Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah Kerajaan Bizantinum Yang Melegenda Penguasa Konstantinopel


Kerajaan Bizantinum Penerus Romawi Kuno Yang Menguasai Konstantinopel 

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Kali ini kita akan membahas tentang Sejarah kerajaan Byzantium yang dalam bahasa Yunani dapat ditulis "Βυζάντιον" yang memiliki arti sebuah kota Yunani kuno, yang menurut legenda, didirikan oleh para warga koloni Yunani dari Megara pada sekitar tahun 667 SM dan nama Bizantinum diambil dari nama Raja mereka pada saat itu yaitu Byzas atau Byzantas dalam bahasa Yunani: Βύζας atau Βύζαντας. Nama "Byzantium" merupakan Latinisasi dari nama asli kota tersebut Byzantion yang kemudian menjadi wilayah pusat Kekaisaran Byzantium.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang sejarah kerajaan Bizantinum mari kita bahas bersama Lets Go......

Asal Mula Terbentuknya Kerajaan Bizantinum


Pada bulan Oktober tahun 312, Raja Constantine 1 mengambil alih kekuasaan dari kerajaan Romawi setelah memenangkan peperangan di Jembatan Milvian. Naiknya Constantine sebagai raja Romawi membawa sejumlah perubahan penting di kerajaan Romawi yang nantinya menjadi dasar lahirnya kerajaan Byzantine.

Perubahan yang paling signifikan adalah kemunculan Kristen sebagai agama negara dan pembuatan Konstantinopel sebagai pusat kehidupan baru dari kerajaan. Theodisius I kemudian menjabat sebagai raja Romawi setelah kematian Constantine. Raja Theodisius menjadi satu-satunya penguasa kerajaan Romawi sebelum akhirnya terpecah menjadi Romawi Barat dan Romawi Timur.

Romawi Barat akhirnya mengalamai sebuah keruntuhan setelah berjalan satu abad, sementara Romawi Timur terus berkembang hingga akhirnya kita kenal dengan nama Bizantium. Kerajaan Bizantium terus mengalami perkembangan pada saat Justinian I menjadi raja yang berkuasa pada tahun 527. Hanya lima tahun setelah ia berkuasa, Konstantinopel diserang oleh pemberontak Nika.

Pemberontakan tersebut mengakibatkan Konstantinopel menjadi terpecah menjadi dua bagian wilayah yang saling berusaha untuk merebut kekuasaan di kota ini. Upaya pemusnahan pemberontak tersebut justru menjadi situasi yang menguntungkan bagi Justinian I. Gereja Hagia Sophia, yang dihancurkan pemberontak, dibangun kembali menjadi katedral yang baru dan jauh lebih megah. Dengan pembangunan sebuah katedral yang sangat indah, Justinian berusaha memperluas wilayah kekuasaan kerajaannya. Ia mengambil kembali wilayah Afrika Utara, Italia, dan beberapa wilayah Eropa Barat.

Pada masa pemerintahannya, Justinian berhasil membangkitkan berbagai pencapaian intelektual yang sempat terhambat sebelumnya seperti Seni dan literatur berkembang begitu pesat pada masa pemerintahannya. Para pegawainya berhasil merumuskan hukum Romawi yang menjadi dasar dari sistem hukum yang kebanyakan berlaku di Eropa hingga saat ini.

Sekitar pada tahun 541-542, sebuah wabah menyebar di kerajaan Bizantium. Wabah ini sampai melanda pihak kerajaan, meski raja Justinian yang berkuasa pada saat itu masih tetap bertahan hidup. Menurut para sejarawan, wabah ini menewaskan sepertiga dari populasi Konstantinopel. Dampak dari wabah ini semakin menguat seiring dengan kondisi cuaca yang semakin dingin sehingga membuat terjadinya kekurangan pasokan makanan.

Beberapa riset memperkirakan bahwa kondisi ini terjadi diakibatkan melintasnya komet Halley pada tahun 536 hingga menutupi beberapa wilayah permukaan bumi, sehingga membuat temperatur di wilayah Bizantinum menurun. Selain itu ada juga faktor erupsi vulkanis gunung El Salvador.

Masa Kemunduran (Dark Age)

Beberapa abad setelah kematian raja Justinian I, kerajaan Bizantium memasuki “Dark Age”, dan kerajaan sepertinya ditimpa kesialan yang terus menerus. Pada saat memasuki abad ke 7, wilayah bagian barat yang telah ditaklukkan oleh Justinian I mulai terlepas satu per satu. Italia dikuasai Lombard, Gaul diperintah Frankish, dan bagian pantai dari Spanyol direbut oleh kerajaan Visigoth.

Selain itu, sepanjang tahun 630 sampai 660, wilayah timur dari kerajaan Bizantinum termasuk Mesir direbut oleh bangsa Arab. Kondisi kerajaan Bizantium menjadi semakin memburuk. Bangsa Arab terus menerus menekan wilayah kekuasaan Bizantium,dan juga diikuti perlawanan bangsa Slavia, dan orang-orang dari Eropa Tengah yang masuk ke dalam wilayah Balkan.

Pada akhir abad ke 7, berbagai kota yang telah di kuasai oleh Bizantium telah banyak kehilangan identitas sosial dan budaya. Meski konstantinopel masih  kokoh bertahan, kota tersebut telah banyak mengalami penurunan dibanding sebelumnya.

Kerajaan Bizantinum ini tidak pernah kembali ke masa kejayaannya saat diperintah oleh Justinian I. Akan tetapi, situasi militer di kerajaan Bizantium menjadi stabil pada saat memasuki abad ke 9. Pada abad ke 11, Bizantium merebut kembali sejumlah wilayah yang sebelumnya lepas dari kekuasaannya. Memasuki 1025, Bizantium menjadi kekuatan dominan di wilayah Balkan dan Timur Tengah.

Bizantium masih terus berusaha mempertahankan momentum kebangkitan. Ada begitu banyak nomaden yang memasuki wilayah Turki dan sekitarnya, begitu juga wilayah Italia yang mulai diramaikan bangsa Normandi. Pada tahun 1203, sekelompok pasukan perang salib mencari uang untuk membiayai ekspedisi mereka ke Mesir dan mendapat ajakan Pangeran Alexius Angelos dari Bizantium yang mengundang mereka menuju Konstantinopel sebelum berangkat ke Mesir.

Mereka diminta untuk membantu Pangeran ini memperoleh Konstantinopel untuk bayaran sekitar 200.000 marks, mendapat pasokan yang mereka butuhkan, dan menyediakan 10.000 prajurit.

Saat itu, militer Bizantium sedang dalam kondisi terburuk. Kematian raja Comnesus membuat perebutan kekuasaan dan kudeta berlangsung secara terus menerus.

Saat pasukan perang salib telah berhasil menguasai Konstantinopel pada 1204, mereka menurunkan raja saat itu dan memberikan tahta kekuasaan kepada penguasa “Latin” dari barat. Penguasa tersebut tetap bertahan hingga akhirnya jenderal dari Mesir bernama Michael Palaeologus kembali merebut Konstantinopel dan menjadi raja bernama Michael VIII.

Kehancuran kerajaan Bizantinum

Situasi di kerajaan Bizantium semakin memburuk ketika perang sipil berlangsung setelah kematian Andronikos III. Perang sipil ini berlangsung selama 6 tahun dan akhirnya menghancurkan kerajaan tersebut. Disaat tengah berlangsungnya perang sipil, penguasa Serbia Stefan IV Dushan mengambil alih sebagian wilayah kekuasaan Bizantium. Wilayah tersebut disatukan dalam kekuasaan kerajaan Serbia.

Kondisi kerajaan Bizantium diperburuk dengan munculnya dinasti Ottoman yang muncul sebagai kekuatan baru di Eropa. Kerajaan Ottoman berhasil mengalahkan kerajaan Serbia dan menguasai seisi wilayah Balkan.

Kedaan tersebut membuat kerajaan Bizantium terkepung dan akhirnya mereka mencari bala bantuan dari kerajaan penguasa wilayah Eropa barat, sembari mereka berupaya untuk menyatukan kembali Gereja Ortodoks di Timur dengan Katolik Roma. Ajakan penyatuan ini dipertimbangkan oleh pihak Katolik Roma dan disampaikan lewat dekrit raja di Ottoman, akan tetapi, penduduk kota dan pendeta Kristen Ortodoks menolak kebijakan ini.

Menghadapi ancaman dari Dinasti Ottoman, kerajaan Bizantium  akhirnya mendapatkan bantuan dari pasukan katolik Roma untuk melindungi Konstantinopel. Akan tetapi, pada akhirnya, para pasukan ini sibuk dengan urusannya masing-masing dan tidak berbuat apa-apa untuk melindungi wilayah Bizantium.

Saat menghadapi ancaman Dinasti Ottoman, Konstantinopel sedang kekurangan penduduk dan mengalami kebobrokan. Populasi di wilayah Konstantinopel berkurang drastis sehingga lebih terlihat seperti wilayah pedesaan yang punya banyak lahan kosong. Pada tahun 1453, pasukan Sultan Mehmed yang berjumlah 80.000 orang dan  tiba dan mengepung kota Konstantinopel tersebut.

Kerajaan Bizantium tidak tinggal diam, mereka melakukan peperangan dengan membuat parit pertahanan di pinggiran kota Konstantinopel . Namun pasukan Ottoman akhirnya berhasil merebut Konstantinopel dari kerajaan Bizantium setelah pertempuran selama 2 bulan.

Dengan jatuhnya kota Konstantinopel dibawah kekuasaan Ottoman, wilayah kerajaan Bizantium yang tersisa tinggal Despotate yang terletak di daerah Yunani. Wilayah ini kemudian menjadi negara merdeka dengan membayar pajak tahunan kepada kerajaan Ottoman. Pada taun 1460, karena berbagai ketidakmampuan negara tersebut, wilayah Deapotate tersebut akhirnya dikuasai Dinasti Ottoman sekaligus menjadi akhir dari sejarah Kerajaan Bizantium.

Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang  Sejarah Bangsa Funisia penjelajah yang tangguh dalam segala medan Semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel