar Muhammad SAW.

Kalau saat ini kita membahas tentang sejarah Maulid Nabi, lantas siapakah orang yang pertamakali merayakan Maulid Nabi. Berdasarkan dari hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : "Pada saat Nabi SAW. ditanya tentang puasa pada hari Senin, Nabi Muhammad SAW menjawab: “Hari Senin adalah hari kelahiranku,". Berdasarkan pada hadis ini menyatakan bahwa orang yang merayakan Maulid Nabi adalah Shaibul Maulid atau pemiliknya sendiri yaitu Nabi Muhammad SAW.

Dalam perkembangan jaman, perayaan Maulid Nabi pertama kalinya dilakukan secara meriah untuk pertama pada masa penguasa daerah Irbil yang merupakan daerah Irak sekarang ini, yaitu Raja Mudzaffar Abu Said Kaukabry bin Zainuddin Ali bin Baktakin. Lebih singkatnya adalah Raja Mudzaffar. Beliau merupakan seorang Raja yang sangat dermawan, pemberani, pandai, dan cerdik.

Yusuf bin Qaz yang merupakan seorang cucu dari Abu Farj Ibnul Jauzi dalam kitabnya yang berjudul "Mir'ah al-Zaman", dalam kitab tersebut menceritakan tentang Raja Mudzafar dalam setiap tahunnya pada saat perayaan Maulid Nabi beliau melakukan perayaan yang begitu meriah.

Raja Mudzafar setiap melakukan perayaan Maulid Nabi, beliau menyediakan 5.000 kepala kambing bakar, 10.000 potong ekor ayam, 100 kuda, 100.000 zabady, dan 30.000 piring yang berisikan dengan manisan seperti kurma. Perayaan Maulid Nabi tersebut dihadiri oleh para tokoh pembesar Ulama, dan tokoh sufi yang datang dari penjuru dunia.

Bahkan Raja Mudzafar juga menyediakan tempat penginapan khusus bagi tamu yang datang dari tempat yang jauh dari berbagai penjuru dunia. Raja Mudzafar mengeluarkan biaya 300.000 koin dinar untuk melakukan perayaan Maulid Nabi setiap tahunnya, dan sekitar 100.000 koin dinar untuk biaya penginapan para tamu.

Raja Mudzafar juga mengeluarkan 30.000 dinar setiap tahunnya yang beliau gunakan untuk perawatan Masjidil Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di madinah, dan untuk pengairan di Hijaz. Selain itu beliau juga mengeluarkan beberapa dinar sebagai sedekah-sedekah yang diberikan di sektor lainnya.

Istri Raja Mudzafar yang bernama Rabi’ah Khatun binti Ayyub yang merupakan saudari dari Panglima Besar Islam Shalahuddin al-Ayyubi. Rabi’ah Khatun binti Ayyub pernah menceritakan mengenai suaminya yaitu Raja Mudzafar, bahwa ia adalah seorang raja yang hanya berpakaian yang terbuat dari kain katun yang harganya tidak sampai 5 dirham.

Rabi’ah Khatun binti Ayyub pernah mencela hal itu, dan Raja Mudzafar pun menjawab: “Aku berpakaian dengan pakaian seharga kurang dari 5 dirham dan menyedekahkan sisa uangnya lebih baik daripada aku berpakaian yang mahal dengan menelantarkan orang fakir dan miskin.”

Ketika Ibnu Khalikan menulis biografi tentang al-Hafiz Abu Khattab Ibnu Dihyah beliau berkata : bahwa Ibnu Dihyah adalah termasuk seorang pembesar pada ulama yang mengembara mengelilingi dunia, beliau pergi ke Maghrib kini disebut Maroko, Syam kini disebut Suriah, Irak, dan kemudian menetap di wilayah Irbil pada tahun 604 H.

Saat beliau berada di Irbil  beliau menemui raja daerah itu adalah Raja Mudzaffar yang sedang merayakan perayaan Maulid Nabi, lantas beliau pun menulis sebuah kitab yang bernama  “Al-Tanwîr fî Maulid al-Basyîr al-Nadzîr” dan kemudian beliau membacakan kitab tersebut di hadapan Raja Mudzafar. Lantas Sang Raja memberinya hadiah yang sangat besar atas hal itu.

Terkait tuduhan tentang Perayaan Maulid Nabi yang pertama kali dilakukan pada saat masa Dinasti Fathimiyah, Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki berkata: “Dan tidak perlu memperdulikan atau mendengarkan ucapan dari seseorang yang mengatakan bahwa yang pertama kali merayakan Maulid Nabi adalah al-Fathimiyun, sebab hal tersebut bisa jadi karena suatu kebodohan atau pura-pura tidak tahu tentang kebenaran.”

Sumber Referensi: tendasejarah.com

Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah Memperingati Maulid Nabi semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Sejarah Memperingati Maulid Nabi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel