Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah K.H. Ahmad Dahlan Sang Pencerah dan Pendiri Muhammadiyah


Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Kali ini kita akan membahas tentang Sejarah K.H. Ahmad Dahlan Sang Pencerah Pendiri Muhammadiyah.

Nama K.H. Ahmad Dahlan sudah tidak asing lagi bagi warga indonesia, beliau adalah seorang ulama dan founding father atau bapak pendiri dari organisasi Muhammadiyah yang merupakan sebuah organisasi islam yang besar di Indonesia.

Peran beliau yang sangat luar biasa dalam memajukan agama Islam di bumi pertiwi dan sumbangan pemikirannya bagi kemerdekaan Indonesia, maka negara Indonesia menganugerahkan gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Bahkan kisah dari perjuangan beliau sempat diangkat kelayar lebar dalam sebuah film yang berjudul "Sang Pencerah", sosok KH. Ahmad Dahlan tersebut diperankan oleh Lukman Sardi. Nama K.H. Ahmad Dahlan juga diabadikan sebagai salah satu nama dari Universitas perguruan tinggi di Indonesia.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang Sejarah K.H. Ahmad Dahlan Sang Pencerah Pendiri Muhammadiyah mari kita bahas bersama Lets Go......

 Biografi K.H. Ahmad Dahlan

  • Nama : K.H. Ahmad Dahlan
  • Nama Kecil : Muhammad Darwis
  • Tempat Lahir : Yogyakarta, Indonesia
  • Tanggal Lahir : 1 Agustus 1868
  • Wafat : 23 Februari 1923, Yogyakarta, Indonesia
  • Nama Ayah : K.H Abu Bakar
  • Nama Ibu : Nyai Abu Bakar
  • Istri : Hj. Siti Walidah, Nyai Aisyah, Nyai Yasin, Nyai Abdullah, Nyai Rum
  • Anak Laki-laki : Djohanah, Siradj Dahlan, Irfan Dahlan
  • Anak Perempuan : Siti Busyro, Siti Aisyah, Siti Zaharah, Dandanah

K.H. Ahmad Dahlan adalah seorang ulama yang dilahirkan pada tanggal 1 Agustus 1868 di yogyakarta dengan nama masah kecil Muhammad Darwisy. K.H. Ahamad Dahlan merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya berjenis kelamin perempuan, kecuali adik bungsunya.

Dalam silsilah keturunan, K.H. Ahamad Dahlan termasuk dalam keturunan kedua belas dari Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim, yang merupakan seorang wali besar dan terkemuka diantara wali songo, Sunan Gresik Maulana Malik Ibrahim merupakan pelopor pertama dari penyebaran dan pengembangan agama Islam di tanah Jawa.

Silsilah dari Maulana Malik Ibrahim hingga K.H Ahmad Dahlan adalah sebagai berikut:

Maulana Malik Ibrahim

Maulana Ishaq

Maulana 'Ainul Yaqin

Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen)

Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom)

Demang Djurung Djuru Sapisan

Demang Djurung Djuru Kapindo

Kyai Ilyas

Kyai Murtadla

KH. Muhammad Sulaiman

KH. Abu Bakar

Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan)

K.H. Ahmad Dahlan adalah putra keluarga K.H. Abu Bakar ayah dari K.H. Ahmad Dahlan yang merupakan seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kesultanan Yogyakarta. Sedangkan ibu dari  K.H. Ahmad Dahlan adalah putri H. Ibrahim yang juga menjabat sebagai Penghulu di Kesultanan Yogyakarta pada masa itu.

Pada saat usia K.H. Ahmad Dahlan mencapai 15 tahun, beliau pergi haji dan menetap di kota Makkah selama lima tahun. Pada saat di kota makkah inilah beliau mulai melakukan interaksi dengan para tokoh yang memiliki pemikiran-pemikiran pembaharu Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afgani, Rasyid Ridha, dan Ibnu Taymiyah.

Pada saat K.H. Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis usianya mencapai 18 tahun, orang tuanya bermaksud untuk menikahkan Muhammad Darwis dengan putri dari K.H. Muhammad Fadlil yang bernama Siti Walidah.

Setelah orang tua dari kedua belah pihak melakukan perundingan, maka pernikahan Muhammad Darwis dengan Siti Walidah dilangsungkan pada bulan Dzulhijjah tahun 1889 dalam suasana yang tenang dan damai.

Siti Walidah inilah yang kelak akan dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, yang merupakan pendiri Aisyiyah dan bergelar pahlawan nasional. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, K.H. Ahmad Dahlan mendapat karunia enam orang anak yaitu, Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, Siti Zaharah.

Setelah menikahi Siti Walidah, K.H. Ahmad Dahlan pernah menikahi Nyai Abdullah, yang merupakan seorang janda H. Abdullah. Beliau juga pernah menikahi Nyai Rum, adik dari K.H. Munawwir yang berasal dari daerah Krapyak. K.H. Ahmad Dahlan juga mempunyai putra dari pernikahannya dengan Nyai Aisyah yang merupakan Adik Adjengan Penghulu dari Cianjur. Anak laki-laki itu bernama Dandanah. K.H. Ahmad Dahlan bahkan pernah menikah dengan Nyai Yasin yang berasal dari daerah Pakualaman.

Riwayat Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan


K.H. Ahmad Dahlan mengawali pendidikan di pangkuan ayahnya K.H. Abu Bakar di rumah sendiri. K.H. Ahmad Dahlan pada waktu kecil di panggil dengan nama Darwis beliau mempunyai sifat yang baik, berbudi pekerti halus, dan berhati lunak,tetapi juga berwatak cerdas.

Sejak usia balita, kedua orang tua Darwis sudah memberikan teladan pendidikan agama dan budi pekerti luhur. Sejak kecil Muhammad Darwis diasuh dalam lingkungan pesantren, yang membekalinya berbagai pengetahuan agama dan bahasa Arab. Disamping itu, Muhammad Darwis diasuh dan dididik sebagai putera kiyai.

Pendidikan dasar Muhammad Darwis dimulai dengan belajar membaca, menulis, mengaji Al-Qur‟an, dan kitab-kitab agama. Pendidikan ini diperoleh langsung dan diajarkan oleh ayahnya. Pada usia 15 tahun (1883), Muhammad Darwis sudah menunaikan ibadah haji, yang kemudian dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di kota Makkah dan menetap disana selama lima tahun.

Muhammad Darwis pun semakin intens berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang memiliki polah pemikiran-pemikiran pembaharu dalam dunia Islam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah. Interaksi dengan tokoh-tokoh Islam pembaharu tersebut sangat berpengaruh pada semangat, jiwa dan pemikiran Muhammad Darwis.

Semangat dari jiwa dan pemikiran itulah yang kemudian diwujudkan Muhammad Darwis dengan menampilkan corak keagamaan yang sama melalui Muhammadiyah. Bertujuan untuk memperbaharui pemahaman keagamaan atau ke-Islaman di sebagian besar dunia Islam saat itu yang masih bersifat ortodoks atau masih bersifat kolot.

Ahmad Dahlan memandang sifat pemahaman islam ortodoks itu akan menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi yang merupakan suatu keterbelakangan bagi ummat Islam. Maka Ahmad Dahlan memandang, pemahaman keagamaan yang statis dan ortodoks itu harus diubah dan diperbaharui, dengan suatu gerakan yang disebut purifikasi atau pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Qur'an dan al-Hadits.

Menjelang dewasa, K.H Ahmad Dahlan mempelajari dan mendalami ilmu-ilmu agama kepada beberapa ulama besar waktu itu. Diantaranya adalah K.H. Muhammad Saleh yang merupakan seorang  ahli ilmu fiqh, K.H. Muhsin seorang ahli ilmu nahwu, K.H. R. Dahlan seorang ahli ilmu falak, K.H. Mahfudz dan Syekh Khayyat Sattokh adalah seorang ahli dalam bidang ilmu hadis, Syekh Amin dan Sayyid Bakri adalah seorang yang ahli dalam bidang qira‟at Al-Qur‟an, serta beberapa guru lainnya.

Setelah beberapa waktu untuk belajar dengan sejumlah guru pada bidang keagamaannya masing-masing, pada tahun 1890 K.H. Ahmad Dahlan berangkat ke Mekkah untuk melanjutkan studinya tentang keagamaan dan  kemudian bermukim di sana selama setahun.

Merasa tidak puas dengan hasil kunjungannya yang pertama, maka KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1903 beliau berangkat lagi ke Mekkah dan menetap disana selama dua tahun. Ketika kunjungan beliau yang kedua kali ini, K.H. Ahmad Dahlan banyak bertemu dan melakukan muzakkarah atau bertukar pikiran satu sama lain tentang suatu masalah dengan sejumlah ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah.

Ulama-ulama dari Indonesia yang menetap dan ditemui oleh K.H Ahmad Dahlan tersebut adalah Syekh Muhammad Khatib al Minangkabawi, Kiyai Nawawi al-Banteni, Kiyai Mas Abdullah, dan Kiyai Faqih Kembang. Pada saat itu pula, K.H. Ahmad Dahlan mulai berkenalan dengan ide-ide pembaharuan yang dilakukan melalui proses penganalisaan dari kitab-kitab yang dikarang oleh para tokoh reformer penggagas pembaharuan Islam, seperti Ibn Taimiyah, Jamal-al-Din al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Ibn Qoyyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abd al-Wahab, dan lain sebagainya.

Sekembalinya dari kota Mekkah, Muhammad Darwis mengganti namanya menjadi Haji Ahmad Dahlan, yang beliau ambil dari nama seorang mufti yang terkenal dari Mazhab Syafi‟i di kota Mekkah, yaitu Ahmad bin Zaini Dahlan.


K.H Ahmad Dahlan Bergabung dengan Organisasi Budi Utomo

Dengan maksud mengajar agama, pada tahun 1909 Kiai Ahmad Dahlan masuk dalam organisasi Boedi Oetomo yang merupakan sebuah organisasi yang melahirkan banyak tokoh-tokoh nasionalis. Di dalam organisasi budi utomo tersbut beliau memberikan pelajaran-pelajaran agama islam untuk memenuhi keperluan  para anggota organisasi.

Pelajaran yang diberikan oleh K.H Ahmad Dahlan terasa sangat berguna bagi  para anggota Boedi Oetomo sehingga para anggota Boedi Oetomo ini menyarankan agar Kiai Ahmad Dahlan untuk membuka sekolah sendiri yang diatur dengan tata tertip yang rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen.

Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari nasib yang sering terjadi pada pesantren tradisional yang terpaksa tutup bila kiai pemimpinnya meninggal dunia.

Mendirikan Muhammadiyah

Saran yang diberikan oleh anggota budi utomo untuk mendirikan sekolah dan organisi sendiri yang  kemudian ditindak lanjuti oleh K.H. Ahmad Dahlan dengan mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama Muhammadiyah pada 18 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 pada kalender islam.

Organisasi Muhammadiyah yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan tersebut bergerak di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Melalui organisasi Muhammadiyah inilah beliau berusaha memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam.

Di dalam organisasi Muhammadiyah K.H. Ahmad dahlan mengajarkan kitab suci Al Qur’an dengan terjemahan dan tafsir agar masyarakat tidak hanya pandai membaca atau pun melagukan baccan-bacaan dari Qur’an semata, melainkan dapat memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Dengan demikian diharapkan masyarakat mengerti atas makna yang terkandung dalam alqur'an dan bisa membuahkan amal perbuatan sesuai dengan yang diharapkan Qur’an itu sendiri. Menurut pengamatan K.H Ahmad Dahlan menjelaskan bahwa keadaan masyarakat sebelumnya hanya mempelajari Islam dari kulitnya saja tanpa mendalami dan memahami isinya.

Setelah organisasi Muhammadiyah berjalan dengan baik K.H. Ahmad Dahlan kemudian mendirikan sekolah-sekolah agama dengan memberikan pelajaran pengetahuan umum serta bahasa Belanda. Kiai Ahmad Dahlan terus mengembangkan dan melakukan banyak membangun sekolah-sekolah. Sehingga semasa hidupnya, K.H. Ahmad Dahlan telah banyak mendirikan bangunan-bangunan seperti sekolah, masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim piatu.

Kegiatan dakwah pun tidak ketinggalan. K.H Ahmad Dahlan semakin meningkatkan dakwah dengan ajaran pembaruan Islam kepada masyarakat. Di antara ajaran utamanya yang terkenal, K.H. Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa semua ibadah diharamkan kecuali ibadah yang ada dalam perintah Allah dari Nabi Muhammad SAW.

K.H. Ahmad Dahlan juga mengajarkan larangan untuk melakukan ziarah kubur, penyembahan dan perlakuan yang berlebihan terhadap benda-benda pusaka keraton seperti keris, kereta kuda, dan tombak. K.H. Ahmad Dahlan juga memurnikan agama Islam dari percampuran ajaran agama Hindu, Budha, animisme, dinamisme, kejawen, dan adat dari suatu wilayah dengan slogannya " Kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits"

Mendirikan Aisyiyah

K.H Ahmad Dahlan juga memikirkan kemajuan dari kaum wanita agar dapat maju seperti halnya kaum pria, oleh karena itu beliau mendirikan organisasi Aisyiyah yang dikhususkan untuk kaum wanita, Organisasi Aisyiyah tersebut didirikan pada tahun 1918.

Gelar Pahlawan Nasional

Atas jasa-jasa yang telah diberikan Kiai Haji Akhmad Dahlan kepada bangsa Indonesia dan agama Islam maka negara Indonesia menganugerahkan kepada beliau gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Gelar kehormatan K.H Ahmad Dahlan sebagai pahlawan nasional tersebut dituangkan dalam SK Presiden RI No.657 Tahun 1961, tgl 27 Desember 1961.

Kisah tentang perjuangan KH Ahmad Dahlan juga diangkat ke layar lebar pada tahun 2010 dengan judul film ‘Sang Pencerah‘ yang menceritakan tentang kisah sosok KH Ahmad Dahlan dan sejarah proses terbentuknya Muhammadiyah. Tokoh KH Ahmad Dahlan sendiri dibintangi oleh Iksan Tarore sebagai Tokoh Ahmad Dahlan Muda (Muhammad Darwis) dan kemudian Lukman Sardi sebagai pemeran KH Ahmad Dahlan. Film Sang PEncerah ini disutradarai oleh Hanung Bramatyo.

Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah K.H. Ahmad Dahlan Sang Pencerah Pendiri Muhammadiyah Semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

0 Response to "Sejarah K.H. Ahmad Dahlan Sang Pencerah dan Pendiri Muhammadiyah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel