Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Sejarah Lengkap Kerajaan Solo

Sejarah Keraton Solo Lengkap, Silsilah Raja-raja Keraton Solo dari Masa kemasa


Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Selamat Pagi, Selamat Siang, dan Selamat Malam buat kalian semua....

Kali ini kita akan membahas tentang Kerajaan atau Keraton Solo, Keraton Solo atau dikenal juga dengan sebutan Keraton Surakarta adalah salah satu tempat yang sangat bersejarah yang ada di Kota Solo. Keraton Solo ini yang juga sering di sebut dengan nama Keraton Surakarta Hadiningrat yang dikarenakan sejak dahulu hingga sekarang  ini Keraton Surakarta merupakan tempat tinggal bagi sunan dan keluarga istana yang masih melestarikan adat istiadat dan budaya kerajaan.

Oke untuk pembahasan lebih lanjut tentang sejarah kerajaan Solo mari kita bahas bersama Lets Go...... 

Kasunanan Surakarta Hadiningrat
 
Keraton Surakarta
Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah sebuah kerajaan yang wilayahnya terletak di daerah Jawa Tengah yang telah berdiri pada tahun 1755 sebagai hasil dari perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Perjanjian Giyanti adalah sebuah perjanjian yang dilakukan antara pihak VOC dengan pihak-pihak yang bersengketa di Kesultanan Mataram, yaitu Sunan Pakubuwana III dan Pangeran Mangkubumi, dari perjanjian Gianti ini telah disepakati bahwa Kesultanan Mataram dibagi menjadi dua wilayah bagian kekuasaan yaitu Surakarta dan Yogyakarta.

Kasunanan Surakarta pada umumnya tidak dianggap sebagai pengganti atau penerus dari Kesultanan Mataram, tetapi Kasunanan Surakarta adalah sebuah kerajaan yang berdiri sendiri, walaupun yang menjadi raja di Kasunanan Surakarta masih dalam keturunan raja dari kerajaan Mataram. Voc atau Pemerintah Hindia Belanda selau membuat perjanjian politik yang di tandatangani oleh setiap raja daro kasunanan Surakarta yang memiliki gelar Sunan, dan demikian pula dengan raja-raja dari kasultanan  Yogyakarta yang bergelar Sultan.

Sejarah Keraton Surakarta

Keraton Surakarta
Pemberontakan yang diprakarsai oleh Trunajaya pada sekitar tahun 1677 mengakibatkan runtuhnya Kesultanan Mataram dan sunan Amral ibukotahnya di daerah kartasura. kesultanan mataram juga mendapat Gempuran dari orang – orang tiong hoa dan di bantu oleh masyarakat jawa yang dikarenakan masyarakat jawa tidak menyukai sikap keberpihakan kesultanan Mataram kepada pihak VOC yang pada masa itu dipimpin oleh Pakubuana II tahun 1742.

Setelah terjadi pemberontakan dan penyerangan tersebut Kerajaan Mataram yang berpusat di Kartasura itu mengalami keruntuhannya, dan beberapa tahun kemudian kota Kartasura juga berhasil direbut kembali berkat bantuan dari Adipati Cakraningrat IV yang merupakan seorang penguasa di Madura barat yang menjadi sekutu VOC, namun keadaan kesultanan Mataram sudah rusak parah.

Sunan Pakubuwana II kemudian memutuskan untuk menyingkir ke daerah Ponorogo dan membagun sebuah istana kerajaan baru yang terletak di desa Sala yang akan digunankan sebagai ibukota kerajaan Mataram yang baru. Sunan Pakubuwana II kemudian memerintahkan Tumenggung Honggowongso yang dikenal dengan nama kecilnya Joko Sangrib atau Kentol Surawijaya, memiliki gelar sebagai Tumenggung Arungbinang I, Ia bersama dengan Tumenggung Mangkuyudha, serta komandan pasukan dari bangasa Belanda yang di pimpin oleh J.A.B. van Hohendorff, untuk mencari lokasi ibu kota/keraton yang baru.

Setelah menemukan lokasi yang cocok maka pada tahun 1745 dibangunlah keraton baru 20 km ke arah tenggara dari Kartasura, yang terletak di Desa Sala di tepi sungai Bengawan Solo. Sunan Pakubuwono II membeli tanah warga seharga selaksa keping emas yang diberikan kepada lurah atau seorang kepala Desa Sala yang dikenal sebagai Ki Gede Sala guna membangun keraton, akan tetapi Ki Gede Sala wafat disaat pertengahan pembangunan keraton dan dimakamkan di area kraton.

Pusat ibukota yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan ini diberi nama "Surakarta" diberikan sebagai nama "wisuda". menurut catatan pembangunan keraton ini menggunakan bahan kayu dari kayu jati yang di ambil dari kawasan Alas Kethu yang terletak di dekat Wonogiri dan kayunya dihanyutkan melalui jalur air dari sungai Bengawan Solo.

Secara resmi pada tanggal 17 Februari 1745 keraton ini mulai ditempati dan dilakukanya sebuah perjanjian yang dikenal dengan Perjanjian Giyanti yang dilakukan pada 13 Februari 1755 perjanjian Gianti ini menyebabkan Surakarta menjadi pusat pemerintahan Kasunanan Surakarta, yang dipimpin oleh Pakubuwana III. Sedangkan di daerah Yogyakarta menjadi sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Yogyakarta yang dipimpin oleh Hamengkubuwana I.

Sekitar pada tahun 1755 Keraton dan kota Yogyakarta mulai dibangun, dengan menggunakan tata letak kota yang sama dengan Surakarta yang telah terlebih dahulu diirikan. Pada tahun 1757 dilakukannya Perjanjian Salatiga yang menyebabkan mempersempit wilayah Kasunanan , dikarenakan wilayah sebelah utara keraton diberikan kepada pihak Pangeran Sambernyawa atau Mangkunagara I.

Pada tahun 1746 adik dari Pakubuwana II  yang bernama pangeran mangkubumi, meninggalkan keraton untuk bergabung dengan Raden Mas Said untuk melakukan pemberontakan besar-besaran kepada Kerajaan Mataram yang saat itu berpusat di Surakarta sebagai ibukota pemerintahan.

Di waktu peperangan sedang bergemuruh,  pada tahun 1748 Pakubuana II meninggal karena sakit yang dia derita. namun pada saat sebelum meninggalnya Pakubuana II sempat menyerahkan wilayah kedaulatan kekuasaannya kepada VOC, yang dimana BaronVan Hohendorff sebagai perwakilannya. Sejak saat itu, VOC lah yang dianggap mempunyai kewenangan untuk melantik raja-raja dari keturunan kerajaan Mataram.

Perjanjian Giyanti dan Salatiga

Tanta tangan Perjanjian Giyanti dan Salatiga
Pada saat itu VOC atau Pemerintahan Hindia Belanda mengalami sebuah kebangkrutan dan kemudian membujuk Pangeran mangkubumi untuk berdamai dan bersatu untuk melawan pemberontak Raden Mas Said yang enggan untuk berdamai pada tanggal 13 Februarai 1755, yang pada awalnya Pengeran Mangkubumi bersekutu dengan Raden Mas Said.

Perjanjian Giyanti yang telah di sepakati dan ditandatangani oleh Mangkibumi, Pakubuwana III dan Belanda, melahirkan dua kerajaan baru yaitu Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan  Surakarta Hadiningrat.

Raja dari Kasunanan Surakarta menjadi sebagai penguasa di separuh wilayah bagian dari kerajaan Mataram, dan mengambil gelar Sunan Pakubuwana sedangkan Pangeran Mangkubumi mengambil gelar Sultan Hamengkubuwono. Waktu pun terus berjalan negeri Mataram yang dpimpin oleh pakubuwana lebih dikenal dengan nama Kasunanan Surakarta, sedangkan negri Mataram yang dipimpin oleh Hamengkubuwono kemudian lebih dikenal dengan nama Kasultanan Yogyakarta.

Perjanjian Salatiga yang dilakukan pada tanggal 17 Maret 1757 mengakibatkan wilayah dari Kasunanan Surakarta semakin mengecil, karena diakuinya Raden Mas Said sebagai seorang pangeran merdeka dengan wilayah kekuasaannya yang berstatus sebagai kadipaten, yang di sebut dengan jullukan Praja Mangkunegara.

Raden Mas Said yang menjabat sebagai penguasa yang bergelar Adipati Mangkunegara. Pada tahun 1830 pada saat selesainya peperangan Diponegoro , wilayah Keraton Surakarta kembali berkurang lebih jauh lagi, dimana daerah-daerah mancanegara diserahkan kepada Belanda, sebagai ganti rugi karena biaya peperangan.

Silsila Raja Keraton Solo

Pakubuwono X
Paku Buwono 1 : Pangeran Puger / Raden Mas Drajat

Paku Buwono kesatu mempunyai nama asli Pangeran Puger yang juga dikenal dengan nama Raden Mas Drajat. Dia merupakan seorang putra dari sunan Amangkurat ke satu, yang merupakan raja terakhir di Kesultanan Mataram.

Dalam sejarah tercatat perjalanan Paku Buwono sebelum menjadi raja, dia pernah diangkat menjadi adipati anom atau disebut sebagai putra mahkota pada saat ada perselisihan diantara Amangkurat 1 dengan mas Rahmat yang merupakan kakak tiri dari Paku Buwono yang lahir dari Permaisuri pertama yang bernama Ratu Kulon. Tetapi karena ada pemberontakan Trunajaya yang terjadi pada tahun 1674, dengan terpaksa Amangkurat 1 menarik kembali jabatan tersebut dari tangan Paku Buwono yang pada saat itu Mas Darajat.

Waktupun tersus berjalan dan dengan adanya permasalahan di Kasunanan Mataram, Mas Darajat atau disebut juga Pangeran Pager kemudian melarikan diri ke Semarang. Dan disitulah Pangeran Puger kemudian menjalin hubungan dengan VOC. Dengan hubungan diplomatis dengan pihak Hindia Belanda atau VOC, Pangeran pager mendapatkan bantuan dari VOC dari semarang, madura bagian barat, dan dari Surabaya bergerak menyerang Kartasura. Sehingga pada tanggal 17 September 1705 Paku Buwono 1 berhasil meruntuhakan dan menduduki tahkta Kartasura.

Paku Buwono ke 2 : Raden Mas Prabasuyasa

Silsilah keraton Solo yang ke dua adalah Raden Mas Prabasuyasa. Mas Prabasuyasa pada tanggal 15 Agustus 1726 naik tahta menjadi Paku Buwana ke 2 pada saat itu usianya 15 tahun. Karena usia yang masih terlalu muda, beberapa tokoh istana berusaha bersaing untuk dapat menguasainya. Pada saat kepemimpinan Raden Mas Prabasuyasa atau Paku Buwono ke  2, para pejabat istana Kartasura pada saat itu terbagi menjadi 2 kelompok.

Kedua kelompok tersebut yaitu golongan yang mempunyai kedekatan dengan VOC yang dipelopori oleh Ratu Amangkurat yang merupkan ibu suri dari Raden Mas Prabasuyasa, dan golongan satunya yang anti VOC dipelopori oleh Patih Cakrajaya. Hubungan Voc dengan Pakubuwana II memang pada saat itu masih berjalan dengan cukup baik. Bahkan Pakubuwono dua masih rajin mengangsur hutang-hutangnya kepada VOC dikarenakan pada saat awal Paku Buwono ke 1 dibantu berperang merebut Tahkta kerajaan Kartasura.

Karena terpecahnya kedua kelompok yang saling bertentangan, maka tidak bisa dipungkiri sering terjadi berbagai peperangan. Sehingga menyebabkan istana di Kartasura semakin hancur. Dengan keadaan tersebut, Paku Buwono ke 2 ini berupaya membangun istana kembali di daerah Sala di tepi sungai Bengawan Solo pada tahun 1745. Sampai saat ini istana tersebut dinamai sebagai Kraton Solo, dan Raden Mas Prabasuyasa juga dijuluki sebagai raja Keraton Solo yang pertama.

Paku Buwono ke 3 : Raden Mas Suryadi

Sri Susuhunan Pakubuwana III memiliki nama asli Raden Mas Suryadi yang merupakan putra  dari  Pakubuwana II. Raden Mas Suryadi adalah raja ketiga di silsilah keraton Solo yang telah menandatangani Perjanjian Giyanti. Perjanjian tersebut ditandatangani bersama pamannya, yang bernama Pangeran Mangkubumi dan pihak VOC Hindia Belanda. Raja kedua yaitu Raden Mas Suryadi sungguh mengalami cobaan yang berat pada saat dia memerintah Keraton Solo, seperti trjadinya perang saudara dan berbagai kekacauan dari dalam istana dan luar istana yang terus-menerus terjadi hingga sampai wafatnya pada tahun 1788.

Paku Buwono ke 4 : Raden Mas Subadya

Raden Mas Subadya adalah Putera mahkota yang di tunjuk untuk menggantikan kedudukan Raja Pakubuwono ke 3 yang naik tahta tanggal 29 September 1788 . Raden Mas Subadya merupakan raja yang cerdas, taat beragama, tegas, dan pemberani. Karakternya sangatlah berbeda dengan karakter ayahnya yang kurang cakap berbeda dengan ayah nya yang kurang cakap. Paku Buwono ke 4 merupakan serorang raja yang penganut ajaran agama islam yang taat beribadah, bahkan juga Raden Mas Subadya mengangkat para ulama menjadi pejabat kerajaan.

Paku Buwono ke 4 adalah raja yang penuh dengan cita-cita dia antara lain ia berupaya mempersatukan kembali kerajaan-kerajaan yang terpecah-pecah menjadi satu kedaulatan. Bahkan raja Paku Buwono ke 4 juga mempunyai jiwa sastra, salah satu buah karyanya berjudul Serat Wulangreh. akhir dari pemerintahan nya pada tahun 1820 tanggal 2 Oktober, Raden Mas Subadya meninggal.

Pakubuwana ke 5 : Raden Mas Sugandi

Pakubuwana V yang memiliki nama asli Raden Mas Sugandi juga dikenal dengan Sinuhun Ngabehi.Pada masa kepemimpinan Pakubuwana V hanya memiliki masa kekuasaan yang sangat pendek yaitu hanya selama 3 tahun saja. Pakubuwana V juga dijuluki sebagai sunan sugih yang berarti Raja yang kaya Karena harta yang dimilikinya begitu banyak, bahkan dia juga mempunyai banyak sekali ilmu-ilmu kesaktian. Serat Centini merupakan karya sastra yang di tulis oleh Paku Buwono ke 5 ini. Raden Mas Sugandi atau Paku Buwono ke V ini wafat pada tahun 1823 September 1823.

Pakubuwana ke 6 : Raden Mas Sapardan

Pakubuwana yang ke 6 adalah Raden Mas Sapardan. Raden Mas Sapardan adalah raja yang sangat menyukai bertapa. Hingga Raden Mas Sapardan sampai dijuluki sebagai Sinuhun BangunTapa. Raden Mas Sapardan diketahui mempunyai hubungan dengan pangeran Diponegoro, juga banyak berjasa membantunya melawan para penjajah. Lalu pada saat pangeran Diponegoro tertangkap oleh belanda, tidak lama kemudian Raden Mas Sapardan atau Paku Buwono ke 6 ini juga ikut ditangkap oleh belanda dan kemudian dibuang ke Ambon. Pada saat Raden Mas Sapardan berusia 42 tahun, beliau meninggal kerana dibunuh oleh Belanda. Maka sampai sekarang ini, Raden Mas Sapardan Pakubuwono VI menjadi pahlawan negara karena membantu melawan penjajah.

Pakubuwana ke 7 : Raden Mas Maliki Solikin

Pakubuwana VII adalah Raden Mas Maliki Solikin Dia adalah paman dari Pakubuwana ke 6. Karena pada saat Pakubuwana ke 6 ditangkap belanda, Raden Mas Maliki Solikin yang menggantikan tahta dari Keraton Solo. Pada saat pemerintahan Raden Mas Maliki Solikin, keadaan berlangsung aman dan tenteram. Dikarenakan Raden Mas Maliki Solikin tidak mempunyai keturunan, maka kepemimpinan selanjutnya di lanjutkan oleh kakak nya yang sudah cukup tua yaitu 69 tahun.

Pakubuwana ke 8 : Raden Mas Kusen

Pakubuwana ke VII bernama Raden Mas Kusen yang menggantikan jabatan Paku Buwono ke 7.Raden Mas Kusen adalah seorang raja yang mempunyai satu permaisuri saja tanpa ada selir-selir. Tidak seperti raja-raja  sebelumnya yang mempunyai banyak selir. Karena pada saat menjabat menjadi Paku Buwono ke 8 ini usia  Raden Mas Kusen sudah mancapai 69 tahun, maka masa pemerintahannya juga tak berlangsung lama.  Raden Mas Kusen hanya menjabat selama tiga tahun. Bahkan saat  Raden Mas Kusen wafat pun beliau tidak mempunyai seorang anak, sama seperti adiknya yang sebelumnya menjabat.

Paku buwana ke 9 : Raden Mas Duksino

Paku Buwono ke IX adalah Raden Mas Duksino yang merupakan anak dari Pakubuwono ke 6, yang menggantikan jabatan pakubuwono ke 8. Dia adalah anak dari pahlawan yang membantu Pangeran diponegoro melawan penjajah. Sebenarnya Raden Mas Duksino ini adalah seorang raja yang bijaksana dan adil. Tetapi karena para bangsawan yang menjabat di keraton Solo hanya mau mengambil keuntungan dari diri sendiri saja, maka tidak ada kemajuan dari pemerintahannya.

Pakubuwana 10 : Raden Mas Malikul Kusno

Paku Buwono ke X adalah Raden Mas Malikul Kusno yang memerintah Keraton Solo selama 46 tahun. Pada masa pemerintahan Raden Mas Malikul Kusno, Keraton Solo sudah memasuki era modern. Jadi tidak terjadi perang atau peristiwa tentang politik yang menggemparkan pada Keraton Solo. Malah pada masa Raden Mas Malikul Kusno banyak sekali dibangun infrastruktur seperti pasar, stasiun, stadion dan infrastruktur lainnya. Pada saat Raden Mas Malikul Kusno meninggal, Paku Buwono ke 10 ini mendapatkan gelar sunan Panutup yang berarti raja besar yang terakhir yang di gelari oleh rakyat sekitar Keraton Solo.

Pakubuwana ke 11 : Raden Mas Antasena

Paku Buwono ke X nama aslinya adalah Raden Mas Antasena yang merupakan penerus atau pewaris dari Paku buwono ke 10. Pada masa pemerintahan Raden Mas Antasena, keadaan sangat berbeda dengan pakubuwono yang sebelumnya yang tenang dan damai. Karena pada masa pemerintahan Raden Mas Antasena terjadi perang dunia ke dua. Bahkan saat beliau menjabat, negara indonesia ini sedang dijajah oleh bangsa jepang. Sehingga pada kepemimpinan Paku Buwono ke X lebih berat dibandingkan pemimpin Keraton Solo sebelumnya.

Pakubuwana 12 : Raden Mas Suryo Guritno

Pakubuwono ke XII adalah Raden Mas Suryo Guritno pada saat pemerintahannya, negara Indonesia masih dalam persiapan menuju kemerdekaan Indonesia. Sehingga saat Raden Mas Suryo Guritno menjabat, keadaan masih belum menguntungkan.

Jenazah Raden Mas Suryo Guritno dimakamkan di kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta pada Senin 14 Juni 2004. Yang dimakamkan di sebelah kanan pusara kakeknya Sunan Pakubuwono X di Pasarehan Agung Girimulyo.

Saat Raden Mas Suryo Guritno wafat, terjadi keributan di dalam istana Keraton Solo yang dikarenakan Paku Buwono ke 12 tidak mempunyai permaisuri yang sah maka terjadilah Perselisihan perebutan tahta antara Pangeran Hangabehi dengan Pangeran Tejo Wulan.Tetapi atas dasar mufakat dari seluruh anggota keluarga dari kerajaan, Pangeran Hangabehi lah yang di tunjuk menjadi Paku Buwono selanjutnya sedangkan Pangeran Tejo Wulan ditunjuk sebagai maha patih di keraton Solo.


Demikianlah pembahasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah lengkap Kerajaan Solo Semoga dapat bermanfaat.


BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

0 Response to "Sejarah Lengkap Kerajaan Solo"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel