Featured Post

Sejarah Lengkap Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalanya

Sejarah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Kehidupan Sosial, Politik dan Budaya, Nama Raja-raja Kerajaan Mataram Kuno Beserta Peninggalannya. ...

Peninggalan Kerajaan Melayu

Peninggalan Kerajaan Kutai Lengkap

Assalamu'alaikum Wr. Wb.....

Pada artikel kali ini akan membahasa tentang Peninggalan Kerajaan Melayu.

Peninggalan sejarah dari sebuah kerajaan sangatlah penting dikarenakan dapat di jadikan bukti bahwa kerajaan tersebut pernah ada, dan sebagai sumber informasi bagi para peneliti.

Kerajaan Melayu merupakan kerajaan yang bercorak Hindu-Budha dan merupakan kerajaan tertuah yang berada di pulau Sumatera Indonesia.

Menurut para pakar arkeologi dan sejarah kerajaan mengatakan bahwa Kerajaan Melayu ini lebih tua dari kerajaan Sriwijaya yang diperkirakan telah berkuasa pada sekitar awal abad ke 7 masehi.

Oke untuk membahasan lebih lanjut tentang peninggalan kerajaan melayu mari kita bahas bersama Lets Go......

Peninggalan kerajaa Melayu
Prasasti Masjustri
Peninggalan Kerajaan Melayu Berikut ini merupakan peninggalan-peningalan dari kerajaan melayu yang telah di temukan dan digunakan sebagai sumber informasi sejarah dan penelitian, dan beberapa peninggalan juga telah di pindahkan dan di simpan di musium.

1. Prasasti Padang Roco

Yang pertama adalah prasasi Padang Roco

Prasasti Padang Roco  ditemukan pada tahun 1911 di hulu sungai Batanghari, kompleks percandian Padangroco, nagari Siguntur, kecamatan Sitiung, kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.

Prasasti Padang Roco merupakan sebuah alas dari arca Amoghapāśa yang pada empat sisinya terdapat manuskrip. Prasasti Prasasti Padang Roco ini dipahatkan 4 baris tulisan dengan aksara Jawa Kuno, dan memakai dua bahasa Melayu Kuno dan Bahasa Sanskerta.

Prasasti Padang Roco ini berangka tahun 1208 Saka atau 1286 Masehi, dituliskan pada arca Amoghapāśa hadiah dari śrī mahārājādhirāja keṛtanagara wikrama dharmmottunggadewa raja dari kerajaan Singhasari di Jawa untuk rakyat dan Raja Kerajaan Melayu Dharmasraya di Sumatera.

Prasasti Padang Roco ini menceritakan bahwa pada tahun 1208 Saka, atas perintah raja Kertanegara dari Singhasari, sebuah arca Amoghapasalokeswara dipindahkan dari Bhumijawa ke Swarnabhumi untuk ditegakkan di Dharmasraya. Dengan hadiah ini diharapkan agar rakyat Swarnabhumi bergirang hati dan bersuka cita, terutama rajanya śrī mahārāja śrīmat tribhuwanarāja mauliwarmmadewa.

Prasasti Padang Roco memiliki 4 baris pahatan berupa tulisan Jawa Kuno yang menggunakan dua bahasa yaitu Bahasa Melayu Kuno dan Bahasa Sanskerta. Berikut adalah isi dari prasasti Padang Roco yang telah diterjemahkan oleh Prof. Slamet Muljana:

  • Bahagia ! Pada tahun Śaka 1208[2], bulan Bādrawāda, hari pertama bulan naik, hari Māwulu wāge, hari Kamis, Wuku Madaṇkungan, letak raja bintang di baratdaya ...
  • ...Tatkalai itulah arca paduka Amoghapāśa lokeśwara dengan empat belas pengikut serta tujuh ratna permata di bawa dari Bhūmi Jāwa ke Swarnnabhūmi, supaya ditegakkan di Dharmmāśraya,
  • sebagai hadiah Śrī Wiśwarūpa Kumāra. Untuk tujuan tersebut pāduka Śrī Mahārājādhirāja Kṛtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa memerintahkan rakryān mahā-mantri Dyah Adwayabrahma, rakryān śirīkan Dyah Sugatabrahma dan
  • samagat payānan hań Dīpankaradāsa, rakryān damun Pu Wīra untuk menghantarkan pāduka Amoghapāśa. Semoga hadiah itu membuat gembira segenap rakyat di Bhūmi Mālayu, termasuk brāhmaṇa, ksatrya, waiśa, sūdra dan terutama pusat segenap para āryya, Śrī Mahārāja Śrīmat Tribhuwanarāja Mauliwarmmadewa
 
Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.

 2. Prasasti Amoghapasa

Yang ke dua adalah prasasti Amoghapasa

Prasasti Amoghapasa yang merupakan pemberian dari raja kartanegara dari kerajaan singasari kepada raja Tribhuawana dari kerrajaan Melayu di Dharmasraya pada tahun 1208 atau 1286 masehi. Dalam prasasti Amoghapasa ini tertulis bahwa sekitar abad ke 13 Dharmasraya berada di bawah kerkuasaan kerajaan Melayu.

Adityawarman menambahkan aksara yang dituliskan dalam bahasa sansekerta pada bagian belakang prasasti yang telah diperkirakan dilakukan pada tahun 1347. Tata bahasa dari pahatan manuskrip ini tidak terstruktur dan sangat sulit untuk di terjemahkan dengan benar diperkirakan berisi kata pujian kepada Raja Adityawarman.

Prasasti Amoghapasa ini ditemukan secara terpisah menjadi bagian alas dan bagian arca , akan tetapi aslinya kedua bagian ini merupakan satu kesatuan yang dikirim dari Jawa oleh Kertanegara.

Bagian arca ditemukan sekitar tahun 1880-an di daerah Situs Rambahan yang terletak dekat sungai Langsat, sekitar 10 kilometer arah ke hulu sungai Batanghari. Sedangkan bagian alas yang disebut Prasasti Padang Roco ditemukan kemudian pada tahun 1911 di kompleks percandian Padang Roco.

Kini kedua bagian itu bersatu kembali, arca Amoghapasa dan alasnya disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.

3. Prasasti Manjustri

Yang ke tiga adalah Prasasti Manjusri

Prasasti Manjusri merupakan manuskrip yang dipahatkan pada bagian belakang Arca Manjusri, bertarikh 1343, pada awalnya ditempatkan di Candi Jago (sekarang tersimpan di Museum Nasional.

Candi Jago atau Candi Tumpang atau Candi Jinalaya merupakan tempat asalnya patung Manjusri ini. Candi tersebut mula-mula didirikan atas perintah raja Kertanagara untuk menghormati ayahandanya, raja Wisnuwardhana yang mangkat pada tahun 1268.

Asal usul Prasasti Manjustri Berdasarkan menurut tafsiran Bosch dari tulisan pada prasasti tersebut, kemungkinan Adityawarman mendirikan candi tambahan di lapangan Candi Jago tersebut, atau mungkin pula candi yang didirikan pada tahun 1280 sudah runtuh dan digantikan dengan candi baru.

Namu karena tidak adanya sisa-sisa bangunan besar di samping Candi Jago yang sekarang, sehingga menunjukkan penjelasan yang kedua lebih masuk akal. Hal ini didukung pula oleh gaya relief dan ukiran pada candi tersebut, menurut analisis Stutterheim, membuktikan bahwa candi yang sekarang ini lebih baru daripada abad ke-13.

Karakter Prasasti Manjusri dianggap sebagai personifikasi dari kebijaksanaan transenden. Dia duduk di atas takhta berhiasan teratai yang gemerlapan, pada tangan kirinya ia memegang sebuah buku yang merupakan sebuah naskah dari pohon palem, tangan kanannya memegang pedang yang bermakna untuk melawan kegelapan, dan pada dadanya dilingkari tali. Ia juga dikelilingi oleh empat dewa, yang semuanya bermakna replika dirinya sendiri.

Berikut merupakan isi dari Prasasti Manjustri yang telah di terjemahkan.

Dalam kerajaan yang dikuasai oleh Ibu Yang Mulia Rajapatni maka Adityawarman itu, yang berasal dari keluarganya, yang berakal murni dan bertindak selaku menteri wreddaraja, telah mendirikan di pulau Jawa, di dalam Jinalayapura, sebuah candi yang ajaib- dengan harapan agar dapat membimbing ibunya, ayahnya dan sahabatnya ke kenikmatan Nirwana.

4. Prasasti Kedukan Bukit

Yang ke empat adalah prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit ini ditemukan oleh M. Batenburg pada tanggal 29 November 1920 di Kampung Kedukan Bukit, Kelurahan 35 Ilir, Palembang, Sumatera Selatan, di tepi Sungai Tatang yang mengalir ke Sungai Musi. Prasasti ini berbentuk batu kecil berukuran 45 × 80 cm, ditulis dalam aksara Pallawa, menggunakan bahasa Melayu Kuno.

Prasasti Kedukan Bukit ini menceritakan tentang penundukan Kerajaan Melayu oleh Sriwijaya Ketika pertangahan abad kesebelas Kerajaan Sriwijaya mulai lemah akibat serbutan dahsyat Colamandala, negeri Malayu memanfaatkan kesempatan untuk bangkit kembali.

Sebuah prasasti yang ditemukan di Srilanka menyebukan, bahwa pada zaman pemerintahan Vijayabahu di Srilangka (1055 – 1100), Pangeran Suryanarayana di Malayaprua (Sumatera). Hal ini menunjukkan bahwa pada pertengahan abad kesebelas, negeri Malayu – Jambi telah berhasil memerdekakan dirinya dari kekuasaan Sriwijaya.

Berikut merupakan isi dari Prasasti Kedukan Bukit:

  1. svasti śrī śakavaŕşātīta 605 (604 ?) ekādaśī śukl
  2. apakşa vulan vaiśākha dapunta hiya<m> nāyik disā
  3. mvau mangalap siddhayātra di saptamī śuklapakşavulan 
  4. jyeşţha dapunta hiya<m> maŕlapas dari minānga 
  5. tāmvan mamāva yamvala dualakşa dangan ko-(
  6. sa)duaratus cāra di sāmvau dangan jālan sariv
  7. utlurātus sapulu dua vañakña dātamdi mata 
  8. japsukhacitta di pañcamī śuklapakşa 
  9. vula<n>...laghu mudita dātam marvuat
  10.  vanua...śrīvijaya jaya siddhayātra subhikşa..

yang telah di terjemahkan sebagai berikut:

  1.     Selamat ! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari ke sebelas
  2.     paro-terang bulan Waiśakha Dapunta Hiyang naik di
  3.     sampan mengambil siddhayātra. di hari ke tujuh paro-terang
  4.     bulan Jyestha Dapunta Hiyang berlepas dari Minanga
  5.     tambahan membawa bala tentara dua laksa dengan perbekalan
  6.     dua ratus cara (peti) di sampan dengan berjalan seribu
  7.     tiga ratus dua belas banyaknya datang di mata jap (Mukha Upang)
  8.     sukacita. di hari ke lima paro-terang bulan....(Asada)
  9.     lega gembira datang membuat wanua....
  10.     Śrīwijaya jaya, siddhayātra sempurna....

Sekarang Prasasti Kedukan Buki ini telah di simpan di Musium Nasional Jakarta.

5. Kitab Negara Kertagama dan Pararaton

Yang ke lima adalah Kitab Negara Kertagama dan Pararaton memberitakan bahwa pada tahun 1275 masa pemerintahan Sri Kertanegara dikirim ekspedisi dari Singosari ke Swarnabumi yang disebut Pamalayu. Dalam Kertagama Pupuh XLI/5 diuraikan dengan jelas tentang pengiriman tentara Singosari ke Melayu itu. Untuk menghadapi perluasan kekuasaan bangsa Mongol, sebagai persahabatan, maka raja Kertanegara mengirimkan sebuah arca Amoghapasa yang merupakan hadiah dari raja Kertanegara untuk Sri Maharaja Mauliwarmadewa. Patung ini ditempatkan di tempat suci Dharmasraya.

Demikianlah penjelasan dari artikel yang berjudul tentang Sejarah Kerajaan Kutai Semoga dapat bermanfaat.

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA-JASA PAHLAWANNYA.

0 Response to "Peninggalan Kerajaan Melayu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel