Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah K.H. Hasyim Asy'ari Pahlawan Nasional dan Pendiri Nahdlatul Ulama


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Kali ini kita akan membahas tentang Sejarah K.H. Hasyim Asy'ari Pahlawan Nasional dan Pendiri Nahdlatul Ulama.

Kiai Haji Hasyim asy'ari adalah seorang ulama besar di indonesia, bagi warga indonesia sendiri sudah tidak asing lagi dengan organisasi Nahdlatul Ulama atau yang disingkat (NU).

Nahdlatul Ulama adalah organisasi Islam yang didirikan oleh K.H Hasyim Asy'ari yang akhirnya menjadi organisasi islam yang terbesar di Indonesia, bahkan di dunia sampai saat ini.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang Sejarah K.H. Hasyim Asy'ari Pahlawan Nasional dan Pendiri Nahdlatul Ulama. mari kita bahas bersama Lets Go......

Biodata K.H Hasyim Asy'ari

  • Nama : K.H. Hasyim Asy'ari
  • Tempat kelahiran : Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Jombang, Jawa Timur
  • Tanggal Lahir : 10 April 1875
  • Wafat : 21 Juli 1947, Kabupaten Jombang, Jawa Timur
  • Nama Ayah : Kiai Asy'ari
  • Nama Ibu :  Halimah
  • Istri : Nyai Nafiqoh, Nyai Masruroh, Nyai Khadijah, Nyai Nafisah
  • Keturunan : Hannah, Khoiriyah; Aisyah; Azzah; Abdul Wahid; Abdul Karim; Ubaidillah; Mashurroh; Mohammad Yusuf; Abdul Qodir; Fatimah; Chotijah; Mohammad Ya’kub
  • Agama : Islam
  • Kebangsaan : Indonesia
  • Profesi : Ulama, Pejuang kemerdekaan
  • Gelar : Hadratusy Syaikh
  • Penghargaan : Pahlawan Nasional Indonesia
  • Organisasi : Nahdlatul Ulama (pendiri)

Kyai Haji Mohammad Hasyim Asy'ari atau biasa di sebut Hasyim ashari beliau dilahirkan di desa Gedang, kecamatan Jombang dan merupakan putra ke tiga dari 10 saudara. Ayahnya bernama Kiai Asyari yang berprofesi sebagai pemimpin dari pondok pesantren di desa Keras yang berlokasi di sebelah selatan Jombang.

Ibu K.H Hasyim Ashari bernama Halimah yang merupakan keturunan dari Sultan Pajang Jaka Tingkir atau Maskarebet yang merupakan keturunan dari Raja Brawijaya VI yang dikenal dengan sebutan Lembupeteng adalah raja terakhir dari kerajaan Majapahit dengan gelar Brawijaya.

Silsilah garis keturunan dari Raja BrawijaUlama sampai K.H. Hasjim Asy'ari sebagai berikut:

Prabu Brawijaya V (Lembupeteng)

Joko Tingkir (Mas Karebet)

Pengeran Benowo

Pangeran Sambo

Ahmad

Abdul Jabar

Sihah

Layyinah

Halimah

Mohammad Hasjim Asy'arie

K.H Hasyim Asy'ari merupakan anak ke tiga dari 10 saudarah kandung dari ibunya yang bernama Halimah dan Ayahnya Asy'ari. Berikut adalah keturunan dari Nyai Halimah dan Kiayi Asy'ari yang merupakan 10 saudarah kandung Hasyim Asy'ari.

  • Nafi’ah
  • Ahmad Saleh
  • Muhammad Hasyim
  • Radiyah
  • Hasan
  • Anis
  • Fatonah
  • Maimunah
  • Maksun
  • Nahrowi, dan
  • Adnan.

Muhammad Hasyim memiliki keistimewaan di banding saudara-saudaranya yang lain seperti pada saat masih berada di dalam kandungan nyai Halimah bermimpi melihat bulan purnama di langit yang jatuh kedalam kandungannya. Begitu pula saat Nyai Halimah melahirkan Muhammad Hasyim beliau tidak merasakan sakit seperti yang dirasakan wanita ketika melahirkan pada umumnya.

Dimasa kecil K.H Hasyim Asy'ari hidup bersama dengan kakek dan nenek nya di desa Nggedang, setelah 6 tahun tinggal bersama kakek dan neneknya, Hasyim Asy'ari kemudian pindah mengikuti orang tuanya ke desa Keras yang berada di selatan kota Jombang, dan di desa itulah ayah beliau Kiai Asy'ari mendirikan pondok pesantren yang bernama Asy'ariah.

Kehidupan masa kecil K.H Hasyim Asy'ari di lingkungan pondok pesantren, membuat beliau mendapat pendidikan islam yang kuat dari Ayah dan Kakek nya yang merupakan pemimpin sekaligus guru di pondok pesantren. Nilai-nilai pesantren yang di berikan oleh kedua orang tuanya sangat meresap kepada Hasyim Asy'ari seperti bagaiman santri hidup sederhana, penuh keakraban, saling membantu, dan bergotong royong.

Riwayat Pendidikan K.H. Hasyim Asyi'Ari

Mohammad Hasjim Asy'arie memulai pendidikannya dengan belajar ilmu-ilmu agama dari lingkungan keluarganya, selain dari ayah dan ibunya beliau juga belajar dari kakeknya Kiayi Utsman yang merupakan seorang ulama dan pemimpin dan juga seorang guru di pondok pesantren Nggedang di daerah Jombang.

Saat masa kanak-kanak Hasyim Asy'ari terlihat berbeda dengan teman-temannya, beliau tampak lebih terampil dan memiliki kecerdasan yang lebih, beliau bahkan sering tampil sebagai pemimpin di kalangan teman-teman sepermainannya.

Saat usia Hasyim Asy'ari mencapai 13 tahun, beliau sudah membantu ayahnya Kiai Asy'ari untuk mengajar santri-santrinya yang bahkan usia dari santri tersebut lebih tua dari Hasyim Asy'ari di pondok pesantren di desa Keras.

Hasyim Asy'ari sudah memahami ilmu-ilmu agama di usianya yang masih sangat mudah, yang beliau dapat dari bimbingan orang tua, guru, dan belajar secara autodidak. Ketidakpuasan beliau dengan ilmu yang telah dipalajari dan kahausan beliau dalam mencari ilmu sehingga tidak cukup bagi belau hanya belajar di lingkungan keluarganya saja.

Setelah sekitar 9 tahun Hasyim asy'ari belajar dari keluarganya di pondok pesantren di desa Keras, pada saat usia beliau mencapai 15 tahun setelah belajar dari ayah dan kakek nya, beliau memutuskan untuk pergi merantau, mengembara ke pondok-pondok pesantren lain untuk memperdalam ilmu-ilmu agamanya.

Berkelana Dari Satu Pesantren Ke Pesantren Lain

Ketika Hasyim Asy'ari berusia 15 tahun beliau memutuskan untuk berkelana dari satu pondok pesantren kepondok pesantren lain untuk memperdalam ilmunya. Mula-mula beliau menjadi santri di pondok pesantren Wonokoyo di Probolinggo, kemudian di pesantren Langitan, Tuban, kemudian di pondok pesantren Trenggilis, Semarang.

Belum puas dengan berbagai ilmu yang telah dipelajari dari beberapa pondok pesantren yang mahsyur di tanah jawa, khususnya di Jawa Timur.

K.H Hasyim Asy'ari melanjutkan perjuangannya dalam menuntut ilmu, kemudian beliau melanjutkan ke pondok pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura di bawah pimpinan dari kiai Muhammad Khalil bin Abdul Latif (Syaikhuna Khalil) atau biasa disebut Kiai cholil bangkalan.

Saat Kiai Hasyim Asy'ari menimba ilmu di pondok pesantren Kiyai Kholil bangkalan ada suatu kisah yang yang mengagumkan, saat itu Hasyim Asy'ari melihat sang guru kiai Kholil sedang bersedih, kemudian beliau memberanikan diri untuk mencoba bertanya kepada kiai Kholil.

Kiai Kholil pun menjawab bahwa cincin istrinya telah jatuh kedalam toilet, Hasyim Asy'ari kemudian mengusulkan agar kiai Kholil membeli cincin lagi, namun Kiyai Kholil mengatakan kembali bahwa cincin yang terjatuh itu adalah cincin istrinya.

Setelah melihat kesedihan di raut muka Kiyai Kholil yang merupakan guru besarnya itu,kemudian Hasyim Asy'ari memutuskan untuk menawarkan diri untuk mencari cincin tersebut di dalam toilet. Akhirnya Hasyim Asy'Ari mencari cincin tersebut di dalam toilet dengan sungguh-sungguh, penuh kesabaran dan keikhlasan.

Akhir nya Hasyim Asy'ari menemukan cincin tersebut, sehingga menghilangkan kesedihan sang guru Kiai Kholil. Alangkah bahagianya raut muka sang guru melihat keberhasilan Hasyim Asy'ari menemukan cincin tersebut.

Dari kejadian inilah hubungan Kiai Kholil dengan Hasyim Asy'ari menjadi semakin dekat, baik pada saat Hasyim Asy'ari saat menjadi santri maupun setelah kembali ke masyarakat untuk berjuang.

Setelah selama 5 tahun K.H Hasyim Asy'ari menuntut ilmu di tanah madura, tepatnya pada tahun 1307 Hijirah atau tahun 1998 Masehi. Baliau memutuskan untuk kembali ke tanah Jawa dan kemudian beliau belajar di pondok pesantren Siwalan, Sono, Sidoarjo yang pada waktu dalam pimpinan K.H Ya'qub.

Kiyai Ya'qub dikenal sebagai ulama yang memiliki pandangan luas tentang ilmu nahwu dan shorofnya. Sekitar 5 tahun Hasyim Asy'ari menyerap ilmu di pondok pesantren Siwalan dan Kiai ya'qub semakin mengenal dekat santri tersebut.

Sampai akhirnya Kiai ya'qub menyukai Hasyim Asy'ari dan menaruh minat kepadanya, yang merupakan seorang pemuda yang cerdas dan alim itu untuk dijadikan menantunya. Sehingga Hasyim Asy'asi selain mendapatkan ilmu melainkan juga seorang istri dari salah satu anak gurunya.

Pada tahun 1303 Hijriah / 1819 Masehi saat itu usia Hasyim Asy'ari mencapai 21 tahun beliau menikah dengan Nyai Nafisah yang merupakan putri dari Kiai Ya'qub.

Tidak lama setelah pernikahan K.H Hasyim Asy'ari dengan Nyai Nafisah, beliau kemudian pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah Haji bersama dengan istrinya Nyai Nafisah beserta keluarganya.

Disamping menunaikan ibadah Haji Hasyim Asy'ari juga memperdalam ilmu pengetahun yang telah beliau dapatkan dari pondok-pondok pesantren di tanah air, dan menyerap ilmu-ilmu baru yang di perlukan terutama ilmu yang berkaitan dengan hadits Rasulullah SAW yang merupakan ilmu yang disukai beliau sejak kecil.

Setelah 7 bulan Hasyim Asy'ari dan Nafisah menetap di tanah suci kota makkah, beliau diberi karunia seorang anak laki-laki yang di beri nama Abdullah, namun perjalan kehidupan manusia sulit untuk di duga begitu pun dengan K.H Hasyim Asy'ari.

Di tengah kegembiraan saat setelah kelahiran putranya Abdullah, Sang istri Nafisah mengalami sakit parah dan kemudian meninggal dunia. 40 hari setelah kematian istri beliau Nasifah, Abdullah juga menyusul kepergian sang ibu untuk pulang ke Rahmatullah.

Kesedihan beliau waktu itu hampir tak tertahankan, salah satu penghibur hati beliau waktu itu adalah dengan melakukan thawaf dan melakukan ibada-ibada yang lain yang nyaris tidak pernah berhenti dilakukan oleh beliau.

Disamping itu Hasyim Asy'ari juga ditemani kitab-kitab yang setia menemani beliau untuk dikaji setiap saat. Sampai akhirnya K.H Hasyim Asy'ari meninggalkan tanah suci untuk kembali ke tanah air Nusantara bersama denagan mertuahnya.

Memperdalam Ilmu di Tanah Suci


Kerinduan akan suasa di kota suci makkah membuat beliau terpanggil untuk kembali ke tanah suci. Sekitar pada tahun 1893 atau 1309 hijriah pada kalender islam K.H Hasyim Asy'ari berangkat kembali ke tanah suci makkah bersama dengan Anis yang merupakan adik kandungnya.

Sesampainya di tanah suci saat beliau menginjakan kaki nya di kota makkah beliau teringat kembali dengan kenangan indah dan sedih bersama istri nya Nafisah dan anak nya Abdullah yang telah meninggal dunia.

Namun hal tersebut justru membuat K.H. Hasyim Asy'ari semakin semangat menekuni ibadah dan mendalami ilmu pengetahuan di tanah suci. Tempat-tempat bersejarah dan mustajabah pun tidak luput dari kunjungan K.H Hasyim Asy'ari untuk berdoa agar cita-citanya tercapai.

K.H. Hasyim Asy'ari mengunjungi Padang Arafah, Gua Hira’, Maqam Ibrahim, dan tempat-tempat lainnya. Makam baginda nabi besar Muhammad SAW di madinah pun selalu menjadi tempat ziarah beliau di tanah suci.

Ulama-ulama besar yang tersohor pada waktu itu di datangi oleh K.H Hasyim Asy'ari untuk menimba ilmu dan sekaligus mengambil berkah, ulama-ulama tersebut antara lain: Syaikh Su’ab bin Abdurrahman, Syaikh Muhammad Mahfud Termas adalah ulama yang ahli dalam ilmu bahasa dan syariah, Sayyid Abbas Al-Maliki al-Hasani adalah ulama yang ahli dalam ilmu hadits, Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Khatib Al-Minang Kabawi adalah ulama yang ahli dalam segala bidang keilmuan.

Setelah beberapa tahun K.H. Hasyim Asy'ari menimba ilmu di tanah suci, usaha yang beliau lakukan tidak lah sia-sia, beliau pulang ke tanah air nusantara dengan membawa ilmu agama yang nyaris lengkap beliau kuasai.

Baik yang bersifat ma'qul maupun yang bersifat manqul sebagai bekal K.H. Hasyim Asy'ari untuk beramal dan mengajar di pondok pesantren di kampung halaman kelahirannya.

K.H Hasyim Asy'ari Mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng

Pada tahun 1899 Masehi/1313 Hijirah setelah kepulangan K.H. Hasyim Asy'ari dari tanah suci, beliau mulai mengajar para santri, beliau mulai mengajar di pondok pesantren Nggedang yang diasuh oleh mendiang kakeknya sekaligus tempat dimana beliau dilahirkan dan dibesarkan.

Setelah itu beliau mengajar di Kediri tepatnya di desa Mojokuning, Kecamatan Mojoroto, di pondok pesantren inilah K.H. Hasyim Asy'ari sempat menikah dengan seorang putri dari kiai sholeh Banjar melati, karena berbagai hal pernikahan tersebut tidak berjalan dengan lancar sehingga K.H Hasyim Asy'ari kembali lagi ke Jombang.

Beliau berencana untuk membangun sebuah pondok pesantren di daerah Jombang, yang akhirnya dipilihlah suatu tempat oleh K.H. Hasyim Asy'ari tempatnya di dusun Tebuireng yang pada saat itu merupakan sarang kemaksiatan dan kekacauan.

Saat beliau memilih dusun Tebuireng sebagai tempat untuk di dirikannya sebuah pondok pesatren tentu saja mengundang tanda tanya besar dikalangan masyarakat setempat, tetapi K.H Hasyim Asy'ari tidak menghiraukannya sama sekali, beliau yakin dengan tempat pilihannya itu.

Sebenarnya Nama Tebuireng berasal dari Kebo ireng yang dapat diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi "Kerbau Hitam". Menurut cerita rakyat, di daerah Tebuireng tersebut dahulu ada seekor kerbau yang terbenam dalam genangan lumpur, dan di tempat lumpur itu terdapat banyak sekali lintah di dalam lumpur.

Ketika kerbau tersebut di tarik keluar dari genangan lumpur tersebut, sudah berubah warna menjadi hitam yang warna asalnya putih ke merah-merahan di karenakan seluruh tubuh kerbau tersebut di penuhi oleh lintah. Konon semenjak kejadian itu daerah kejadian tersebut diberi nama Keboireng yang pada akhirnya menjadi tebuireng seperti yang kita kenal saat ini.

Pada tanggal 26 Robiul Awal 1317 H atau bertepatan pada tahun 1899 Masehi, didirikanlah pondok pesantren Tebuireng oleh, K.H. Hasyim Asy'ari bersama dengan rekan-rekan seperjuangannya seperti: Kiai Syamsuri Wanan Tara, Kiai Abas Buntet, Kiai Sholeh Benda Kereb, beserta kiayi-kiyai yang lainnya.

Berbagai kesulitan dan ancaman dari pihak-pihak yang benci terhadap penyiaran pendidikan dan penyebaran di Tebuireng dapat diatasi, sehingga pondok pesantren tetap dapat berdiri.

Setelah berdirinya pondok pesantren tebuireng K.H. Hasyim Asy'ari memulai sebuah tradisi yang kemudian menjadi salah satu keistimewaan dan ciri khas pesantren, yaitu menghatamkan kitab shakhihaini “Al-Bukhori dan Muslim” tradisi tersebut dilaksanakan pada setiap bulan suci ramadhan.

Tradisi tersebut konon di ikuti oleh kiai-kiai dari seluruh wilayah Jawa yang datang berbondong-bondong untuk menghatamkan kitab shakhihaini. Tradisi tersebut terus berjalan hingga saat ini. Pengasuh Pondok pesantren Tebuireng saat ini adalah KH. Salahuddin Wahid dalam periode 2006 sampai sekarang.

Pada awalnya santri di pondok pesantren Tebuireng yang pertama berjumlah 28 orang santri, yang kemudian bertambah menjadi ratusan orang santri. Bahkan pada akhir hayat K.H. Hasyim Asy'ari santri di pondok pesantren Tebuireng mencapai ribuan orang.

Alumnus-alumnus dari pondok pesantren Tebuireng tak sedikit dari para santri kiyai Hasyim Asy'asri yang tampil sebagai tokoh dan ulama yang berpengaruh luas di Indonesi, seperti: KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, KH. R. As’ad Syamsul Arifin, KH Achmad Siddiq, dan Wahid Hasyim (anaknya) yang menjadi presiden Indonesi ke 4.

Pada abad ke 20 pondok pesantren Tebuireng menjadi pondok pesantren terbesar di tanah Jawa, Zamakhsyari Dhofier yang merupakan seorang penulis buku yang berjudul "Tradisi Pesantren", mencatat bahwa pondok pesantren Tebuireng merupakan sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura, oleh karena itu gelar Hadratus-Syaikh yang berarti "Tuan Guru Besar" di berikan kepada Kai Hasyim.

 K.H. Hasyim Asy'ari Mendirikan Nahdlatul Ulama’

Akibat dari penjajahan, maupun akibat dari kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa dan negara ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi.

Gerakan yang muncul pada tahun 1908 tersebut dikenal dengan nama gerakan "Kebangkitan Nasional". Semangat kebangkitan terus menyebar - setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa-bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan.

Merespon kebangkitan nasional tersebut, Nahdlatul Wathan yang merupakan organisasi Kebangkitan Tanah Air yang dibentuk pada tahun 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan "Nahdlatul Fikri" organisasi kaum pemikir atau kebangkitan pemikiran, sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, yang merupakan organisasi pergerakan dari kaum saudagar.

Serikat organisasi atau perkumpulan itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Organisasi Nahdlatul Tujjar tersebut, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi bagian dari lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota di pulau Jawa.

Dimulai dari munculnya berbagai macam komite dan organisasi yang bersifat embrional dan bersifat ad hoc atau satu tujuan, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman.

Maka setelah melakukan kordinasi dengan para kiai dari berbagai daerah, karena tidak terakomodasinya para kyai dari kalangan tradisional untuk mengikuti rapat pertemuan untuk membahas Islam Dunia yang ada di Indonesia dan Timur Tengah akhirnya muncul kesepakatan dari para ulama pesantren untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama yang memiliki arti dalam bahsa indonesia sebagai "Kebangkitan Ulama" yang berdiri pada tanggal 16 Rajab 1344 H yang bertepatan pada 31 Januari 1926 di Kota Surabaya. Organisasi ini dipimpin oleh Hadratus Syaikh K.H. Hasjim Asy'ari sebagai Rais Akbar.

Ada banyak faktor yang melatar belakangi berdirinya Nahdlatul Ulama atau dapat disingkat NU. Di antara faktor-faktor itu adalah tentang perkembangan dan pembaharuan pemikiran Islam yang menghendaki pelarangan segala bentuk amaliah kaum Sunni.

Sebuah pemikiran agar umat Islam kembali pada ajaran Islam yang "murni", yaitu dengan cara umat islam melepaskan diri dari sistem bermadzhab. Bagi para kiai pesantren, pembaruan pemikiran keagamaan sejatinya tetap merupakan suatu keniscayaan yang mutlak, namun tetap tidak dengan meninggalkan tradisi keilmuan para ulama terdahulu yang masih berguna hingga saat ini. Untuk itu, Jam'iyah Nahdlatul Ulama cukup mendesak untuk segera agar didirikan secepatnya.

Untuk menegaskan prinsip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasjim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi yang merupakan prinsip dasar, kemudian juga merumuskan kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kitab Qanun Asasi dan  kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan setiap warga anggota NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

Peran K.H Hasyim Asy'ari Sebagai Pejuang Kemerdekaan

Peran dari K.H Hasyim Asy'ari tidak hanya sampai sebatas pada bidang keilmuan dan keagamaan namun juga dalam bidang sosial dan kebangsaan, K.H. Hasyim Asy'ari juga terlibat secara aktif dalam perjuangan membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan kolonialisme belanda pada saat itu.

Sekitar pada tahun 1937 K.H. Hasyim Asy'ari di datangi oleh pimpinan dari pemerintah belanda, dengan membawa bintang emas dan perak tanda kehormatan, tetapi K.H. Hasyim Asy'ari dengan tegas menolaknya. Kemudian pada saat malam hari K.H. Hasyim Asy'ari memberikan nasihat kepada para santrinya tentang kejadian tersebut dan menganalogkan dengan yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW yang pada saat itu kaum jahilia menawarinya dengan tiga hal, yaitu:

  1. Kursi atau tahta yang berkedudukan tinggi di dalam pemerintahan
  2. Harta benda yang berlimpah-limpah
  3. Wanita-wanita yang cantik

Akan tetapi Nabi Muhammad dengan tegas menolaknya bahkan beliau kerkata " Demi Allah, jika mereka kuasa meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku dengan tujuan agar aku berhenti dalam berjuang, aku tidak akan mau menerimanya bahkan nyawa sebagai taruhannya.

K.H. Hasyim Asy'ari pun mengahiri nasehatnya kepada para santri dan berpesan untuk selalu mengikuti dan menjadikan tauladan dari perbuatan Nabi besar Muhammad SAW.

Pada tahun 1940 adalah masa-masa revolusi fisik yang merupakan kurun waktu yang berat bagi K.H Hasyim Asy'ari. Pada saat itu adalah masa penjajahan Jepang, dan beliau sempat ditahan oleh pemerintahan fasisme Jepang.

Pada saat beliau berada di tahanan pemerintahan Jepang beliau mengalami penyiksaan fisik sehingga membuat salah satu jari tangan beliau menjadi cacat. Namun justru pada masa itulah K.H. Hasyim Asy'ari menorehkan atau menggoreskan lembaran kertas dalam tinta emas pada perjuangan bangsa dan Negara yaitu dengan diserukan resolusi jihad yang beliau memfatwakan pada tanggal 22 Oktober 1945, di Surabaya yang lebih dikenal dengan hari pahlawan nasional.

Begitupulah pada tahun 1942 pada masa penjajahan Jepang Kiyai Hasyim Asy'ari di penjarah di daerah jombang, kemudian beliau di pindahkan dan di penjarah di daerah Mojokerto, dan kemudian beliau ditawan di Surabaya, karena beliau dianggap sebagai penghalang Jepang untuk menjajah Indonesia.

Setelah Indonesia merdekah pada tahun 1945 K.H. Hasyim Asy'ari terpilih sebagai ketua umum dewan partai Majlis Syuro Muslimin Indonesia yang dapad disingkat menjadi "MASYUMI". jabatan sebgai ketua umum MASYUMI dipangkunya namun K.H. Hasyim Asy'ari tetap mengajar di pesantren hingga beliau meninggal dunia pada tahun 1947.

Wafatnya Sang Tokoh K.H. Hasyim Asy'ari

Pada tangal 7 Ramadhan 1366 M, tepatnya pada pukul 9 malam, saat itu beliau setelah mengimami sholat tarawih, sebagaimana biasanya beliau duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada ibu-ibu muslimat setelah mengikuti sholat tarawih.

Tak lama kemudian setelah bilau memerikan pengajian, datanglah seorang tamu utusan dari jendral sudirman dan bungtomo. K.H. Hasyim Asy'ari kemudian menemui utusan tersebut dengan didampingi oleh kiai Ghufron, kemudian tamu tersebut menyampaikan sebuah surat kepada kiai Hasyim Asy'ari.

Entah apa isi dari surat tersebut, yang jelas kiai Hasyim Asy'ari meminta waktu satu malam untuk berfikir dan jawabannya akan diberikan pada ke esokan harinya.

Namun kemudian kiai Ghufron menyampaikan laporan tentang situasi pertempuran dan kondisi para pejuang yang semakin tersudut, serta korban dari rakyat sipil semakin meningkat. Setelah kiai Hasyim Asy'ari mendengan laporan yang disampaikan oleh kiai Ghufron, beliau berkata “Masya Allah, Masya Allah…” dan dilanjutkan beliau memegang kepalanya dan ditafsirkan oleh kiai Ghufron bahwa kiai Hasyim Asy'ari sedang mengantuk, sehingga para tamu pamit keluar.

Akan tetapi K.H. Hasyim Asy'ari tidak menjawab, kemudian Kiai Ghufron mendekati tamu tersebut dan meminta kedua tamu tersebut untuk meninggalkan tempat, sedangkan kiai Ghufron sendiri tetap berada di samping Kiai Hasyim Asy’ari.

Tak lama kemudian, Kiai Ghufron baru menyadari bahwa Kiai Hasyim Asy'ari tidak sadarkan diri. Sehingga membuat Kiai Ghufron tergopoh-gopoh, ia kemudian memanggil keluarga dan membujurkan tubuh K.H. Hasyim Asy'ari.

Pada saat itu putra-putri dari K.H. Hasyim Asy'ari sedang tidak berada ditempat, misalnya Kiai Yusuf Hasyim yang pada saat itu beliau sedang berada di markas tentara pejuang, walaupun kemudian dapat hadir dan dokter telah didatangkan saat itu adalah Dokter Angka Nitisastro.

Tak lama kemudian baru diketahui bahwa Kiai Hasyim Asy'ari terkena pendarahan pada otak. Walaupun dokter telah berusaha untuk mengurangi penyakitnya, namun Tuhan berkehendak lain pada KH.M. Hasyim Asy’ari wafat pada pukul 03.00 pagi, Tanggal 25 Juli 1947, yang bertepatan dengan Tanggal 07 Ramadhan 1366 H. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Karya dan Pemikiran K.H. Hasyim Asy'ari

Peninggalan dari Kiai Hasyim Asy'ari yang sangat berharga adalah sejumlah kitab yang beliau tuliskan di sela-sela kehidupan beliau dalam membela dan memperjuangkan bumi pertiwi dari penjajahan, mendidik santri dan mengayomi ribuan umat.

Tetapi sangat disayangkan, kitap-kitap yang sangat berharga itu lenyap hilang tanpa bekas. Sebenarnya kitap yang ditulis oleh K.H. Hasyim Asy'ari tidak kurang dari dua puluhan judul, namun yang bisa diselamatkan hanya beberapa judul saja, diantaranya :


Film Sang Kiai

Kisah perjuangan dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan pendiri Nahdlatul Ulama yang diangkat ke layar lebar dengan judul "Sang Kiai" sebagai bentuk penghormatan dan untuk pengenang jasa-jasa beliau.

Film Sang Kiai ini di bintangi oleh  Ikranagara, Christine Hakim, Adipati Dolken, Agus Kuncoro. Film tersebut rilis pada tahun 2013, dan menjadi wakil Indonesia sebagai film dengan bahasa asing terbaik dalam Academi Award namun film tersebut tidak lolos nominasi.

Namun film "Sang Kiai" ini menjadi juara dalam ajang Festival Film Indonesia 2013, dalam kategori Film terbaik, Tata suara terbaik, Sutradara terbaik, dan Pemain pria terbaik. film "Sang Kiai" dipertontonkan kembali kepada khalayak ramai di layar lebar pada tanggal 9 Januari 2014.

Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah K.H. Hasyim Asy'ari Pahlawan Nasional dan Pendiri Nahdlatul Ulama Semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

0 Response to "Sejarah K.H. Hasyim Asy'ari Pahlawan Nasional dan Pendiri Nahdlatul Ulama"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel